Dengan demikian menarik untuk ditelaah lebih lanjut, bahwa kehadiran kedua kation tersebut berpeluang memperlemah kaki Metionin pada virus Sars-Corona penyebab rusaknya struktur dinding Lektin pada Surfaktan Paru. Kedua kation itu terkandung banyak dalam buah pisang.


Penelitian yang menggunakan mamalia uji coba jenis tikus (murine), menunjukkan bahwa Lektin pisang (Banana Lectin/Banlec) ataupun Lektin pisang raja (Plantains Lectin/Planlec), terbukti sebagai stimulan yang sangat kuat bagi proses mitosis pertumbuhan sel darah putih (Limfosit/Sel T). 

Demikian dilaporkan dalam sebuah jurnal internasional atas hasil riset biokimia pada tahun 2000.

Sepuluh tahun kemudian, temuan tersebut dikembangkan menjadi riset upaya peningkatan daya tahan tubuh manusia terhadap serangan virus perontok sistem kekebalan, Human Immunodeficiency Virus (HIV), menggunakan Banlec pisang batu (Musa balbisiana). Riset ini terbukti berhasil.


Metionin Beranomali.

Hal yang menarik adalah bahwa dalam proses kloning molekuler terhadap Lektin pisang, baik Banlec maupun Planlec dalam tubuh mamalia uji, terdapat peran Metionin, sebuah asam amino yang mampu berikatan kompleks dengan unsur logam. 

Metionin mengambil bagian dalam memperlancar proses transfer Kode Genetika dari DNA ke RNA dalam proses sintesa protein Lektin dalam sel tubuh, tepatnya di bagian Ribosom.

Kemampuan Metionin membentuk ikatan kompleks dengan logam, juga berperan sebagai pembersih membran Retikulum Endoplasma kasar, agar proses pengkloningan Lektin pisang menjadi sempurna. 

Hasilnya, kandungan Lektin pisang dalam tubuh telah mencukupi sebagai perangsang proses mitosis sel darah putih yang meningkatkan sistem daya tahan tubuh mamalia tersebut.

Disisi lain, Metionin menjadi bagian dari oligoprotein pembentuk kaki virus Sars-Corona penyebab wabah Covid19, yang menjadikan virus tersebut mampu bertahan di atas logam, hingga 9 hari. 


Virus Dan Bakteri Bersekongkol.

Peluang penyebaran wabah tersebut antar manusia pun meningkat karena kebiasan menyentuh bagian wajahnya rata-rata setiap 20 detik sekali, setelah sengaja ataupun tak sengaja menyentuh permukaan logam yang terpapar virus tersebut.

Virus Sars-Corona lalu masuk ke dalam tubuh manusia dan mulai menyasar ke bagian tubuh yang secara alami mengandung Metionin, yang terdapat pada Lektin yang melimpah dalam paru-paru, sebagai Kolektin dalam Surfaktan Paru.

Begitu virus berkaki Metionin tersebut 'hinggap' pada paru-paru, maka proses merusak struktur Lektin pun dimulai dengan cara mereplikasi Kode Genetik 'jahat' dalam RNA yang dibawa oleh virus tersebut. 

Proses replikasi Kode Genetik yang tak sesuai dengan proses alami sintesa protein dalam tubuh, lalu memengaruhi struktur Lektin Surfaktan Paru.

Lama kelamaan, benteng Lektin Surfaktan Paru pun jebol. Lalu, kolega virus Sars-Corona yang bernama Staphylococcus auerus, ganti menyasar organ paru-paru. 

Kemudian bakteri biang Pneumonia/radang paru itu berkoloni sebagai parasit, bahkan hingga ke inti fungsi kinerja paru terdalam yakni; gelembung Alveoli.

Kabar buruk bagi dunia farmasi yang masih belum menemukan penawar efektif atas persekongkolan virus dan bakteri, dua makhluk jahat penebar wabah pandemi kali ini. 

Apakah hanya kabar buruk saja? Oh tentu tidak! Karena sudah jelas bahwa manusia diperkenankan masih menghuni bumi hingga akhir waktu nanti.

Masih terdapat kabar baik, berupa peluang mengantisipasi, bahkan mengobati penyakit yang disebabkan oleh kedua makhluk tersebut, dengan cara mengembalikan fungsi Metionin kembali pada kodratnya sebagai pelancar sintesa Lektin, khususnya Lektin pisang.


Dua Kation Penetral Metionin.

Pada tahun 2010 pula, terdapat hasil penelitian dibidang Biokimia molekuler yang membuktikan bahwa kation-kation Magnesium (Mg) dan Potasium (K) mampu memaksimalkan aktifitas suatu enzim yang menjadikan kecepatan siklus Metionin menjadi terbatas.

Dengan demikian menarik untuk ditelaah lebih lanjut, bahwa kehadiran kedua kation tersebut berpeluang memperlemah kaki Metionin pada virus Sars-Corona penyebab rusaknya struktur dinding Lektin pada Surfaktan Paru. Kedua kation itu terkandung banyak dalam buah pisang.

Juga, asupan Lektin pisang berguna untuk memperbaiki struktur Lektin Surfaktan Paru yang telah rusak akibat serangan virus berkaki Metionin tersebut. Ibaratnya seperti mengganti paving block baru terhadap paving block yang telah retak ataupun bolong.


Pisang Buah Surga.

Pengetahuan tentang berlimpahnya senyawa kimiawi alami dalam buah pisang, semakin memperkaya pemahaman tentang khasiat pisang. Tak hanya buah, namun juga daun, batang, jantung hingga bonggol pisang, semuanya berguna.

Bahkan kulit buah pisang juga kaya akan kandungan senyawa kimia nabati bernama Tanin, yang bermanfaat sebagai pengawet alami karena mampu berfungsi sebagai antibakteri, membuat buah pisang tak pernah tersentuh oleh hama ulat.

Atas kelimpahan manfaatnya, maka pada buah pisang adalah harapan untuk berkontribusi dalam memerangi pandemi kali ini. Tak berlebihan, karena dalam kitab suci, buah ini berkali-kali disebut sebagai buah para penghuni surga. Keberadaannya di dunia pun niscaya menebar manfaat.


Bahan bacaan penginspirasi tulisan;

1. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5556678/ 

2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2643306/

3. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2643306/