Minhaj sakral pertanyaan kantuk, bayi di ubun-ubun kantin

dan bungkus rokok di etalase sore

mewartakan dongeng

-seekor kijang bertopi badut, bergaun niskala dan bersepatu Cinderella

yang bernama Chi-

orang-orang melepas sandiwara. Tergelak. Di bucu

ada seorang lelaki yang menulis antologi skripsi

dan narasi resepsi secara partikelir: siklon tropis di otak.

Lelaki itu mengajak bermain kelereng

Seorang bocah yang berenang dalam secangkir teh manis

di atas meja. Ia menetapi punggung Abah dan Mama di kampung

menjadi museum berisi ingatan yatim piatu.


Dinding kantin mengunjungi lupa, lewati tanya

sejauh jarak melempar pura-pura pada bibir kelinci

yang membaca cerpen koran minggu. Ada upacara gelas dan sedotan bekas

gigitan jurnal-jurnal usang.  

Tiada ditemukan bermil-mil rindu

hanya lorong gelap, tempat puisi merayakan tubuh penyair amatir

puak mahasiswa bermazhab bohemian yang mengincit dahaga dengan tuak

Kahlil Gibran, Friedrich Nietsche, Chairil Anwar, Sujiwo Tedjo

Cak Nun, Puthut Ea. Mereka berdiskusi dalam kepala

ihwal kereta yang bertualang tanpa rel.

Kalender buram seketika pingsan.


Di dekat wastafel, seorang perempuan memetik bohlam

serta-merta berswafoto dengan lanskap sepasang ampas kopi.