“Mampus kau dikoyak-koyak panai’,” ucapnya dengan mengubah beberapa lirik dari penggalan sajak Chairil Anwar berjudul Sia-Sia.

Fajar, seorang lelaki asal Madura itu menertawai dirinya sendiri, atau sebenarnya menertawai kenyataan yang baru saja didengarnya. Dia baru saja bertemu dengan perempuan Sulawesi dan tercengang mengetahui fakta perihal panai’. 

Bagi orang Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan yang bersuku Bugis-Makassar, fakta tentang uang panai’ tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dikeluhkan. Yang lebih penting adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bisa menjalankan budaya tersebut. 

Pihak laki-laki berusaha sekuat tenaga mencari rezeki untuk dapat menikahi yang dicintainya. Pihak perempuan siap menunggu dan bertahan pada ia yang sedang berjuang. Keduanya mendapat ujian sebagai ‘syarat’ menuju jenjang pernikahan.

Tulisan-tulisan yang membahas uang panai’ sudah banyak dipublikasikan sebelum saya kembali mengangkat isu ini. Pembahasan perihal panai’ tak ada habisnya, terlebih lagi akhir-akhir ini beberapa kejadian pingsan di acara pesta pengantin berturut-turut terjadi.

Entah pihak pengantin yang harus tumbang mendapati dirinya bersanding dengan orang lain, entah pihak tamu yang tak kuat melihat yang pernah—dan bisa jadi masih—dicintainya, nyatanya kini sedang duduk di pelaminan dengan wajah berseri. Segalanya bisa menjadi alasan. Tapi satu faktor yang sering kali menjadi penyebab kandasnya hubungan ini adalah uang panai’. 

Ada ekspresi bertanya-tanya di wajah Fajar saat saya mulai menceritakan tetek bengek yang mesti ditanggung mempelai lelaki bila hendak menikahi perempuan Bugis-Makassar. Uang panai’ adalah hal pasti.

Hal lainnya yang juga hampir pasti adalah tanggungan bahan pokok berupa beberapa karung gula pasir juga terigu untuk digunakan membuat kue. Belum termasuk erang-erang saat pesta pernikahan. Dan iya, juga belum termasuk biaya pesta bila pihak lelaki berniat menggelarnya.

“Berarti semua lelaki Bugis kaya-kaya, dong?”

Bila semua lelaki Bugis-Makassar adalah orang yang kaya, maka uang panai’ tidak akan pernah menjadi penghambat. Kenyataannya, untuk memenuhi uang panai’ ini, tidak sedikit yang rela menjual tanahnya. 

Bahkan sudah menjadi kebiasaan bagi sejumlah orangtua dengan sengaja menyimpan beberapa hektare tanah untuk digunakan anak lelakinya melamar perempuan yang akan dinikahi kelak. Namun, bagi mereka yang tidak punya tanah berlebih, meminjam uang kepada keluarga terdekat adalah pilihan selanjutnya.

Hal inilah yang saya tegaskan kepada Fajar bahwa, di satu sisi, uang panai’ itu sudah dianggap sebagai budaya, yang dalam tulisan Rahayu (2015) termasuk dalam kategori siri’ yang mengandung nilai malu dan harga diri. Namun, di sisi lain, kewajiban memberikan sejumlah uang kepada mempelai perempuan untuk biaya pesta, kenyataannya tidak sedikit yang membawa kesulitan usai acara digelar. 

Sebab orientasi uang panai’ itu hanya sebatas acara pesta, sementara kehidupan selanjutnya justru akan lebih panjang dan banyak tantangannya. Maka, apabila harta benda sudah habis digunakan dalam menggelar pesta, besok dan lusa pasangan pengantin akan makan apa? Menurut saya, perenungan mengenai hal ini juga perlu dilakukan.

“Di Madura, khususnya di kampung saya, ada istilah urunan. Bila saya menikah, tetangga akan menyumbang hal-hal yang dibutuhkan untuk pesta. Begitu pun saat mereka yang hendak menggelar pesta, maka gantian kami yang menyumbangkan beberapa keperluannya.”

Tapi Madura bukanlah Sulawesi dan karenanyalah yang membuat Indonesia lebih unik. Kekayaan budayanya tidak lagi terhitung hanya dengan menggoyangkan jari tangan. Madura dengan tradisi urunannya, Sulawesi dengan budaya panai’-nya, atau Padang dengan adat bajapuik-nya.

Beda Mahar dengan Panai’

“Itu bukan mahar?”

Perilisan film Uang Panai’ Maha(l)r pada tahun 2016 lalu memang menjadi ambigu bila hanya melihat dari judul. Judulnya memberikan indikasi bahwa mahar adalah panai’ itu sendiri. Pada kenyataannya tidak demikian dan barangkali hal ini yang perlu diketahui secara luas. 

Dalam film Uang Panai’ Maha(l)r, ada adegan di mana hal ini dijelaskan. Namun itu tidaklah cukup. Sebab tidak semua orang yang pernah mendengar film Uang Panai’ Maha(l)r kemudian meluangkan waktu untuk menontonnya. Sebagian mereka hanya berhenti pada judulnya saja kemudian mengambil kesimpulan.

Saya menjelaskan hal ini pada Fajar yang memang terlihat begitu antusias ingin mengetahui lebih banyak tentang budaya panai’ ini. Bahwa di suku Bugis-Makassar, perbincangan mengenai uang panai’ lebih penting daripada mempertanyakan sompa (mahar) yang diberikan. Bukan berarti bahwa sompa itu tidak ada, hanya saja tidak menarik untuk diperbincangkan.

Sompa dalam suku Bugis-Makassar sering kali diberikan dalam bentuk sebidang tanah atau benda berharga seperti cincin atau kalung emas, dan juga yang beberapa kali terjadi. Bagi alumni pesantren yang seorang hafiz, memberikan sompa berupa hafalan Alquran.

Lelaki Madura di Hadapan Panai’

“Di hadapan panai’, saya lemah.”

Hal yang menarik sebelum perbincangan dengan Fajar berakhir di warung kopi malam itu adalah kalimatnya yang mengatakan bahwa kini ia mulai mengerti bila perempuan Bugis-Makassar terlihat mata duitan. Bukan karena mereka benar-benar mata duitan dan menuntut syarat calon suaminya harus kaya, tetapi, sebelum bersama menempuh biduk rumah tangga, lelaki harus siap menghadapi tuntutan uang panai’ yang bila dihitung cukup untuk membeli dua sampai tiga motor matic. 

Karena akhirnya paham, Fajar menggumamkan dirinya lemah di hadapan panai’.