Ini bukanlah kisah tentang Ya’juj dan Ma’juj, apalagi cerita tentang Dajjal, yang begitu kental dengan visi illuminati untuk meluluhlantakkan dunia beserta isinya itu. Namun, ini hanyalah kisah tentang seorang lelaki paruh baya yang biasa mengais ketenangan di bawah pohon rindang di halaman depan rumah.

Sosoknya merupakan lelaki paruh baya yang amat bersahaja. Begitu bersahajanya ia, sehingga tak pernah terbersit sedikit pun keinginan untuk bekerja. Ia sudah merasa sangat kaya dengan kesehatan fisiknya dan dua helai pakaiannya, meskipun itu tampak begitu lusuh dan compang camping.

Dunia telah sepenuhnya ia lepas, sebab ia merasa dunialah yang selalu memburunya. Dalam benaknya selalu terbersit angan-angan, untuk apa mencari sesuatu yang telah ada? Yang tanpa diupayakan pun ia akan menghampirinya? 

Dengan mengenggam filosofi kehidupan yang ia pegang itu, ia menjadi begitu tenang, damai, sentosa, serasa tak pernah ada sedikit pun masalah yang menghinggapinya.

*

Tak ada satupun di dunia ini yang mampu mengusik ketenangan hidup dari lelaki paruh baya, kecuali terpaan air hujan yang selalu datang tak kenal waktu untuk mengganggu tidur siangnya di bawah pohon beringin sejuk yang menjadi langganannya. Begitu hujan turun, ia akan lekas bersedekap, sambil berdiri untuk mengusir rasa gigil yang merasuki pori-pori tubuhnya.

Jika hari sedang cerah, lelaki paruh baya biasanya punya aktivitas. Ia selalu membanting kepingan-kepingan uang logam, yang ia representasikan sebagai kehinaan dunia. Sambil menggenggam uang logam, ia membayangkan tengah menggenggam dunia yang begitu kerdil.

Begitu kecilnya dunia dalam genggamannya hingga dengan mudahnya ia hempaskan. Ia terus mencampakkannya, membantingnya, hingga tak berbekas keindahan pada sisi permukaannya.

Keistiqamahannya dalam membanting kepingan uang itu, menjadikannya berbentuk logam yang polos, sehingga tak tampak guratan aslinya. Dan yang ada hanyalah guratan tak beraturan setelah pergesekannya dengan benda yang padat. Mungkin saja inilah cara pandanganya terhadap dunia yang ia campakkan itu.

*

Setiap pejalan kaki maupun pengemudi kendaraan hampir selalu memandangi lelaki paruh baya dengan tatapan nanar. Serasa ada dalam angan mereka, ia adalah gambaran hidup orang yang menderita. Ia merupakan potret insan yang dirundung musibah yang berlapis-lapis dan bertubi-tubi. Namun sejatinya, apakah lelaki paruh baya itu orang yang menderita?

Tentu saja tidak. Justru sebaliknya, ia adalah lelaki yang bahagia. Bahkan mungkin saja ia menganggap dirinya sebagai yang terbahagia di dunia ini. Ia adalah lelaki yang bebas mengudar rasanya, jiwanya, dan raganya pada seluruh semesta.

Seringkali lelaki paruh baya menertawakan dunia. Ia selalu menertawai para manusia yang selalu senang membenamkan diri mereka pada tengiknya dunia, hingga mereka menuai keluh kesah dan penderitaan yang berkepanjangan. Dalam benaknya selalu menggumam, apanya yang manarik dari dunia yang tengik ini?

Mungkin saja mereka terlalu bodoh, sehingga terus memburunya. Tidakkah mereka menyadari bahwa dalam kesementaraan hidup ini adalah waktu yang tepat untuk merayakan kebebasan?

Silakan berbuat sebebas-bebasnya asalkan orang lain tak terusik oleh keberadaanmu. Tunggu sajalah! Orang-orang justru akan berbalik bersimpati kepadamu. Mereka akan semakin merasa aman tenteram dengan kehadiranmu. 

Sebab kehadiranmu adalah simbol bagi mereka bahwa ternyata mereka tidaklah sendirian dalam mengarungi penderitaan dan kegagalan dunia ini. Itulah yang senantiasa lelaki paruh baya pikirkan, untuk menghadapi sinisnya pandangan manusia.

*

Sekali waktu, lelaki paruh baya menyesapi rokok kreteknya dengan begitu nikmat. Begitu kental kenikmatan yang ia rasakan hingga ia selalu saja menceritakannya. Sambil merokok, ia gemar bercerita dalam bingkai monolog, entah ada atau tidak, orang yang mau mendengarkannya.

Bagi lelaki paruh baya, bercerita monolog adalah kesempatan terbaik untuk mengudar rasa. Ia tak mau kalah bersaing dengan para pujangga dan para penulis cerita amatir kemarin sore itu, yang juga selalu merasakan keasyikan tersendiri saat berirama dan mengayunkan jemarinya.

Saat bercerita, watak lelaki paruh baya bukanlah orang yang pelupa. Ia selalu mampu menceritakan apa saja yang pernah ia lalui dalam kehidupannya, yang terkadang ia selipkan kidung nyanyian sebagai relaksasi atas jalannya cerita, bak kisah wayang maupun kisah romansa dalam film-film India.

Terbukti, ia lebih piawai dari seorang dalang kondang di kampungnya dan lebih hebat dari seorang sutradara yang hanya mengejar komersialisasi atas jalan cerita. Siapapun yang hendak menyangkal kemampuannya, maka ia tidak akan segan untuk membuktikannya.

*

Pada siang hari, lelaki paruh baya biasa beristirahat, setelah kesibukannya sehari-hari yang ia isi dengan bercerita dan membanting dunia. Di tengah hari yang terik itu, ia akan menggunakannya sebagai waktu istirahat yang panjang. Ia tidak akan terbangun dari istirahatnya, kecuali ia mendengar perutnya telah meronta-ronta pertanda ingin lekas diperhatikan. Terkadang ia melobi perutnya, tunggulah barang sebentar, yang terkadang ia berhasil, dan tidak jarang ia gagal.

Dunia sungguh begitu ajaib. Tak pernah sekali pun lelaki paruh baya itu pernah meminta, baik kepada keluarganya, tetangganya, apalagi sahabat masa kecilnya. Namun, di tengah pengikatan telapak tangannya itu untuk menengadah pada manusia, justru dunialah yang selalu datang menghampirinya begitu terbangun dari mimpi yang panjang.

Saat terbangun, ia selalu mendapati aneka makanan bergizi dan lezat dari warung-warung berkelas yang tersimbolkan pada kemasan bungkusnya. Menu makanan yang ia santap selalu saja makanan yang branded, yang jauh lebih layak dibandingkan dengan makanan para pekerja harian yang biasa berlalu lalang di hadapannya. Menu yang selalu mampu menggairahkan nafsu makannya dan selalu cukup porsinya untuk mengisi istirahat-istirahat panjangnya.

Usai makan, lelaki paruh baya tidak lupa dengan rutinitasnya untuk mengumpulkan koin, menggores-goreskannya pada dasar lantai paving di trotoar jalan, dan sesekali membantingnya. Dalam batinnya selalu terngiang, “Sudah tepat aku membanting dunia. Untuk apa aku mencarinya, sementara ia selalu datang menghampiriku?”