Orang begitu banyak menolak membicarakan apa yang terjadi di balik pintu sebuah rumah. Hak kepemilikan atas properti pribadi dan segala hal yang berlangsung di dalamnya memang menjadi bagian privat yang seharusnya hanya dikuasai tuannya. 

Tapi kita luput, kita sering kali menikmati gosip tetangga sampai kehidupan pribadi seorang publik figur. Mengulik hal-hal negatif untuk sekadar menguatkan bahwa kehidupan pribadinya baik-baik saja dan menyenangkan ketimbang orang lain.

Secara teknis, ada kesadaran yang sering kali abai. Ruang publik seperti bus ataupun kereta mengeliminasi semua jarak ketika berdesakan. 

Kontak fisik yang berlaku ini memang didasarkan karena tuntutan kondisi, namun ada beberapa orang yang mengambil kesempatan untuk melakukan tindak kejahatan, pelecehan seksual, memegang payudara atau pantat perempuan secara sengaja misalnya. Tentu saja kejadian tersebut telah merenggut ranah pribadi orang lain.

Kontak fisik antar manusia dalam kondisi tertentu dapat dijadikan sebagai jarak seseorang untuk memilih ranah privatnya sendiri ketika berhubungan dengan orang lain. Ada standar jarak yang sengaja dibuat masing-masing orang, memilih untuk tidak berjabat tangan dengan lawan jenis contohnya.

Ada hal menarik yang ingin saya ceritakan, mengenai pengalaman menolak berjabat tangan dengan lawan jenis. Itu berlaku dalam kurun waktu sekitar tiga bulan. 

Ada sebuah keinginan yang menarik perhatian ketika melihat sebagian perempuan di sekitar memilih untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis. Rasanya suci sekali.

“Lebih baik menyentuh bara api neraka daripada harus bersentuhan dengan yang bukan mukhrim!” kata seorang yang saya kenal suatu hari.

Saya yang nekat menjadi kelihatan alim kemudian kembali ke jalan hidup seperti biasa. Berusaha jujur pada dirinya sendiri. Kembali memutuskan berjabat tangan dengan siapa saja, tua-muda, laki-laki-perempuan, saudara atau bukan. 

Sampai pada titik menyadari satu hal ketika mulai kembali berjabat tangan, ada semacam reaksi yang terjadi. Muncul rangsangan aneh yang dulunya tidak pernah hadir sehingga memicu denyut dari jantung “justru” sampai pada kelamin meski tanpa menimbulkan hasrat seksual. Dan hal seperti itu tidak berlaku sampai kebiasaan berjabat tangan kembali.

Cara hidup orang ternyata tidak bisa dipaksakan agar sesuai antara satu dengan yang lain. Kebiasaan yang berbeda dengan beragam pola hidup tidak bisa distandarisasi oleh orang lain atau mayoritas. 

Immanuel Kant pernah berkata bahwa ada kondisi tertentu yang mengatur cara kerja pikiran dan memengaruhi cara seseorang memandang dunia. Sering kali kita sebut sebagai doktrin.

Doktrin telah memengaruhi cara hidup. Sebenarnya tidak ada yang salah selama pola hidupnya tidak merugikan orang lain. Yang salah adalah ketika memaksakan doktrin yang menahun ada dalam dirinya kepada masyarakat umum.

Masyarakat adalah bagian dari ruang sosial. Sebagai individu, kita hidup di dalamnya. 

Seperti penyataan ST. Sunardi, seharusnya setiap orang memiliki etika sosial, sebuah rasa tanggung jawab untuk membangun ruang sosial yang tidak merugikan kelompok-kelompok tertentu. Maka setidaknya dengan menumbuhkan ruang yang nyaman bisa mengurangi intoleransi di sekitar kita. Sanggupkah?

Mari kita menilik lini media sosial, semua orang hampir menjadi jurnalis yang menyebarkan beragam informasi. Perihal seseorang yang menolak duduk bersebelahan dengan penganut agama lain di sebuah fasilitas publik, persekusi yang dilakukan terhadap waria, pelarangan umat beragama melakukan bakti sosial, dan juga tindak kriminal terhadap umat beragama yang sedang beribadah di wilayahnya sendiri, menjadi sarapan selama 2018 berjalan memasuki bulan ke dua.

Siapa yang melakukannya? Banyak yang bilang itu oknum.

“Agama bahkan mengajarkan kita cara hidup mulai dari bangun sampai bangun lagi. Lantas, bagaimana saya tidak menjalankan itu semua di semua kehidupan saya?” sebuah pernyataan yang saya ingat samar-samar pernah dibaca pada sebuah percakapan jejaring sosial.

Pernyataan itu bagi saya tidak sepenuhnya benar. Setiap hak seseorang dalam menjalani sifat agamanya dibatasi pula dengan sifat agama lain bagi penganutnya. 

Tidak semua hal harus mengikuti standar yang diyakini mayoritas. Sigmund Freud sudah sejak lama menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan menyatakan ide yang tidak disukai sebagai ide yang salah. Nyatanya begitu, bukan?

Konstitusi negara Indonesia mengakui 6 agama plus aliran kepercayaan lain. Itu hanya 0,1 % dari total agama di dunia yang berjumlah 5000. 

Maka negara seharusnya melindungi semua warga tanpa terkecuali. Harus ada rasa aman yang dirasakan semua golongan ketika hidup di bumi pertiwi. Ini telah disepakati dan banyak sekali dilupakan orang sekarang.

Saya ingin ingatkan kembali, masyarakat adalah bagian dari ruang publik. Sedikit berat memang, melihat sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan cara pandang pribadi.

Tapi setidaknya, “Kita harus legowo,” filosofi Jawa selalu bilang begitu. Nrimo terhadap kebhinnekaan yang jelas-jelas sudah menjadi identitas sejak jabang bayi nenek moyang lahir.  

Dan memang benar banyak tafsir yang membuat orang harus begini dan begitu, tapi individu adalah tuhan bagi dirinya sendiri, bukan bagi orang lain! Maka, jadilah manusia saja. Kowe dudu munyuk!