Orang mungkin tidak mengira bahwa dari sebuah tanaman kopi yang legendaris di jaman Hindia Belanda, kemudian melahirkan istilah IT yang sangat populer di dunia modern saat ini yaitu bahasa pemrograman “Java” dan “JavaScript.”

Java programming atau bahasa pemrograman Java mulai diperkenalkan pada tahun 1995 oleh sang pegagas, James Gosling saat bekerja di Sun Microsystems. Keistimewaan bahasa pemrograman ini adalah dapat dijalankan di berbagai berbagai platform dengan sistem operasi yang berbeda sehingga terkenal dengan slogannya “write one, run anywhere.” Sampai dekade ini, Java menjadi bahasa pemrograman yang paling populer digunakan di seluruh dunia dan secara luas dikembangkan dalam berbagai jenis sistem operasi dan aplikasi.

Konon si Gosling ini suka menyeruput kopi Jawa (atau hanya sering disebut Java). Maka ketika ia hendak memberikan nama pada bahasa pemrograman yang ia temukan, teringatlah akan kopi favoritnya itu. Sehingga ia pun kemudian memakai “Java” sebagai temuan penting yang ia umumkan.

Sejarah Kopi Jawa (Java Coffee)

Kopi Jawa atau Java coffee telah melewati masa ribuan tahun sebelum pada akhirnya kopi ini mengalami kesulitan untuk berkembang dan pudar popularitasnya akibat dari munculnya penyakit karat daun. Kopi yang sekarang banyak diperjualbelikan lebih banyak dari varietas Robusta sedangkan kopi Jawa yang pernah mengalami masa-masa keemasan adalah jenis Arabica yang memiliki cita rasa tiada duanya.

Tokoh yang boleh dibilang melakukan penelitian secara kompehensif dan banyak menjalani pelayaran ke berbagai negara dalam rangka menemukan jejak sejarah kopi adalah William H. Ukers. Ia awalnya adalah seorang editor yang bertugas di sebuah majalah internal milik sebuah perusahaan kopi di Belanda bernama The Spice Mill.

Sebelum berhenti bekerja di majalah tersebut, ia sempat mengusulkan kepada atasannya guna melakukan ekspansi atau perluasan jangkauan pembaca majalah The Spice Mill sehingga masyarakat umum dapat ikut menikmati isi majalah tersebut. Namun usulannya ini ditolak mentah-mentah oleh pimpinannya. Ia pun memilih resign dari pekerjaannya sebagai editor majalah The Spice Mill untuk kemudian memfokuskan diri pada penelitian yang mendalam tentang sejarah kopi (termasuk teh). Perjalanan panjangnya dengan dunia kopi melahirkan karya besar yang banyak dipakai sebagai rujukan para peneliti selanjutnya yaitu sebuah buku berjudul All About Coffee.

Ia menyatakan bahwa kopi yang asal mulanya berasal dari Abyssinia, kemudian menyebar ke seluruh dunia melalui sebuah pelabuhan laut di wilayah pesisir pantai Yaman yang bernama Pelabuhan Mocha (Mukha atau Mokha). Awalnya bangsa Arab melakukan proteksi atau pencegahan agar bibit kopi tidak menyebar ke negara-negara lain karena keistimewaan dan khasiat kopi tersebut yang bernilai tinggi. Namun demikian upaya itu tidak sepenuhnya berhasil karena beberapa pendatang kemudian berhasil membawa benih kopi keluar dari Pelabuhan Mocha, Yaman. Salah satu bangsa yang sukses membawa bibit kopi tersebut adalah Belanda.  

Selanjutnya pada tahun 1696, Adrian Van Ommen, seorang komandan atau pimpinan dagang Belanda di wilayah Malabar, India, berhasil membawa bibit kopi dari Kananur, Malabar, ke Pulau Jawa. Hal itu dimaksudkan untuk mencoba memperkenalkan tanaman kopi di Nusantara yang dimulai dari Pulau Jawa.

Bibit kopi yang dibawa Adrian Van Ommen itu selanjutnya ditanam di sebuah perkebunan di dekat Batavia yang bernama Kedawoeng Estate. Pada masa itu pemerintahan Hindia Belanda berada di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Willem Van Outshoorn.

Namun sayang, upaya perdana penanaman pohon kopi tersebut gagal total akibat bencana alam berupa banjir dan gempa bumi yang memporakporandakan perkebunan kopi di Kedawoeng Estate. Sehingga pada kesempatan berikutnya yaitu di tahun 1699 dicoba lagi didatangkan bibit kopi kedua dari Malabar, India, ke Pulau Jawa. Kali ini bibit tersebut ditanam di wilayah lain yang masih tidak terlalu jauh juga dengan Batavia, tepatnya di sebuah kampung yang kini disebut sebagai Kelurahan Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Pada periode penanaman kedua inilah, pemerintah Hindia Belanda berhasil melakukan panen perdananya. Atas kesuksesannya itu, wilayah penanaman kemudian diperluas ke daerah di sekitar Pondok Kopi. Yang terkenal adalah perkebunan di wilayah Cianjur dimana bupatinya kala itu, Raden Aria Wira Tanu III, berhasil menjalankan metode tanam paksa yang dilancarkan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kopi yang disebut sebagai kopi Jawa (Java coffee) itu secara gemilang mampu menembus bursa perdagangan kopi di Amsterdam pada tahun 1711 sehingga melambungkan identitas kopi Jawa (Java coffee) di dunia internasional. Bahkan kopi ini berhasil mengalahkan dominasi kopi Mocha dari Yaman yang notabenenya merupakan asal muasal kopi sebelum tersebar ke penjuru dunia.

Ketika penikmat kopi di jaman itu disajikan kopi Jawa, mereka menyebutnya sebagai “Java” saja sehingga menyebut Java sama saja menyebut kopi yang berkualitas tinggi. Maka ada istilah “a cup of Java” dan bukan “a cup of Java coffee.”

Sayangnya, kopi Jawa (Java coffee) harus mengalami sejarah pahit ketka pada tahun 1878, perkebunan kopi di Jawa khususnya yang berada di dataran rendah, mengalami kerusakan parah akibat penyakit karat daun. Hal ini menyebabkan pemerintah Hindia Belanda harus mengganti varietas tersebut ke jenis lain yang lebih tahan dari serangan karat daun. Maka muncullah varietas baru bernama kopi Robusta yang lebih tahan penyakit meskipun secara cita rasa, levelnya berada di bawah kopi Jawa yang berjenis Arabica.

Meskipun kejayaan kopi Jawa mulai memudar namun kita masih bisa menikmati romantisme masa-masa keemasan. Salah satunya kita sedikit diingatkan akan keberadaaan kopi Jawa (Java coffee) dalam bentuk lain yaitu di dunia IT yang melahirkan istilah bahasa pemrograman Java (Java programming) dan JavaScript. Paling tidak jejak kejayaan itu masih dapat dirasakan meski dalam dimensi yang berbeda. Sebagai bangsa, kita tetap bangga atas pencapaian ini !.