Bisa dibilang, Chuck Berry menang banyak ketika ia berhasil menancapkan riff gitar lagu Johnny B. Goode di kepala masing-masing manusia yang mendengar lagu itu sejak awal dirilis, 1958. Lagu tersebut sukses besar di pasar. Riff gitar yang disusunnya memikat khalayak.

Kalau bukan karena lagu yang ia ciptakan itu, perkembangan musik terutama rock n’ roll sepertinya tak pernah menjadi sebegitu terpusat pada pertempuran band-band rock dalam mencipta riff berkekuatan superglue di lagu mereka. Chuck Berry-lah orangnya. Ialah penabuh gong perang riff sesungguhnya.

Pertempuran riff itu serius di musik. Adu kreativitas mengemas riff sampai sekarang masih terjadi. Dengan kompetisi seketat itu, riff seolah menjadi kekuatan tersendiri. Maka tak heran jika kita sering kali lebih cepat mengingat komposisi riff daripada susunan lirik sebuah lagu.

Hal ini ditegaskan juga oleh Nile Rodgers. Katanya, riff bukan hanya elemen fondasi statis, ia sudah layaknya sungai yang bergerak sepanjang lagu. Malah, riff, pada sudut pandang pasar, bisa pula ikut menentukan baik buruknya sebuah lagu. Kalau riff lagumu buruk, lagumu buruk.

Mungkin pertama sekali kita perlu tak perlu untuk mengutarakan definisi ini; Riff adalah pernyataan singkat berupa not yang diulang-ulang sepanjang lagu. Ia dicipta untuk menggoda telinga manusia lewat unsur kegenitannya. Sweet Child O’ Mine milik Guns n' Roses sepertinya bisa didakwa sebagai contoh paling mudah di sini. Dirilis tahun 1987 dalam album Appetite for Destruction, 12 baris pertama lagu GnR ini sangat representatif untuk menggambarkan apa itu riff.

Berawal dari ‘kesalahan’ memencet not gitar ketika sedang latihan, Slash sang gitaris lalu merumuskan bunyi-bunyi gagal itu menjadi riff genit yang membayang pada seisi lagu. Jadi, untuk lagu ini, agaknya kita tak kena dosa kalau mengatakan, Sweet Child O’ Mine dibangun dari sebuah kesalahan.

Inilah luar biasanya musik. Bayangkan, dalam musik, kesalahan pun jika diulang-ulang beberapa ketukan mampu berubah menjadi keindahan. Slash dan Guns n' Roses hanyalah satu bukti bahwa di musik tak ada yang namanya kesalahan, dan hal itu sangat dimungkinkan.

Sayangnya, bukan Slash atau GnR yang patut diberi tempat khusus ketika kita mulai membincang riff. Mereka mungkin manis, namun singgasana itu sesungguhnya hanya layak dipersembahkan kepada Led Zeppelin.

Led Zeppelin-lah sebenar-benarnya raja di raja yang merajai panggung perkelahian riff ini. Dikendarai oleh gitar Jimmy Page, anomali drum John Bonham, dan kawalan bass John Paul Jones serta Robert Plant si vokal, puluhan lagu Led Zeppelin dengan riff unggulan cum musikalitas aneh telah lahir hingga menancapkan taring-taringnya menembus kulit dan daging musik rock n’ roll.

Dalam keyakinan saya, membincang Led Zeppelin tanpa mengetengahkan keahlian mereka mencipta riff, sama dengan membicarakan Soekarno tanpa mempermasalahkan soal-soal perang dingin. Keduanya sama-sama laku koruptif yang tak pernah dapat dibenarkan oleh rasa, logika dan akal budi. Ini serius!

Di luar Led Zeppelin, banyak juga riff tercipta dari band-band lain yang tak kalah hebat. Itu pasti. Iron Man milik Black Sabbath, dan Smoke on The Water-nya Deep Purple hanyalah segelintir dari yang banyak itu. Maka, jika di sini lebih sering membahas tentang Led Zeppelin, bukan berarti band-band lain yang komposisi riff-nya tak kalah ciamik menjadi otomatis buruk.

