Aku adalah seekor anjing liar. Selama hidupku, tidak pernah ada orang yang memberiku nama seperti anjing peliharaan. Ya, karena memang aku ini anjing liar.

Orang-orang kampung biasanya memanggilku Anjing, Anying atau Gugug ketika aku diucapkan oleh seorang bocah. Meski begitu, aku menamai diriku sendiri dengan: Jali. Kiranya nama itu pantas kusandang sebagai seekor anjing dengan badan kekar, berbulu hitam legam serta rupa yang cukup tampan.

Kerjaku hanya berkeliling kampung untuk mencari makan atau bahkan sekedar jalan-jalan. Ketika perutku kenyang, aku selalu membuang tai di halaman rumah orang. Tanpa menguburnya. 

Karena itu, sering kali aku harus dikejar Iwan Gendeng, lelaki umur empat puluh tahun dengan luka menyilang di dagu, kumis yang tidak beraturan serta tubuh yang penuh lemak. Tapi, laki-laki itu tak pernah berhasil. Bagaimana mungkin lelaki berbadan gemuk-penuh lemak mampu mengejarku yang lihai berlari ini.

Sebagai anjing yang masih muda, sering kali aku berahi. Kadang kala aku harus berkelahi dengan pejantan lain demi mendapatkan seekor betina dan menuntaskan berahiku. Selepas bercinta, biasanya aku selalu melolong, sebagai puncak dari percintaanku.  

***

Sore itu hujan turun dengan deras. Menghantam bumi dengan kejam. Seolah mendendam kepada kemarau yang tak pernah mengizinkannya keluar.

Hujan membuat suasana begitu sepi. Anjing-anjing liar sepertiku yang biasa berkeliling terpaksa harus berlindung, supaya tubuhnya tak basah atau mungkin juga agar tidak masuk angin. Dalam keadaan hujan deras, aku memutuskan untuk berteduh di sebuah gubuk dekat lahan pertanian. Karena memang tempat itulah yang terdekat saat itu.

Setiba di gubuk, aku mengibaskan badan. Menghilangkan air yang bersarang di bulu-buluku. Aku rebah. Setelah menyadari ada seorang lelaki muda duduk di gubuk, aku kembali bangun. Takut kalau-kalau ia mengusirku. Tapi, ia diam. Mematung seperti terkena hipnotis. Tatap matanya kosong, hatinya padam serta tangannya yang digin memegang sebatang kretek yang ia putar-putar di celah jari telunjuk dan jari tengahnya.

Aku sering kali bertemu dengannya. Ia seorang pemuda tukang tani. Orang-orang memanggilnya: Raga Tagar Jiwa. Mungkin nama itu diberikan orang tuanya dengan harapan Ia akan tumbuh menjadi lelaki yang memiliki ketegaran dalam jiwa dan raganya. Aku terus memerhatikan lelaki itu. Ia masih mematung. Dan, aku kembali rebah.

Ketika kepulan asap keluar dari mulut lelaki itu, terdengar pula hembusan nafas panjang dari mulutnya. Seketika itu pikirannya membumbung jauh. Membawanya pada masa yang telah berlalu, pada kenyataan yang membuatnya marah sekaligus sedih, juga pada seorang gadis yang pernah dicintainya begitu sangat.

***

Di masa yang telah berlalu, Raga pernah menjalin cinta dengan seorang gadis. Raga amat mencintai gadis itu, pun sebaliknya. Aku memanglah hanya seekor anjing liar yang masih muda. Tapi, sebagai sesama remaja, aku paham kalau cinta adalah hal yang menggairahkan.

Setelah dua tahun mengarungi lautan asmara, kisah Raga dengan gadis itu harus berakhir. Bukan karena ia bosan dengan si gadis. Tapi, karena orang tua gadis itu tau kalau Raga hanya seorang tani. 

Mereka tak mau jika anak gadisnya menjadi manusia miskin dengan hutang di mana-mana. Apalagi lahan tani yang dimiliki lelaki itu hanya seluas setengah lapangan bola saja. Jangankan memberi kebahagiaan yang sempurna, untuk membelikan gincu anak gadisnya pun akan terasa sulit. Begitulah pikir mereka. 

Bagi kebanyakan manusia, kemiskinan itu menyeramkan. Kemiskinan selalu diidentikan dengan kesengsaraan. Bahkan, tak jarang ada manusia yang menganggap bahwa kemiskinan adalah sebuah kutukan yang menjijikan. 

Sebaliknya, bahagia dan sukses selalu diidentikan dengan uang yang melimpah, harta yang tak akan terkuras sampai tujuh turunan serta jabatan yang menjulang tinggi hingga ke langit.

Dengan pemahaman yang demikian, tidaklah heran kalau manusia hari ini menghargai dan menilai sesamanya tergantung pada uang yang dimilikinya. Siapa yang paling banyak uangnya dialah yang paling dihormati. Siapa yang paling banyak uangnya, omongannya akan didengar. Seperti sabda-sabda orang suci.

Sebagai seekor anjing, tentu hal itu selalu membuatku tertawa. Di zaman yang modern dan serba canggih ini nyatanya pola pikir manusia masih ada di masa lalu.

“Segala-galanya uang!”

“Segala-galanya uang!”

 “kenapa segalanya harus uang? Aku membenci uang!” Teriak lelaki itu. Membuatku terperanjat.

Kemudian, kembali kuperhatikan dia. Dari air mukanya aku mengerti. Laki-laki itu pada kenyataanya tidaklah benar-benar membenci uang. Ia hanya benci dengan cara pandang manusia dengan sesamanya yang berdasarkan uang. Bahkan, uang telah menjelma seperti dewa: berkuasa, menentukan salah dan benar serta adil dan tidak adil.

“Ya, segala-galanya adalah uang! Untunglah aku ditakdirkan menjadi seekor anjing. Tidak pernah ada dalam hidupku memandang uang dalam mencari pasangan. Tak pernah pula uang menjadi ukuran untuk menghormati sesama.” Kataku, seraya berjalan meninggalkan gubuk karena hujan telah berhenti.