Dewasa ini, stereotip lebay sering kali disematkan pada hal apa pun yang dipandang berlebihan. Dalam KBBI sendiri, lebay disandingkan dengan ‘berlebihan’, entah itu penampilan, gaya berbicara, dan sebagainya. KBBI hanya memberikan kata sandingan, bahwa istilah lebay digunakan oleh masyarakat untuk menyebut sesuatu yang berlebihan.

Sebenarnya istilah lebay sendiri adalah sebuah stereotip yang sangat subjektif. Tidak ada standar pasti yang dapat digunakan oleh semua orang untuk menstandarisasi sebuah perbuatan atau hal apa pun sebagai ‘lebay’ atau tidak. Sejauh ini, belum ada ulasan kompatibel yang mampu menjelaskan bagaimana stereotip lebay distandarisasi. Semua orang melakukannya sesuka hati.

Berkaitan dengan dunia sastra, stereotip lebay sering kali digunakan untuk dilabeli pada tulisan-tulisan sastra. Sastra dalam artian tertentu dianggap berlebihan.

Dengan kata lain, tulisan-tulisan sastra, terutama yang khas dengan penggunaan kias, rima, dan berbagai macam perangkatnya, dianggap tidak realistis dan terlalu melebih-lebihkan sesuatu yang pada dasarnya dapat dengan mudah diungkapkan.

Metafor, metonim, anafor, oksimoron, personifikasi, simile adalah beberapa contoh bahasa kias (majas) yang digunakan dalam pembuatan sebuah tulisan sastra, yang memunculkan stereotip lebay.

Bagi perkembangan dunia sastra, stereotip lebay merupakan masalah jangka panjang yang cukup fatal. Pasalnya, stereotip ini sangat berpengaruh dalam bagaimana cara pandang orang terhadap karya sastra.

Bahaya Stereotip Lebay

Jika suatu saat masyarakat secara masif menyematkan istilah lebay pada karya sastra, maka paling kurang ada dua dampak buruk yang mungkin terjadi. Yang pertama, karya sastra bisa saja kehilangan esensinya.

Walau bagaimanapun, karya sastra adalah subjektif untuk masing-masing penikmatnya. Karya sastra mendapat tempat dan maknanya jika karya sastra tersebut dibaca dan kemudian dimaknai sesuai dengan latar belakang/persepektif pembaca terhadapnya.

Jika kemudian potensi munculnya perspektif/sudut pandang tersebut dalam diri pembaca makin hilang, maka esensi karya sastra tersebut juga akan makin hilang. Semua perspektif yang kemudian diseragamkan dengan stereotip lebay dengan sendirinya akan menghilangkan esensinya. Orang-orang akan kehilangan atau bahkan membunuh imajinasinya dalam memahami dan memaknai sebuah karya sastra. Cepat atau lambat, ini merupakan sebuah bencana besar bagi dunia sastra.

Bahaya yang kedua adalah para pecinta sastra/sastrawan akan makin mengecil dan lama-kelamaan akan menghilang dari komunitas manusia. Sterereotip lebay yang makin seragam dan masif dalam masyarakat akan membudaya secara sporadis dari satu kelompok masyarakat ke kelompok masyarakat lain. Hal ini diperjelas dengan kemunculan internet atau media sosial.

Dengan adanya media sosial, sebuah paham yang berlaku dalam masyarakat dapat dengan mudah tersebar dan dengan mudahnya menjadi paham pada masyarakat di mana paham tersebut tersebar. Dalam hal ini, stereotip lebay yang sudah membudaya pada satu masyarakat akan dengan mudah membudaya masyarakat lain.

Hal ini kemudian diperparah dengan budaya sastra yang tidak sinkron dengan budaya netizen. Netizen lebih mudah menyerap budaya lebay yang lebih mudah dilakukan daripada budaya sastra yang cenderung kuno. Tidak jarang ditemukan bagaimana seorang yang mencoba untuk berkarya sastra dibantai di media sosial dengan kedok lebay.

Sampai pada titik ini, dapat dilihat bagaimana budaya sastra yang dikawinkan dengan budaya lebay akan melahirkan bullying dan tidak menutup kemungkinan untuk jenis kejahatan lain. Ini benar-benar berbahaya bagi perkembangan dunia sastra.

Antitesis

Untuk menyelamatkan dunia sastra dari pembantaian stereotip lebay, dibutuhkan sebuah perlawanan atau resistensi. Hal inilah yang kemudian dapat menjaga kelangsungan perkembangan dunia sastra.

Ada beberapa perlawanan yang saya tawarkan. Yang pertama adalah penyerangan langsung kepada esensi/ide dari stereotip lebay itu sendiri.

Stereotip lebay pada dasarnya muncul tanpa standar. Hal ini berarti orang-orang yang memberi stereotip ini khususnya kepada karya sastra tidak punya acuan. Stereotip ini begitu subjektif, dan yang dibutuhkan adalah mengubah halauan subjektivitas tersebut.

Karya sastra memiliki standarnya sendiri yang mana tidak terbatas pada apa pun. Ia sering kali memerkosa bahasa Indonesia untuk mengungkapkan apa yang tidak terungkap oleh bahasa Indonesia, atau dilakukan begitu saja untuk menambah kesan estetis. Hal inilah yang kemudian menandakan sebuah karya adalah karya sastra (dalam artian tertentu).

Karya sastra seharusnya tidak terpengaruh oleh stereotip semacam ini, karena sastra memang dilahirkan demikian. Para pemberi stereotip seharusnya tahu dengan apa mereka sedang berhadapan. Mereka seharusnya tahu bahwa karya sastra (secara independen) itu ‘kebal’ terhadap stereotip ini. Pemaknaannya tidak dapat dibilang lebay begitu saja.

Kalaupun sebuah karya sastra ingin ditanggapi secara serius, ada wadah untuk itu, yakni kritik sastra. Kritik sastra itu pun tidak mengubah esensi dari karya tersebut, melainkan hanya berusaha memahami dan memaknainya.

Perlawanan yang kedua adalah dengan bertarung pengaruh di media sosial. Khusus bagi pecinta sastra, sastrawan, dan bagi orang-orang tidak mau sastra (dalam artian tertentu) punah dan hilang dari penciptaan manusia yang akan datang.

Jika stereotip lebay begitu cepat menyebar melalui media sosial, maka perlawanan yang dilakukan adalah dengan menyebarkan secara masif pula karya-karya sastra berikut dengan komentar-komentar yang membangun.

Secara radikal, hal ini dapat mengubah cara pandang orang-orang tertentu terhadap dunia sastra. Kekayaan yang ditawarkan dunia sastra lewat karya-karya penulis berikut ulasan/komentarnya akan sangat membantu dunia sastra untuk bertahan hidup di tengah masyarakat.

Dengan demikian, kita memperkuat mental kita terhadap stereotip ini dan makin menyudutkan para pembuli (lewat stereotip yang mereka berikan) dengan terus berkarya dan menyuarakan kekayaan dunia sastra.