Seorang pria ini gemar mengumpulkan para janda. Targetnya mencapai 1000 orang.

Eits, jangan berpikiran negatif dulu. Pria ini memang sedang ’memburu’ janda. Namun, bukan sembarang janda yang sedang ia cari. Ada kriteria khusus yang sudah ia tetapkan untuk diajak bertemu, ngobrol, dan tertawa. Ada kebahagiaan yang ingin ia berikan kepada para janda itu nantinya. 

‘Lelaki Seribu Janda’, itulah julukan yang tersemat pada Roel Mustafa kini. Janda yang dia cari bukanlah untuk dijadikan istri, melainkan untuk meringankan beban para janda yang masih harus berjuang.

“Targetnya ada sekitar 1000 janda, namun sekarang masih ada di angka 338 orang. Janda yang saya cari usianya di atas 65 tahun atau lansia dhuafa. Tujuannya bukan syahwat, melainkan kita berikan santunan, kita interaksi sama mereka, kita berikan bahagia,” ujar Roel Mustafa saat ditemui di markas Sekolah Relawan, di daerah Beji, Depok, Jawa Barat, Kamis (2/8)

Pencarian 1000 orang janda ini sebenarnya sudah dilakukannya sejak tahun 2009, namun baru diketahui banyak orang dua tahun ke belakang. Kegiatan ini berawal dari kebiasaan sang ibu yang gemar memberikan masakan lebih kepada teman sebayanya sesama janda. 

Namun ketika ibunya meninggal dunia, kegiatan itu terhenti. Rekan-rekan almarhum ibunya sudah tidak ada yang membantu lagi. Sejak itu, Roel pun mulai terpikir untuk melanjutkan kegiatan itu bersama adiknya. Lama-kelamaan, lelaki bertubuh gempal ini mulai merasakan kenikmatan tersendiri di dalam hatinya.

“Sebenernya ini aktivitas pribadi, saya sudah lakukan sejak 2009, tapi baru viral sekitar dua tahun lalu. Awalnya karena saya terinspirasi dari ibu saya. Ibu saya tuh sama janda juga, dia punya temen sebaya.

Setiap masak ibu saya selalu masak lebih, kita sembilan bersaudara, tapi selalu dilebihin. Kelebihan ini memang sengaja, kamu anterin ke ibu ini, kamu anterin ke ibu itu. Kita anak-anaknya tugasnya nganterin,” cerita pria yang akrab disapa Om Irul ini. 

Baca Juga: Rumah Janda

“Saya mikir, kenapa kebaikan ibu dulu engga diterusin aja, akhirnya saya hubungi adik saya, cari tahu teman-teman ibu saya masih ada atau tidak, ternyata masih ada 5 sampai 7 orang. Akhirnya, saya bilang ke adik saya, yaudah setiap bulan saya yang santunin sembako, saya yang transfer uang, adik saya yang beliin dan bagiin.

Setelahnya saya dikirimi foto-foto janda-janda itu dengan wajah yang riang gembira, saya ngerasa enjoy, saya menikmati, ada kebahagiaan tersendiri. Saya pun terpikir ibu-ibu seperti ini perlu di bantu,” tambah pria yang pernah menjadi manajer itu.

Viral

Selain terinspirasi dari ibunya, Bang Irul juga terinspirasi dari para anak yang merasa lebih senang bermain dengan teman-temannya dibandingkan berbicara dengan ibunya sendiri. Inilah yang membuatnya rela untuk terjun langsung ke daerah-daerah mencari para janda yang membutuhkan kebahagiaan.

Berbagai aktivitas lelaki 40 tahun ini dengan para janda ‘miliknya’ selalu ia abadikan di media sosial miliknya. Unggahan foto serta caption yang lucu berhasil membuatnya makin dikenal dengan sebutan ‘Lelaki Seribu Janda’. Tidak sampai di situ, unggahannya itu berhasil mengundang donator-donatur baru yang ingin membantu.

“Lalu saya berpikir kenapa ibu, jangankan ibu orang lain, ibu kita sendiri terkadang kita abaikan, kita lebih nikmat bermain dengan temen-temen kita, lebih enjoy ngobrol sama temen kita dibanding ngobrol sama ibu sendiri.

Bahkan, mungkin temen-temen di luar daerah, nelepon ibunya bisa sebulan sekali, padahal ibu itu, ingin ada kita, ngobrol setiap hari, nanya gimana kabarnya. Akhirnya saya mulai blusukan ke daerah-daerah, kalo ketemu wanita lansia pasti saya langsung interaksi, ngobrol, kalo dia janda gak punya apa-apa baru saya santunin,” imbuhnya.

