Film pendek berjudul Basiyo mBarang Kahanan yang disutradarai oleh Triyanto “Genthong” Hapsoro diproduksi 2015 telah banyak menyita perhatian pemirsa. Film yang mengisahkan kehidupan Pelawak Basiyo dalam meniti tangga berkesenian. Dengan mengambil latar belakang Yogyakarta, tetapi dari film tersebut kita dapat memetik nilai-nilai kehidupan yang patut diteladani terutama bagi dunia keartisan saat ini.

Sejak diunggah di Youtube, Pak Bas panggilan akrab Basiyo yang berjaya tahun 1970 an baru ditonton sekitar 31 ribuan kali. Faktor gap generasi yang jauh sehingga belum banyak dikenal oleh generasi-generasi saat ini terutama milenial. Peran Pak Bas diperankan orang lain, namun proses produksinya melibatkan keluarga dekat Pak Bas yang masih hidup untuk mendapatkan kemiripan dengan aslinya.

Hampir di setiap pementasan Pak Bas selalu diawali dengan ngudoroso (ngomong sendiri). Pak Bas menceritakan pandangannya tentang yang dilihat sehari-hari dengan memberikan kritik terhadap didinya sendiri, dan ditertawakan sendiri. Praktek-praktek semacam ini dapat beliau lakonkan berjam-jam mirip komika-komika dalam stand up komedi.

Sebelum dikenal sebagai pelawak, Pak Bas merintis kariernya sebagai pemain ketoprak. RRI menyewakan rumah gedeg (anyaman bambu) untuk Pak Bas tinggal dan berlatih bersama anggota kelompoknya. Pak Bas membagi upah kepada teman-temannya secara bagi hasil setelah selesai pementasan.

Sadar bahwa kehidupan sebagai pemain ketoprak sulit, Pak Bas tidak mengijinkan anak-anaknya mengikuti jejak sebagai pemain ketoprak. Bahkan dalam sebuah adegan, putra Pak Bas berpacaran dengan putri Pak Darsono yang sama-sama pemain ketoprak. Pak Bas melarang keras hubungan mereka hingga antara Pak Bas dan Pak Darsono jothakan (tidak bertegur sapa).

Kesehariannya Pak Bas bukan tipikal serius bahkan tidak suka cengengesan. Kesaksian ini dirasakan oleh keluarga dan orang-orang di sekitarnya, namun ketika tampil pentas keseriusan seketika sirna, dan menjelma sebagai pengocok perut yang ngeyel serta cerdas. Di luar itu, Pak Bas dikenal dermawan kepada orang lain yang membutuhkan meskipun keadaan Pak Bas sendiri tidak berlebihan.

Bakat kelucuannya semakin terasah sejak Pak Bas sering berperan sebagai pengisi suara alam pada pagelaran ketoprak yang diadakan RRI. Ia dikenal terampil menirukan suara binatang, petir, angin maupun air. Pak Bas menggunakan benda-benda tertentu seperti seng yang dipukul-pukul untuk memunculkan suara petir, dan didukung tingkah laku aneh yang membuat seisi ruangan rekaman tertawa terpingkal-pingkal. 

Harto Basiyo dan Widayat, salah seorang putra Pak Bas dan tokoh seniman kethoprak menjelaskan bahwa ketotalan Pak Bas dalam berkesenian sangat luar biasa. Pak Bas tidak mau menyebutkan upah pementasannya dan mempersilakan penyewa jasanya untuk mengira-ngira sendiri. Bagi Pak Bas yang penting keras berlatih dan setelah selesai pementasan penonton terhibur baginya sudah lebih dari cukup.

Salah satu cirikhas Pak Bas dalam melawak, adalah membiarkan penonton mengikuti alur ceritanya terlebih dahulu dan di ujungnya penonton baru tertawa geli sendiri karena merasa tersindir. Suatu ketika rumah Pak Bas akan digusur karena lokasinya dibutuhkan oleh pemerintah DIY, dan hal inipun dihadapi dengan santai sehingga Pak Bas tetap minta kepada keluarga dan teman-temannya tidak risau dan tetap fokus menjalankan pementasan.

Pak Bas juga anti rasis, di setiap pementasannya beliau tidak pernah sekalipun membully fisik lawan mainnya, dan bahkan ia bekerjasama cukup lama dalam produksi pertunjukannya dengan etnis tertentu. Andjarwani, salah satu seniman kethoprak, mengatakan meskipun Pak Bas sedang jothakan (diam-diaman) dengan salah satu pemain bernama Darsono, namun dalam penampilan keduanya tidak memperlihatkan sedang bermasalah, dan bahkan sinergi diantara keduanya menghasilkan pertunjukannya disebut-sebut saat itu paling sukses.

Cerita film Basiyo mBarang Kahanan berusaha untuk mematahkan stereotip glamour oleh karakter Pak Bas. Tri Mudhotomo, nama grup ketoprak besutan Pak Bas yang didiami para seniman terkenal saat itu, tapi tetap bersahaja dalam keseharian maupun pementasan. Pak Bas tidak hanya digambarkan sebagai lelaki yang mampu memimpin kelompok ketoprak dengan baik, tapi juga sebagai pemimpin yang dicintai keluarga dan pemain, karenanya dunia seni kethoprak dan dagelan mataram sangat kehilangan ketika Pak Bas meninggal dunia secara mendadak.

Penggambaran perempuan yang senang bergosip di Basiyo mBarang Kahanan tidak bisa dianggap sebagai gambaran stereotip tersebut. Pasalnya, Bu Bas yang bertindak sebagai perawat sekaligus pemain digambarkan sebagai sosok bijak yang selalu menasehati teman-temannya untuk tidak menggosip dan hanya fokus terhadap pekerjaan. Meskipun keluarga Bu Bas sedang dalam tekanan ekonomi akibat terancam penggusuran sekalipun.

Pada adegan lainnya, Pak Bas dalam kondisi sakit jantung parah namun ironinya keluarga dan seluruh pemain tidak ada yang tahu, karena Pak Bas tetap aktif dan tidak pernah mengeluh sakit. Beliau berprinsip seluruh pemain jangan sampai tahu akan penyakitnya khawatir menjadi beban keluarga. 

Dalam sebuah acara memperingati HUT Kemerdekaan RI Ke-34 Pak Bas dan kelompoknya didapuk mengisi acara, dan di akhir pementasan Pak Bas hampir terjatuh dari tangga, beruntung berhasil ditangkap oleh istri dan orang-orang yang berada di sekitar panggung.

Film ini diproduksi oleh Sanggit Citra Production, rumah produksi yang berbasis di Kota Jogja. Didanai oleh Dinas Kebudayaan setempat tayang pada 2015. Film ini merupakan akar dari guyon satire ala Jogja dan film Tilik adalah buahnya. Melalui berbagai macam rupa karakter di film tersebut nyaris tidak menggunakan bahasa verbal dalam menyampaikan pesan di pementasannya.

Sejumlah komentar mengapresiasi pembuatan film karena dianggap sebagai pelopor hadirnya “pelajaran moral” bagi film-film selanjutnya. Pak Bas dianggap berhasil meletakkan dasar-dasar berkesenian bahkan belum sempat menikmati hasil jerih payahnya sudah keburu wafat. Sepulang dari pementasan Pak Bas minta dikerok oleh Bu Bas bahkan sambil bercanda Pak Bas minta dilayani nafkah batin, namun ketika Bu Bas menyanggupinya, Pak Bas malah sare (tidur) untuk selama-lamanya.

 Wahyu Agung Prihartanto, Penulis dari Sidoarjo.