Arsiparis
2 bulan lalu · 69 view · 3 menit baca · Gaya Hidup 35289_21663.jpg
pxhere.com

Lebih Bijak Hindari Buku Bajakan

Harga buku di negara kita memang mahal. Keadaan ini dikarenakan karena bahan baku kertas yang mahal atau proses produksi dan tetek bengeknya yang banyak biaya kita tak tahu. Keadaan ini memperparah gairah membaca yang sudah rendah pula.

Mahalnya harga buku membuat orang orang yang gemar membaca memilih alternatif lain untuk membaca buku yang diinginkannya. Ada beberapa pilihan yang mereka punya di antaranya, meminjam di perpustakaan umum, membeli saat ada obral, dan yang terakhir adalah membeli bajakan.

Dua cara pertama adalah cara yang bijak dan tak melawan hukum. Meminjam buku di perpustakaan adalah acar termurah untuk mendapatkan buku buku terbitan terbaru tanpa harus membelinya. Kita bisa mengunyah isinya tanpa keluar biaya dan tentunya ada tanggung jawab untuk mengembalikannya.

Mengembalikan buku yang dipinjam dari perpustakaan adalah bentuk tenggang rasa bahwa ada orang lain pula yang menunggu untuk meminjam buku yang sedang kita pinjam. Ada kewajiban untuk berbagi dengan yang lain mengingat perpustakaan umum ini adalah wujud layanan publik di bidang literasi.

Buku koleksi perpustakaan umum adalah layanan publik untuk masyarakat yang tentunya harus saling berbagi dengan yang lain. Pemustaka wajib untuk taat pada aturan waktu peminjaman yang disediakan oleh perpustakaan tersebut.

Cara berikutnya untuk menyiasati harga buku yang mahal adalah dengan menunggu saat ada obral atau cuci gudang dari penerbit penerbit besar. Tiap tahun penerbit penerbit besar pasti akan mengadakan event cuci gudang. Buku yang diobral ini biasanya tidak terbitan terbaru namun masih asli bukan bajakan.

Meski asli biasanya buku ini adalah buku buku hasil sortiran pihak manajemen penerbit bersangkutan. Dengan kata lain buku buku dengan harga super murah ini adalah buku yang mempunyai cacat produksi namun isinya tetap utuh.


Beberapa kecacatan itu, dari pengalaman penulis, adalah adanya halaman yang terbalik, pemotongan yang tidak simetris, atau ada noda dan cacat fisik lainnya. Namun itu tidak maslah karena buku tergolong asli dan biasanya masih tersegel dengan plastik. Toh kita butuh isinya bukan penampilan bukunya.

Biasanya buku buku yang diobral ini adalah buku buku yng sudah tidak laris lagi di pasaran. Bagi kita penggemar buku, itu bukan ukuran untuk mendapatkan buku karena yang kita inginkan adalah isi dan ditulis oleh siapa buku tersebut. Di ajang obral buku ini biasanya buku akan dijual seperempat prosen dari harga sesungguhnya di pasaran.

Kalau kita beruntung dan rajin menghadiri ajang obral buku ini kita bisa mendapatkan buku bagus dengan harga yang betul betul murah. Selain itu di ajang obral buku ini biasanya penerbit juga memberikan diskon yang besar untuk buku buku terbaru. Nah bagi penggemar buku yang minim dananya cara ini bisa dimanfaatkan untuk menyiasati mahalnya harga buku.

Cara terakhir untuk menyiasati buku yang mahal adalah membeli buku bajakan. Cara ini adalah cara yang tidak bertanggung jawab karena kita telah menzalimi penulis buku. Harga buku bajakan memang murah tapi kualitas cetakannya bukan seperti cetakan mesin cetak namun lebih dekat seperti hasil fotokopi.

Buku Bajakan juga tidak awet tulisannya karena bukan hasil proses mesin cetak. Meski berharga murah, kualitas fisik buku bajakan cepat rusak  karena penjilidannya pun asal asalan.

Selain itu membeli buku bajakan juga tindakan melanggar hukum karena bertentangan dengan undang undang hak cipta. Pembeli buku bajakan secara tidak langsung juga turut mendukung para pembajak karya inteletual orang lain itu untuk terus melakukan pembajakan.


Pembajak buku akan terus melakukan itu karena ada permintaan dari konsumen. Ada beberapa kejahatan yang kita lakukan jika membeli buku bajakan. kejahatan itu berupa mencuri hak cipta, merampas penghasilan penulis, dan tentunya merusak iklim usaha penerbitan resmi. 

Penulis buku memperoleh penghasilan dari royalti penjualan bukunya dari penerbit yang telah menerbitkan bukunya. Jika kita membeli buku bajakan maka kita sama saja mematikan mata pencaharian penulis buku. Bukankah itu sebuah kejahatan yang sangat kejam karena berkaitan dengan hajat hidup seseorang.

Dengan membeli buku bajakan kita juga tidak menghargai jerih payah seorang penulis saat berproses menghasilkan karya. Bagaimana ia berhari hari menuangkan tenaga dan pikiran untuk mengolah kata kata menjadi buku yang layak dibaca. Mereka menghabiskan waktunya fokus berkarya dan saat diterbitkan dibajak pula. Apes.

Akan lebih bijak jika kita, para penggemar bacaan ini, menghindari untuk membeli buku bajakan mengingat efek samping yang ditimbulkannya. Kerugian materi dari orang orang yang harusnya mendapat keuntungan dari buku yang telah ditulisnya begitu mengancam kehidupannya akibat adanya pembajakan.

Kita harusnya menyadari bahwa membeli buku adalah wujud penghargaan bagi penulis. Kita memberikan harga dari ilmu yang telah kita ambil dari buku yang kita baca. 

Penulis pun bisa bertahan untuk menulis jika secara ekonomi ia tidak kesulitan. Dan yang lebih penting, perasaan dihargai pembaca akan membuat semangatnya terus menyala untuk berkarya.


Artikel Terkait