“Karena saya punya misi, tidak hanya menyantuni, tapi juga membawa bahagia. kita bawa sembako, kita bawa uang, kita bawa apapun, tapi kita engga bawa bahagia itu percuma. Jadi setiap bertemu, saya selalu bercanda, saya ngobrol, saya selfie bareng, saya videoin mereka.

Nah, kelucuan-kelucuan itu, keunikkan-keunikkan itu saya share di media sosial saya, ya dengan caption-caption yang menurut saya engga serius lah seperti, ‘janda baru nih’, terus kalo misalnya si ibunya lagi pake jilbab warna pink, saya bilang ‘jilbab pink jangan sampai lepas’. Alhamdulillah setelah saya share banyak sekali yang ingin bantu, jadi kalo urusannya janda pasti ke saya, itu awalnya saya dapet sebutan lelaki seribu janda itu,” tambah pria yang kini jadi pengusaha steak.

Makin banyak orang yang terinspirasi darinya, membuat Bang Irul tidak bisa menjadikan ini sebagai aktivitas pribadinya lagi. Maka dari itu, dia menyerahkan kegiatan ini ke sebuah yayasan ‘Sekolah Relawan’ yang ia dirikan tahun 2013 lalu. Namun, ia tidak ingin para donaturnya ini hanya sekedar menyantuni. Ia menginginkan terjalinnya sebuah interaksi antara penyantun dengan para janda. 

“Akhirnya, mulai dilirik sama temen-temen saya, lalu saya cerita sedikit tentang si ibu ini, ibu itu, akhirnya menarik temen-temen untuk bilang, bang gua boleh engga bantu sembako setiap bulannya. Nah, saya pikir orang-orang udah mulai banyak terinspirasi. Saya mulai catet siapa-siapa aja namanya, jadi semacam anak asuh, ibu ini dibantu sama temen saya yang ini, jadi gitu,” paparnya.

“Ini terus-menerus berlanjut sampai pada titik, wah ini semakin banyak nih, ini engga bisa jadi aktivias pribadi, karena saya menerima uang dari orang lain, saya juga khawatir tercampur, akhirnya saya serahkan ke sekolah relawan, yang konsepnya dari saya, dan keinginannya dari saya. Jadi, jangan cuma sekedar kasih uang atau kasih sembako, tapi orang itu harus ada setiap minggu, minimal sekali dateng, ngobrol sama lansia-lansianya,” ujarnya menambahkan.

Selain wilayah Jabodetabek, daerah-daerah seperti, Karawang, Nganjuk, Surabaya, Lampung menjadi tujuan favorit Bang Irul. Bahkan, janda ‘miliknya’ ada yang berasal dari Flores. “Daerah saat ini sudah, di Nganjuk, Surabaya, Lampung, Karawang, Jabodetabek, sudah pasti, sekarang walaupun tidak setiap bulan ke sana, ada yang berasal dari Flores, NTT. Saat ini yang terjauh di sana.

Generasi Solusi

Roel Mustafa mengaku mendapat informasi tentang keberadaan janda dari media sosial. Ia sangat menghargai kiriman informasi tersebut. Namun, ia lebih senang apabila mendapatkan kiriman tentang orang yang sudah melakukan sesuatu, baginya itu merupakan keberhasilan kegiatannya selama ini.

“Saya dapet informasi tentang janda-janda itu dari media sosial, karena sudah dikenal dengan lelaki seribu janda, aktivitas saya juga ada di sosial, kalo ada janda saya suka di-mention. Tapi, saya lebih senang ketika saya dapat laporan, bang saya udah nyantunin janda, nah disitu saya merasa berhasil atau jika ada orang yang meminta cara untuk menyantuni janda, nah itu saya berhasil. Saya datangi, kita ngobrol.

Bang Irul menginginkan lebih banyak orang yang mengambil peran tentang isu kemanusiaan seperti ini. Baginya, sudah tidak ada waktu lagi untuk menyalahkan siapa pun. Ia pun mengajak masyarakat agar menjadi pemberi solusi dan mengurangi menyalahkan orang lain.

“Kita engga boleh lagi teriak misalnya ada yang putus sekolah, mana nih menteri, mana nih presiden, udah bukan saatnya lagi menyalahkan pemerintah, peran kita apa,” imbuhnya.

“Sebar inspiras sebanyak mungkin, ambil, bantu, upload, jangan takut disebut riya, ujub dan sebagainya, biar Allah yang menilai. Karena tujuannya untuk memberi inspirasi orang-orang. Saya selalu mengajak, ayo menjadi generasi penghasil solusi, jangan jadi generasi pembully. Sebenarnya kesempatan berbuat baik itu banyak, namun itu tergantung kita mau ambil itu atau engga,” tambahnya.

