63153_30754.jpg
libregraphics.asia
Cerpen · 7 menit baca

Lelaki yang Menghilang Bersama Bakau

            Konon, bakau-bakau itu bermunculan dan kian rimbun, sejak seorang lelaki, yang kata orang-orang, nelayan ulung itu, tak pernah kembali dari melaut. Sungguh aneh! Padahal, pengalamannya menakhlukkan laut tak perlu diragukan lagi. Gelombang besar, bahkan badai sekali pun tunduk dibelah oleh perahunya.

            Kini sepeninggalnya, laut sepi. Nelayan banyak yang urung melaut. Cuaca tak menentu, susah ditebak. Geliat pesisir semakin redup. Sudah genap berpuluh bilangan dari tahun ke tahun untuk menandai kepergian lelaki itu. Bakau-bakau telah sempurna menutup muka pantai, alam terkembang bebas.

***

            Sebelum sampai di pantai, jalanan berkelok-kelok harus kaulalui. Pohon-pohon kelapa yang tinggi-kurus menjulang-julang seolah ingin menggapai langit. Rumah-rumah warga sekitaran pantai hanya ada satu-dua, itu pun jarang-jarang.

            Nah, ketika mendekati gerbang pantai, di sisi kananmu, berdiri sebuah rumah kecil yang berdinding geribik, beratap rumbia.

            Di rumah itulah Kek Kadir menghabiskan malamnya yang panjang bersama sang istri. Sekadar berbagi cerita tentang hidup di masa tua yang buram atau sekilas bernostalgia tentang potongan-potongan masa kanak yang berserakan di sepanjang pesisir pantai ini.

            Kek Kadir kerap disebut pahlawan oleh orang-orang. Jasanya tak bisa dipandang sebelah mata. Pengorbanan dan pengabdiannya untuk menjaga keelokan pantai ini patut diganjar Kalpataru. Namun, peduli itukah Kek Kadir?

            Setiap hari, disengat terik, ia terus saja berjalan menyusur pasir-pasir yang menghampar. Kek Kadir tak tega kalau muka nan elok itu harus diriasi sampah-sampah yang menghambur, terserak-serak di bibir laut.

            Memang, semenjak pantai ini booming karena gencarnya promo di media sosial, para pengunjung membludak, pedagang-pedagang berdesak-desakan. Tak ayal, kawasan pesisir pantai kini dikepung oleh pemandangan yang tak sedap.

            Pengelola pantai yang untung berlipat-lipat seperti menyembunyikan muka.  Kek Kadir sungguh perkasa, turun sebagai pahlawan.

            Pernah sekali waktu, ketika kautanya, Kek Kadir menjelaskan alasannya mengapa ia sedemikian utuh mencintai pantai ini. Ia terbata-bata mengumpulkan kembali puing-puing kenangannya di pantai ini. Matanya basah, tak kuasa membendung air mata.

***

            “Dir, temani emakmu. Bapak hendak melaut. Cuaca yang buruk beberapa hari lalu sempat mengacaukan pendapatan Bapak dan para nelayan lain di kampung ini. Kita perlu makan. Sepertinya, cuaca hari ini sudah mulai bersahabat.” Kata Bapak kepada Kadir yang masih berusia belasan.

            “Tapi, Pak. Aku dan emak mengkhawatirkan Bapak. Ombak masih terlihat tinggi sore ini.”

            “Bapak yakin sepenuhnya kepada Allah, Dir? Kita jalani hidup ini tanpa beban. Mudah saja, bukan?”

            Kadir muda tak mau menyangkal lagi. Entah kepasrahan entah keputusasaan yang bisa Kadir tangkap dari ucapan Bapak. Kadir bisu diliput penasaran.

            Segera ia persiapkan  beberapa perlengkapan melaut dan bekal makan ala kadar buatan emak. Mereka berdua mesti bergegas menuju tempat perahu Bapak lama bersandar malas, terayun-ayun oleh ombak di tepian pantai.

            Sebelum meninggalkan rumah, Bapak menatap emak penuh makna. Kadir juga sempat melihat Bapak mengelus-elus perut emak yang membesar.  Bapak pamit dengan adik Kadir yang menghuni rahim emak, sekitar tujuh bulanan ini.

            Kadir berjalan di samping Bapak. Sempat terdengar teriakan emak agar Bapak berhati-hati ketika di tengah laut.  Mendengar itu, Bapak menoleh ke arah emak. Bapak tersenyum, lalu melambaikan tangannya. Suasana perpisahan terakhir  antara emak dan bapak itu terekam kuat di ingatan Kadir.

            Mereka pun melangkah gontai, hampir beriringan. Bapak lebih banyak diam. Kadir mengimbangi.

            Sebelum bergabung dengan dua temannya yang sudah menunggu di atas perahu, Bapak mengusap kepala Kadir. Pesan inilah yang terus terngiang-ngiang di telinga Kadir.     “Jaga emakmu, Dir! Sebagai laki-laki, jadilah orang yang bertanggung jawab, sekecil apa pun itu!”

            Bapak naik ke badan  perahu. Wak Darman, dan Wak Sohibul sudah siaga. Tanpa ragu, perahu motor itu mengarah  ke tengah laut. Bapak tampil sebagai pengemudinya. Ia terlihat lihai mengendalikan polah perahu.

