Seorang selebgram bernama Sarah Salsabila, atau Sarah Kiehl, menggegerkan khalayak gara-gara postingannya yang membuka lelang keperawanan dimulai di angka 2 miliar untuk donasi Corona. Postingan sudah dihapus tapi videonya telanjur beredar di media sosial.

Lalu menyusul postingan klarifikasi bahwa postingan lelang keperawanan hanyalah sarkasme. Sebagai permohonan maaf, Sarah Kiehl akan mendonasikan 1.000 paket sembako dari uang halal.

Miksidnyi ini prink giti, hih?! Mau donasi mah donasi aja sih, gak usah aneh-aneh!

Beredar juga screencapture percakapan japri Sarah Kiehl dengan seseorang, menyatakan bahwa postingan keperawanan hanyalah usaha untuk menaikkan engagement dan sudah diatur oleh manajer.

Hmm. Sungguh sebuah konspirasi perbokisan yang nyata. Tapi beda sih memang cara berpikir pemuja konten. Terlihat ogeb gak masalah yang penting dapat cuan.

Saya sebagai sesama perempuan sampai tak tahu harus berpikir apa. Campur aduk rasanya euy. Harus marah-marah karena ini merendahkan martabat perempuan atau harus terharu karena ada yang mau berkorban sejauh itu untuk berdonasi? 

Kemudian setelah ada klarifikasi jadi ketawa miris, segitu doang sarkasme? Gak nyampe sarkasme kek gitu, bahkan anak SMP bisa bikin yang lebih bagus, sorry.

Ada sih beberapa pemikiran terlintas. Saking "awkward" bahkan untuk berpikir saja sampai ada beberapa versi, logika dan batin mengobrol dengan serius, hahaha. Ini di antaranya:

"Kenapa gw gak kepikiran bikin lelang!"

2 miliar, gaes! Kapan lagi dapet duit segitu. Kerja keras bagai kuda seumur hidup belum tentu bisa ngumpulin duit miliaran. Apalagi harus kepotong anggaran jajan cilok, ongkos angkot, bayar ongkir olshop, dan seterusnya.

Taruhlah terkumpul 2 miliar setelah kerja 30 tahun, tapi masa iya ngumpulin duit doang tapi kagak dipake sama sekali? Mengandalkan diri sendiri belum tentu bisa. Keputusan lelang keperawanan untuk mendapat uang itu realistis.

Astaghfirullah, ukhti.

Cara berpikir seperti ini juga dipunyai Aris Wahyudi di situs NikahSirridotcom, heboh tahun 2017, yang mengeklaim kegiatan melelang keperawanan di situsnya sebagai usaha untuk mengentaskan kemiskinan.

Alasan lain dari Aris Wahyudi bikin keselek air liur pas baca beritanya: terinspirasi kisah Srinthil di novel Ronggeng Dukuh Paruk. Kurang ajar betul novel berisi "catatan sejarah" dijadikan alasan untuk mencari cuan jadi broker lelang perawan!

Yang kepikiran hal-hal semacam ini pastilah manusia yang sangat kompleks. Entah kegedean nyali atau memang keinginan membantu orang lain sangat besar.

"Ini namanya pengorbanan."

Percikan ide Sarah Kiehl untuk melelang keperawanan selain heroik, juga wujud dari keputusasaan yang realistis.

Di masa lalu bahkan ada Mata Hari, seorang perempuan cantik yang menjadi kekasih banyak pria petinggi, dihukum mati karena ternyata ia mata-mata.
Selain Mata Hari, tak terhitung kisah nyata yang menjelaskan peran pekerja seks perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Singkatnya, perempuan memang ada yang melihat tubuh sebagai aset yang bisa dipakai untuk mencari uang sekaligus melakukan kebaikan.

Eh, sebentar, kok jadi ngomongin uang, seks berbayar dong?

Lha iya memang lelang keperawanan itu jualan. Jadi gak salah dong kalau berpikir kegiatan ini termasuk prostitusi. Bedanya, ide untuk seks berbayar mbak-mbak PSK muncul sebagai usaha bertahan hidup (atau mungkin hobi karena kebetulan gairah sering tak terbendung). Tapi kalau Sarah Kiehl ini muncul karena keinginan untuk berbagi.

Untung cepat dihapus. Mbak-mbak PSK saja berusaha ngumpet masih diuber isilop tanpa ampun, apalagi yang pengumuman di medsos, tercyduk nanti.

"Jualan vagina itu juga butuh privilese."

Kalau ini sih sudah jelas. Mau melelang keperawanan ya sudah pasti harus punya vagina dulu. Laki-laki pun bisa jual keperjakaan, karena punya penis. Tapi memangnya penis dirancang untuk bisa verifikasi soal keperjakaan?

Ini kalau definisi keperawanan adalah darah perawan ya, karena tanpa berhubungan seks pun selaput dara bisa robek karena aktivitas fisik seperti olahraga, misalnya.

Sarah Kiehl sampai "hakulyakin" bikin lelang, ya sudah pasti beliaunya punya cara membuktikan kualitas yang jadi bahan pelelangan. Sorry harus berkata seperti ini karena namanya lelang ya harus ada verifikasi soal kualitas barangnya.

Lelang dilakukan tanpa perantara, cukup posting di medsos, adalah privilese yang kedua. Sarah Kiehl yang selebgram dengan akses pada follower berbeda nasib dengan perempuan lain yang ingin mendapat uang dari vagina (yang belum pernah berhubungan seks) yang harus melalui mediasi perantara untuk menjangkau pasar.

Contohnya perempuan yang ikut menjadi peserta lelang keperawanan di situs milik Aris Wahyudi. Seadanya mereka selebgram pasti gak perlu bayar uang untuk jadi member situs.

Saya pakai kata "jualan" di sini tanpa basa-basi lagi karena ini adalah faktanya. Lelang adalah kegiatan jual-beli, titik.

*****

Banyak hal terpikir di kepala saat menyimak video tentang lelang keperawanan oleh selebgram ini. Bukan cuma mengaduk logika, tapi juga rasa sebagai seorang perempuan.

Kehebohan belakangan ini, terkait pandemi corona, membuat saya menyadari satu hal. Setelah Bli Jerinx, Ferdian Paleka, Indira Kalistha, sekarang Sarah Kiehl. Jadi influencer tuh harus berisik melulu biar netizen ngeh keberadaan mereka. Sampai kapan netizen dipaksa menyimak influencer ogeb?

Biarinlah saya menyinyir. Manusia memang perlu menangkap apa pun dari sekitar sebagai bahan pembelajaran.

Biar bagaimanapun, kita hidup terikat norma, membuat klasifikasi "do" dan "don't" adalah salah satu cara bisa bertahan hidup bareng manusia lainnya dalam institusi bernama masyarakat.

Tapi Sarah Kiehl paling epik memang ogebnya. Sampai lupa satu hal yang sangat penting selama masih hidup di negara yang sila pertamanya Ketuhanan yang Maha Esa. Lelang keperawanan demi donasi corona, memangnya ada yang bersedia terima uangnya?