Saat ini, janda yang sudah ia santuni menyentuh angka 338 orang. Angka ini terdiri dari berbagai macam latar belakang kasus dan pekerjaan. Angka tersebut belum bisa berubah signifikan lantaran banyak janda yang meninggal dunia. Bang Irul juga bercerita tentang keadaan seorang janda yang tinggal sebatang kara hingga membuatnya menangis.

“Angka resminya ada 338 orang, itu belum bisa berubah, karena setiap saya dapet 5 orang, ada yang meninggal 10 orang. Banyak kisah yang saya alami, saya pernah sampai nangis ada yang nelepon minta didatangi malam itu juga, walaupun itu bukan ibu kamu, pasti kita bertanya-tanya ada apa, saya datengin, terus dia bilang om, kalo saya meninggal hari ini, om mau gak urusin,” imbuhnya.

“Nah, walaupun saya bukan anaknya, saya bukan tetangganya, tapi ini sebuah kepercayaan, sampai nangis saya. Karena mereka berpikiran, gak ada lagi yang ngurusin selain kita. Itu kan sebenarnya sebuah tamparan buat kita, kita hanya perlu memberikan ketenangan untuk mereka, setelah tenang, yaudah selesai, simple saja,” ceritanya dengan mata berkaca-kaca.

Cemburu

Menafkahi tanpa harus menikahi, itulah tagline yang ia sebarkan ketika memberikan bantuan. Keinginannya itu mendapatkan lampu hijau dari sang istri. Bahkan sang istri bersedia mencarikannya ‘janda baru’ dan menambahkan anggarannya untuk santunan. 

“Istri saya engga cemburu, dia udah tau, waktu saya bilang saya nyantunin janda, dia malah senang, bahkan ditambahin sama dia. Kadang istri saya juga kasih informasi tentang janda, mau disantunin atau engga. Jadi engga ada masalah,” katanya sambil tertawa.

Bang Irul mengaku merasa miris dengan para lelaki yang mengharapkan imbalan sebelum memberikan bantuan. Baginya, jika ingin membantu tidak perlu ada syarat apapun. 

“Jangan bantu kalo ada ujung-ujungnya mikir saya dapet apa dari dia, karena ini urusannya janda, perempuan, ya kalo mau nafkahin ya nafkahin aja engga perlu dinikahin dong, sebenernya ingin nabok orang-orang yang alasannya ngebantu dhuafa tapi malah dinikahin, kan malah nyakitin istri. Jadi, saya lebih ke arah sana, jadi kalo bantu ya bantu aja engga perlu ngarepin apa-apa. Jadi, saya lebih guyon ke para lelaki, kalo punya janda ya engga usah diumpetin,” ujarnya.

Untuk menyantuni janda-jandanya, Bang Irul mengaku dananya masih berasal dari kantong sendiri dan dibantu penyantun lainnya. “Saat ini, dananya masih ada dari uang pribadi, masih ada dari kas, total penyantun tetap ada sekitar 150 orang. Setiap bulan kita anggarkan untuk sembako sebanyak 150 ribu rupiah, tapi kadang ada yang kasih 500 ribu, kan itu bisa nyantunin tiga orang,” paparnya.

Sekolah Relawan

Selain menyantuni para janda, Roel Mustafa juga aktif sebagai pendiri sekolah relawan. Banyak sekali program pelatihan yang disediakan sekolah ini antara lain, Free Food Car, Food Box, SDR (Social Disaster and Rescue), Naik Pangkat dan Tatar Nusantara. 

Bang Irul menambahkan, bahwa program-programnya itu memiliki satu tujuan yaitu untuk mengedukasi masyarakat untuk lebih tanggap dengan isu-isu kemanusiaan. Serta melakukan pelatihan dan pemberdayaan untuk masyarakat yang berada di desa-desa tertinggal.

“Sekolah relawan ini sebenernya aktivitas saya dulu, saya bikin sama teman-teman, sekolah relawan ini sudah lima tahun, yang aslinya sebenernya bukan Cuma ngurusin janda, banyak. Sekolah relawan memiliki konsep edukasi, kita kirim relawan ke daerah-daerah yang kita anggap butuh bantuan. Disana kita didik masyarakat untuk empat isu, yang pertama, pendidikan masyarakat, ekonomi kreatif, pertanian, dan kesehatan dan lingkungan. Karena menurut kami keadaan desa tertinggal itu terjadi karena efek domino di antara empat poin tadi,” ujar Irul menjelaskan.

 Salah satu program unggulan yang rutin dilaksanakan adalah free food car. Bang Irul menjelaskan keinginannya menemukan isu-isu kemanusiaan secara langsung. Meski bantuan yang diberikannya tidak seberapa, ia ingin misi rahasianya itu tercapai. Maka dari itu, ia ingin membantu tanpa melihat cover orang yang akan ia bantu.

