Perebut lelaki orang atau yang istilahnya dikenal dengan sebutan ‘pelakor’ atau kata lainnya adalah orang ketiga dalam sebuah hubungan rumah tangga bahkan berpacaran. Orang ketiga itu ‘setan’ katanya, saat ini menjadi buah bibir yang marak diperbincangan pada khalayak.  Berbicara mengenai pelakor, saya akan mengajak teman-teman untuk bermain di dalam pemikiran kita sendiri melalui sebuah lelucon.

Pernah suatu ketika saya membuat postingan di instagram story, hanya sebuah lelucon bodoh yang dirangkai untuk melihat bagaimana pendapat ataupun komentar orang lain dan mengajak mereka bermain dengan pemikiran dan perspektif saya. Jadi, dalam postingan tersebut saya menulis kurang lebih begini.

Ketika semua orang ribut dan menghujat para pelakor, hahahaa ada satu hal yang luput. Siti Hajar istri Nabi Ibrahim setelah Sarah, berarti dia juga pelakor? Kan jadi yang kedua. Tapi dari rahim si pelakor ini nih lahir dua orang besar yang sangat berpengaruh dalam peradaban dunia, sampai saat ini. Dua orang tersebut atau yang disebut dengan istilah ‘papak bangsa besar’ tidak lain adalah Nabi Ishaq yang merupakan bapak bangsa Yahudi dan Nabi Ismael yang merupakan bapak dari bangsa Arab. Ya, kalau tidak ada pelakor seperti Siti Hajar, maka tidak akan lahir bapak bangsa besar itu

Sebelum mengunggah tulisan tersebut, sebenarnya saya sudah tahu dan sadar betul bahwa ketika saya menulis hal itu akan menjadi sesuatu yang kontra dan tentunya menjadi perdebatan pula antara saya dengan orang-orang yang menanggapinya. Tetapi itulah yang sebenarnya saya harapkan saat mengunggah lelucon bodoh itu. 

Saya sengaja melemparkan lelucon untuk mengajak orang-orang bermain dalam pikiran saya. Kenapa lelucon bodoh? Ya! Karena hanya hal-hal bodoh yang mau dikomentari oleh orang-orang zaman sekarang. Maka untuk memancing keberanian mereka dalam berkomentar dan bersuara, caranya harus dengan hal bodoh pula tentunya.

Kembali pada tanggapan orang-orang mengenai lelucon tersebut, yang sudah saya rasuki dengan pemikiran saya, sehingga mengajak kalian untuk berpikir lalu kemudian bingung. Hati-hati! Kali ini anda akan terjebak dengan komentar anda sendiri. 

Ada banyak hal yang saya lihat dan saya berikan dalam hal ini, pertama bahwa ketika banyak komentar buruk mengenai postingan saya di instagram tersebut. Mereka marah kepada saya, dan mengatakan ‘Hajar itu bukan pelakor! Dia tidak salah karena Sarah memberikan izin kepada Ibrahim utnuk menikahi Hajar, coba deh baca dulu sejarahnya, jangan asal bikin postingan begitu!”.

Bagus! Akhirnya ada yang mengikuti permainan lelucon saya, ini berarti saya berhasil menjerumuskan mereka dalam pemikiran saya, bahwa ketika mereka mengatakan Siti Hajar dalam hal ini tidak salah, karena Sarah telah mengizinkan Nabi Ibrahim untuk menikahi Hajar, sehingga pada akhirnya Hajar dinikahi oleh Nabi Ibrahim, maka dalam hal ini pula secara tidak sadar mereka terjebak oleh komentar mereka sendiri. Kenapa bisa begitu?

Baik saya akan menjawab, karena dengan mereka mengatakan bahwa Hajar tidak salah, dengan begitu berarti mereka setuju akan ‘poligami’ itu sendiri, dikrenakan situasi dan kondisi saat itu yang mengharuskan Nabi Ibrahim untuk berpoligami, sehingga mereka memaklumi hal tersebut. Berarti singkatnya poligami boleh tentunya? berarti anda setuju dengan poligami? 

Saya suka yang begini, pasti kalian berpikir, kenapa bisa begitu? Saya sudah mengatakan sebelumnya, ini akan menjebak kalian. Berdasarkan dari jawaban yang kalian berikan, maka dapat saya simpulkan bahwa poligami itu boleh (ya memang boleh), asalkan ada persetujuan dari dua pihak terlebih lagi dari pihak istri.

