Mahasiswa
2 bulan lalu · 261 view · 3 menit baca · Perempuan 83141_99571.jpg

Lelaki Menjadi Penentu Standar Kecantikan pada Perempuan

Perempuan memang ciptaan Tuhan yang selalu menarik. Boleh dikatakan bahwa ungkapan “perempuan adalah racun dunia” adalah sebuah ungkapan yang 100% tidak benar. Saya pribadi lebih suka mengungkapkan bahwa “perempuan adalah perhiasan dunia”. Tulisan ini akan membahas tentang perhiasan tersebut.

Berkenaan dengan perempuan, istilah cantik selalu menjadi sebuah atribut yang sangat didambakan oleh kaum hawa tersebut. Banyak perempuan yang rela mengeluarkan uang banyak demi meraih simbol kecantikan tersebut. Lalu timbul pertanyaan, sebenarnya apa yang menjadi ukuran perempuan tersebut sehingga bisa disebut sebagai perempuan yang cantik.

Beauty is not the face, beauty is a light in the heart. –Kahlil Gibran

Ungkapan di atas mungkin sangat populer dan bisa digunakan tameng oleh banyak perempuan yang menyatakan bahwa cantik tidak dilihat dari rupanya, melainkan dari hatinya. Hal tersebut tentu saja banyak yang mengamini dan meyakini. Namun apakah salah jika perempuan kemudian menginginkan rupa yang cantik? Tidak juga kan.

Banyak konsep tentang kecantikan. Inner/outer beauty contohnya. Inner beauty sudah jelas bahwasanya kecantikan perempuan ditentukan dari dalam yaitu hatinya yang diwujudkan dari perbuatan, sikap dan tingkah-lakunya. Yang menjadi titik fokus di sini adalah outer beauty. Dalam konsep outer beauty, siapa/apa yang menentukan standar kecantikan dari seorang perempuan?

Sejarah mencatat bahwa standar kecantikan pada perempuan diukur dari kecantikan seorang figur yang terkenal dan menjadi ikon pada masa tertentu. Sehingga figur tersebut menjadi kiblat oleh banyak perempuan untuk meraih kecantikan. Berikut adalah beberapa contoh figur nyata maupun fiksi yang pernah menjadi role model para perempuan untuk menjadi cantik pada beberapa zaman.

Ratu Victoria (era Victoria)

Era Victoria terhitung dari masa hidup ratu Victoria yaitu pada tahun 1837- 1901. Standar kecantikan perempuan pada era-era ini tentu saja berdasarkan ratu mereka yaitu dengan ciri khas gaun tebal sehingga lebih bersifat tertutup dan tetap terlihat anggun. 

Namun konon katanya pada zaman ini gaun yang dipakai tidak memperhatikan kenyamanan. Artinya mereka yang memakai gaun-gaun tebal tersebut lebih mementingkan keanggunan ketimbang kenyamanan.

Marilyn Monroe (1940-an)

Selain terkenal menjadi ikon kecantikan, Marilyn Monroe juga disebut-sebut sebagai simbol seks. Dia adalah seorang aktris legenda Hollywood, model dan juga penyanyi. Monroe dianggap mempunyai kriteria-kriteria tertentu sehingga dia dikatakan cantik. Beberapa kriteria tersebut adalah warna rambut tepat, kulit yang berseri dan lembap, kelopak mata yang cenderung lebar, alis mata tertata, berlipstik merah, dan mempunyai aroma yang pas.

Lolo Ferrari (1960-an)


Lolo Ferrari adalah seorang aktris yang lahir di Prancis. Dia juga pernah membintangi film porno. Lolo Ferrari melakukan operasi payudara sehingga hal ini dianggap mampu mempengaruhi perempuan pada zaman itu untuk mempercantik dirinya dengan cara memperbesar payudaranya.

Baywatch (1980-an)

Baywatch adalah sebuah serial drama Amerika tahun 80-an yang bercerita tentang kehidupan penjaga pantai. Serial ini diperankan oleh banyak perempuan. Pakaian yang dikenakan perempuan-perempuan inilah yang mampu menarik perhatian. Mereka dianggap sebagai perempuan yang cantik karena memakai pakaian pantai sehingga terlihat sexy.

Barbie (1990-an)


Barbie awalnya hanyalah sebuah boneka buatan Amerika kemudian menjadi tokoh dalam dunia fiksi. Barbie mampu menarik perhatian kaum hawa karena kecantikannya dianggap sempurna. Ada istilah sindrom Barbie yang berarti seseorang tersebut menginginkan bentuk tubuh dan wajah seperti boneka Barbie tersebut.

K-Pop (era Milenial)

Tren Korea memang sangat terkenal baru-baru ini, khususnya di Indonesia. Tidak salah jika standar kecantikan yang ditawarkan para artis K-Pop mampu menarik perhatian kaum hawa. Tidak sedikit perempuan-perempuan yang menyukai K-Pop dan berlomba-lomba menjadikan dirinya seperti artis korea tersebut.

Nama-nama di atas hanyalah beberapa contoh saja. Masih banyak figur-figur lain yang menjadi role model para perempuan pada masa-masa tersebut. Dari sekian banyak role model tersebut muncul pertanyaan lagi “dari mana figur-figur tersebut memperoleh standar cantik yang kemudian ditiru banyak perempuan?”


Dalam teori feminisme ada istilah male gaze atau juga bisa disebut sudut pandang lelaki yang diperkenalkan oleh Laura Mulvey. Male gaze adalah suatu tindakan dalam menggambarkan perempuan dan dunia melalui sudut pandang lelaki. Dalam hal ini bisa diartikan bahwa standar kecantikan perempuan itu didasarkan dari penglihatan lelaki.

Simbol kecantikan yang selalu didambakan kaum hawa tersebut selalu mengikuti apa yang diinginkan lelaki. Lelaki secara tidak langsung bisa menentukan standar kecantikan untuk perempuan. Hal ini juga berarti bahwa kecantikan perempuan semata-mata hanya untuk lelaki. 

Namun teori tersebut juga banyak ditentang oleh perempuan. Artinya juga banyak perempuan yang mempunyai standar cantik sendiri dan kecantikan mereka tidak untuk para lelaki, melainkan untuk dirinya sendiri.

Pada intinya kecantikan memang mempunyai standar. Jika dari pernyataan di atas menyatakan bahwa pihak lelaki mempunyai kuasa atau ikut serta dalam menentukan standar kecantikan perempuan. Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah “dari mana lelaki tersebut mempunyai standar seperti itu? Kenapa seperti itu? Mungkin itu adalah kemauan Tuhan.

Artikel Terkait