Lebi-lebih, pembahasan riff adalah pembahasan soal keindahan, estetika. Antara yang indah dan yang tidak indah. Maka dengan begitu, ‘subjektivitas’ ketika memamah perihal estetika adalah konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Unsur-unsur ketika membahas estetika memang tak pernah secara ketat membatasi subjektivitas. Malah sebaliknya, subjektivitas harus dirayakan dan digalakkan ketika membicarakan keindahan.

Upaya itu tak menjadi masalah selama subjektivitas yang sedang dirayakan tersebut tak melahirkan kontradiksi. Sebab, se-subjektif apa pun, idealnya, kontradiksi mengenai estetika memang tak pernah dimungkinkan; de gustibus est disputandum (tidak mungkin kita berdebat tentang selera).

Maka sangat sah jika di sini dikatakan, Led Zeppelin memiliki segudang kekuatan yang berbeda dari band lain dalam kapasitas mencipta riff. Ingat lagu Whole Lotta Love, lagu yang hanya dibangun dari dua macam akor? Tentu ingat. Ini lagu sihir. Whole Lotta Love adalah lagu Zeppelin yang kali pertama saya tahu.

Sedikit cerita. Awal-awal masuk SMP, ada sebuah majalah musik mingguan yang rutin saya beli. Majalah itu terkenal di kalangan kami yang berkantong cekak dan pas. Saya senang dengan kontennya, terutama konten partitur dan tablatur—kebetulan, saya sedang berjuang agar bisa menjadi gitaris terhandal se-kecamatan kala itu.

Suatu hari majalah ini pernah mengangkat profil John Paul Jones dan menayangkan partitur dari bassline lagu Whole Lotta Love. Yang saya tak habis pikir adalah lagu dua akor itu ditulis lengkap dan memakan hampir lima halaman. Lima halaman untuk menuliskan dua akor? Lagu apa ini? Pertanyaan itulah yang membuka gerbang perkenalan saya dengan Led Zeppelin.

Hingga akhirnya saya tahu, mereka juga punya lagu keren semacam Heartbreaker, Moby Dick, D’yer Mak’er, Black Dog, Immigrant Song, dan lain-lain. Kalau dirasa-rasa, kesemua lagu Led Zeppelin mempunyai riff yang sangat mudah menempel di kepala. Cukup menulis dan melihat judul lagunya saja seperti terdengar ada tetangga yang sedang menyanyikan lagu ini sayup-sayup, entah tetangga yang mana dan entah suara siapa.

Pernah suatu masa, setelah kenal dengan Led Zeppelin, kerjaan saya hanya ke warnet tiap hari. Apalagi kalau bukan mengetik “top 10 Led Zeppelin songs” di kolom pencarian google, lalu mendownload lagu Led Zeppelin semampunya. Kegiatan rutin ini kemudian membuat saya membenarkan perkataan orang-orang bijak yang bilang bahwa cinta itu buta.

Semakin hari, saya mulai tak lagi melihat ranking atau sejenisnya. Tak peduli juga uang pemberian orangtua dihabiskan hanya untuk biaya warnet. Pokoknya, apa pun judulnya, tiap hari harus bisa membawa pulang beberapa lagu Led Zeppelin ke rumah, titik.

Jika sudah sampai di rumah, lagu yang tadi telah saya download secara acak segera saya putar. Suatu ketika, lagu Led Zeppelin yang saya bawa pulang itu berjudul The Ocean. Begitu sampai ke rumah dan saya putar, alangkah saya terheran-heran di hari itu juga. Lagu The Ocean hasil dari download gratisan ini memaksa saya untuk terus memutarnya selama hampir lebih kurang 2-3 jam. Padahal lagu itu hanya berdurasi 4 menit sekian.

The Ocean memaksa saya berpikir luas, seluas judulnya, ocean; samudera. Sebagai pembelajar gitar awal-awal, saya tentu penasaran, bagaimana ketukan-ketukan aneh itu bisa disebut sebagai lagu? Bagaimana dimungkinkan ketukan 4/4 dalam sekejap dan halus bisa langsung berubah ke 7/8?

Bagaimana bisa riff gitar tetap berjalan ritmis sedangkan ketukan drum tak pernah sejalan dengannya, yang itu berarti, ada dua time signature (penanda waktu) dalam satu lagu? Gila, Led Zeppelin dalam Samudera memang benar-benar gila.