Kemudian jika anda mengatakan tidak setuju, anda berarti mengkhianati jawaban anda sendiri! Dan secara tidak langsung anda menyetuji lelucon bodoh saya, bahwa Siti Hajar itu Pelakor. Bingung kan? Bagus anda terjebak!

Lanjut kepada hal kedua. Ketika mereka yang sudah tahu sejarah tentang Nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar, kemudian mereka diam saja tidak berkomentar atau bersuara, maka mereka membiarkan si bodoh ini membodohi mereka dengan lelucon itu, secara tidak langsung mereka membuat saya melakukan pembenaran bahwa Siti Hajar adalah pelakor atau orang ketiga mereka menyebutnya. 

Hati-hati Anda terjebak lagi, ini antara lelucon saya yang terlalu goblok atau Anda yang terlalu malas untuk berpikir, kemudian setalah membaca lelucon ini saya membayangkan ekspresi wajah Anda,ini leluconnya yang bodoh atau Anda yang sulit mengerti dan malas berpikir? sulit membedakan bukan? Padahal hanya lelucon bodoh, bukannya kita lebih suka mengomentari hal-hal bodoh?

Kalau anda senggan berkomentar, berarti permainan anda kurang seru, anda terlalu malas berpikir, sehingga dalam permainan ini anda dinyatakan ‘kalah’. Selamat anda terjebak dalam ruang apatis anda sendiri, kepasifan, dan kebodohan. 

Sehingga suatu saat kalau anda disuguhkan dengan hal bodoh anda akan diam saja? Pantas saja masyarakat kita sebobrok ini, ketika di hadapan mereka banyak kebodohan dan mereka memilih diam, beginilah hasilnya, tidak ada keadilan. Begitu mau menyalahkan siapa? Sang penguasa yang bodoh? Atau barang kali kita yang jauh lebih bodoh?

Hal ketiga, dalam permainan yang saya namakan lelucon bodoh ini, akan mengajak anda untuk bermain tanya jawab. Pertanyaan pertama,mana yang sebenarnya disebut sebagai pelakor atau yang kalian sebut orang ketiga? 

Jika anda menyebut orang ketiga adalah pelakor itu sendiri, seharusnya kalian tidak keberatan ketika saya mengatakan bahwa Siti Hajar adalah pelakor, bagaimanapun dia orang ketiga. Ataukah hanya karena Siti Hajar seorang istri Nabi sehingga kata pelakor yang saya gunakan tersebut menjadi suatu kesalahan bagi anda?

Baik! Jika anda mengatakan itu adalah suatu kesalahan, saya siap salah. Akan tetapi jika Siti Hajar hidup di zaman ini, dengan statusnya sebgai orang ketiga, sekalipun ia dinikahi atas izin dari istri pertama, lalu apa sebutan yang pantas untuk Siti Hajar? Jadi, pelakor itu apa sebenarnya? Saya rasa, kalau Siti Hajar hidup di zaman sekarang ini mereka juga tetap menyebutnya pelakor. 

Tanpa tau alasan, situasi dan kondisi yang sebenarnya, akan tetap mereka salahkan hadirnya orang ketiga itu sendiri. Lagi-lagi, kita terlalu banyak mempermasalahkan hal bodoh, berpikir bodoh, tidak mau tahu, asal ngomong, asal menghujat, asal membenci, semuanya asal-asalan. Kita terlalu bodoh! Terus kapan pintarnya? Pintarnya ya, setelah kita tidak lagi mengomentari hal bodoh.

Ada dua pilihan yang ingin saya berikan setelah anda membaca lelucon ini. Pilihan pertama, apakah kita akan tetap menjadi orang bodoh yang malas berpikir dan bersuara? Pilihan kedua, ataukah kita akan tetap menjadi orang yang selalu dibodohi?

Kenapa bisa begitu? Yaa silahkan pikir sendiri! Dan saya ucapkan “Selamat datang di dunia bermain saya, tidak butuh menghabiskan tenaga untuk berlari atau menghabiskan kuota internet untuk bermain dalam permainan ini, cukup dengan fokus berpikir danbuka mata anda saja”.