            Perahu makin mengecil. Lamat-lamat berubah menjadi sebuah titik hitam yang berayun-ayun dipermainkan ombak. Kadir berbalik arah. Meninggalkan pantai, meninggalkan Bapak di kejauhan laut yang diam seribu bahasa. 

***

            Tiga hari sudah berlalu. Bapak belum juga pulang dari melaut. Emak terus menangis. Kadir tak bisa berbuat banyak. Hatinya masih meyakini, jika suatu saat, Bapak pasti kembali.

            Setiap sore, saat langit  dipenuhi semburat jingga, Kadir berdiri mematung menghadap laut. Menunggu Bapak pulang. Barangkali siluet senja akan mengiringi kepulangan Bapak.

            Kadir masih menunggu. Hari menjelma bulan. Tahun bertumpuk-tumpuk. Tumbuhlah kecewa di hati Kadir, Bapak memang tak pernah pulang lagi. Emak tak kuat menahan rindu. Rindunya telah menjelma gunung. Rindu yang  tak kesampaian hingga akhir hidupnya.

            Sejak kepergian emak, Kadir selalu melarutkan dirinya dengan berdiri di tepi pantai, menunggu saat-saat matahari tenggelam di ujung laut. Mengenang kepergian Bapak. Kadir memahat sunyi, tepat pada posisinya dulu mengantarkan Bapak untuk terakhir kalinya.

            Sebagai pengingat, sebatang bakau ia tancapkan di tempat itu. Bertahun-tahun, bakau itu mengembang luas, menutupi beberapa bagian daerah pantai. Meskipun begitu, ia sudah hafal betul tempatnya mengenang bapak. Kadir menandainya dengan membuat jembatan kayu untuk menyibak barisan pepohonan khas pesisir itu.

            Kebiasaan itu mengakar, sampai umurnya yang kini terus menua.

***

            Rencana perluasan kembali daerah wisata untuk pantai ini terdengar di telinga Kek Kadir. Saat rombongan investor datang meninjau lokasi, Kek Kadir sengaja menungguinya.

            “Maafkan saya jika harus lancang berbicara langsung dengan Bapak,” sela Kek Kadir kepada seorang laki-laki berperut buncit dan berkaca mata hitam. Kira Kek Kadir, orang itulah investor utama yang akan memperluas daerah pantai itu menjadi lokasi wisata .

            “Oh, ya. Ada apa, Kek Kadir?” Sapanya ramah.

            “Saya mohon, Anda berkenan mempertimbangkan kembali niatan untuk merombak total pantai ini. Saya, si tua ini, meminta kepada Anda agar menyisakan ruang yang cukup untuk tumbuhan dan hewan yang hidupnya bergantung besar  pada daerah pesisir ini.”

            Si investor sempat terkekeh-kekeh. Lalu,  diam sejenak dan tersenyum tipis. Dia mendekati Kek Kadir, membisikkan sesuatu.

            Muka Kek Kadir berubah merah. Ia tak setuju dengan bisikan si perut buncit itu.    “Sampai kapan pun, aku akan tetap mempertahankan  pantai ini. Mentang-mentang kalian punya banyak uang, seenaknya saja bisa membeli seluruh  pantai ini untuk keuntungan pribadi. Jiwa tua ini akan kupertaruhkan untuk melindungi pantai ini. Ingat itu!”

            Orang-orang tertawa kecut. Semua memandang remeh pada Kek kadir. Ia tak peduli, Kek Kadir gegas berlalu, meninggalkan mereka dengan segenap geram dan kecewa.

***

             Alat-alat berat didatangkan dari kota. Para pekerja pun berdatangan. Geliat pembongkaran hutan bakau begitu cepat. Dalam waktu beberapa hari saja, pantai ini sudah gundul. Hutan bakau dan tempat kenangan Kek Kadir lenyap, tak bersisa.

            Wahana permainan bermunculan di sana-sini seperti jamur. Daerah sepanjang pesisir ini sudah sempurna dirombak, membuat orang-orang jadi pangling. Investor tertawa puas. Mereka berhasil menemukan surga yang tersembunyi. Tidak jauh dari area hutan bakau yang rimbun itu, tersimpan taman bawah laut yang memesona.

            Pantai ini kian naik daun. Area snorkeling menjadi andalan. Semakin hari, semakin ramai saja orang-orang berdatangan, mengunjungi surga. Investor dan pengelola pantai bersorak-sorai, sedangkan Kek Kadir sepi dari pembicaraan orang-orang. Ia  pulas menghilang.

            Sejak upayanya menghalau perombakan hutan bakau waktu itu, ia tak pernah muncul lagi. Semua orang merasa kehilangan. Sampai sekarang, tak ada orang yang mengetahui secara pasti keberadaannya. Kek Kadir raib, seiring musnahnya rimbun bakau-bakau di pesisir itu.

            Laut dipeluk kehilangan. Tangisnya membentuk gelombang yang tak biasa. Gelombang itu makin lama makin tinggi dan besar, mengamuk-amuk, menggumpal-gumpal, bergulung-gulung dibawa ombak. Sepertinya, tinggal tunggu komando saja. Laut memang sedang menyusun siasat dan perlu sehari saja; menyerbu pantai.)*