“Ada yang namanya free food car, jadi saya bawa mobil setiap hari isinya ada 120 porsi makanan, saya tempatin di jalanan, lalu kita gelar meja, kita layani. Mereka gak cuma kita kasih selesai, mereka kita layani, mereka makan duduk sambil ngobro,” imbuhnya. 

“Tujuannya satu itu, kita menggali isu-isu kemanusiaan secara langsung. Siapapun boleh makan, kita engga milih. Program kita yang ini juga sudah tidak bicara tentang kuantitas saja, karena percuma kita sebar seribu tapi kita engga dapat pelajaran apa-apa. Terus juga biasanya yang lain melihat casing, kalo kita engga, bahkan ada bapak-bapak berpakaian rapih makan di tempat kita. Kita terbiasa briefing, agar menjaga mulut, karena tugas kita hanya melayani.

Namun, setelah kita ajak ngobrol, dia bilang, bang makasih ya bang saya boleh makan disini, saya enam bulan menganggur, saya lagi dalam proses mencari kerja, saya punya anak empat, istri saya sedang hamil tua. Terbayang sekali bagaimana dia butuh makanan. Padahal, menurut saya kemiskinan tidak selalu identik dengan dekil, dengan kumuh, interaksi itu yang penting,” ceritanya panjang lebar.

Selain, free food car, Bang Irul juga bercerita tentang programnya yang lain. Masing-masing program yang sekolah relawan miliki, memiliki tujuannya sendiri. Ia sengaja melakukannya agar sekolahnya itu terorganisir dalam menjalankan misi-misi kemanusiaan. 

“Kita juga punya Social Disaster and Rescue, itu bagian dari sekolah relawan juga tapi kita khusus kan untuk kemanusiaan yang berhubungan dengan bencana alam. Saya tidak ingin mengulang kejadian masa lalu, saat tsunami Aceh di 2004, saya berangkat ke sana, tapi sampai disana saya engga tau mau ngapain, bahkan saya pernah menggotong mayat berdua relawan lain, pas saya gotong kepalanya putus. Ternyata ada tekniknya lagi. Itu sebeneranya tujuan kita melatih relawan,” ujarnya.

“Lalu kita punya program yang namanya Tatar Nusantara, itu kita mengirim relawan untuk stay di suatu tempat di Indonesia. Saat ini ada yang kami kirim ke Asmat, Nganjuk, pokoknya ke daerah-daerah yang kita anggap butuh bantuan,” jelasnya.

Untuk masuk ke sekolah relawan, Roel Mustafa tentu memilki syarat khusus relawan. Ia ingin tidak ada yang mengharapkan imbalan apapun. Karena baginya pekerjaan sosial itu harus berasal dari hati. Tidak hanya itu, Roel juga ingin para relawan tidak angkuh dan diharapkan selalu ingin belajar.

“Sebelum terjun langsung ke lapangan sekolah relawan harus menjalani masa orientasi relawan yang isinya menyamakan visi dan misi, setelah sudah, pasti kan ada yang namanya seleksi alam, yang satu visi ya lanjut, yang tidak ya kita tinggal. 

Banyak juga yang berharap kalo jadi relawan itu dapat uang dapat ketenaran dan sebagainya. Enggak. Kita kerja sosial, kita tanam terus kebaikan, walaupun kita tahu besok kiamat, engga apa-apa kita tanam terus kebaikan. Sampai saat ini saya masih belajar, karena jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang yang kita temui adalah guru,” ujarnya.

Pemberdayaan

Selama berkecimpung di dunia sosial banyak kejadian yang sudah Irul alami. Banyak sekali kejadian yang membekas di hatinya. Ia mengaku masih banyak pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan. Salah satunya memperbaiki kesadaran warga sekitar. Selain itu, ia ingin membuat sebuah desa yang mandiri.

“Sukanya bahagia ada di antara mereka, dukanya ketika sudah ada kedekatan yang terjalin, mereka meninggal. Tapi masih banyak sekali PR, Pekerjaan rumah kita saat ini, yaitu kesadaran dari warga sekitarnya saja. Kita ingin warga sekitar lebih mengeluarkan sisi humanis mereka, mencukupi sembako mereka (janda), membantu mereka berinteraksi, itu yang jadi PR kita selama ini. Jadi, gimana caranya yang paling dekat yang membantu,” imbuhnya.

“Saya juga berkeinginan, saya kepengen di setiap desa punya usaha, dan usaha itu bisa menghidupi desa-desa itu sendiri,” harapnya.