Belum lama ini aku memutar video yang dikirim di grup WhatsApp (WA), video yang sebenarnya sudah ada sejak Maret lalu itu namun tertutupi dengan banyaknya video-video lain. Video itu menggambarkan keadaan dunia di masa kini. Video berdurasi 2:30 menit itu merupakan puisi dari Riya Sokol dengan redaksi berikut ini;

Thank you Corona virus. 
Thank you for shaking us and showing us.
We're dependent on something much bigger than we think.

Thank you for making us appreciate,
the luxury we lived in abudance of products, freedom, health.
And realizing we were taking it for granted.

Thank you for stopping us.
To make us see how lost we were in the busy-ness. 
Not having time for the most basic things...

Thank you for allowing us to put aside all our problems.
We thought were so important.

Thank you for stopping the transport.
The earth was begging us to look at the pollution for a very long time.

... we didn't listen...

Thank you for all the fear.
It has been a global disease for years.
But no many of us wanted to face it.
And learn how to embrace it with love.
And with the support of our community.

Thank you for this revolution of our lives.
Thank you as we finally understand what it means that we are all connected.
Thank you for the unity between all of us.
We knew the world has to change.

Thank you for helping us to undermine everything.
And giving us a chance to build a world from the very beggining.
This virus is part of us.
It's between us, in us.
It connected us all, either physically or energetically.
Gratitude supports the immune system but also let's us see things from many perpectives. 
And it's up to us which perspective we will choose.
But best is to be aware of all of them.

Be grateful, stay aware, things will never be the same again.
The world is changing now.

Dalam tafsiran bebasku artinya seperti ini;

Terima kasih virus Korona,
Terima kasih telah mengguncang dan menunjukkan kepada kami,
Kami bergantung kepada sesuatu yang lebih besar lebih dari yang pikirkan.

Terima kasih telah membuat kami menghargai kemewahan dalam hidup.
Kelimpahan produk, kebebasan, kesehatan...
Dan menyadari kami tidak bisa menerima itu begitu saja.

Terima kasih telah menghentikan kami,
Untuk membuat kami melihat bagaimana kami tersesat pada kesibukan.
Tidak mempunyai waktu untuk sesuatu yang lebih mendasar.

Terima kasih telah membiarkan kami menempatkan ke samping semua permasalahan kami.
Kami berpikir, kami yang sangat penting.
Dan menunjukkan kepada kami apa yang sebenarnya paling penting. 

Terima kasih telah menghentikan transportasi.
Bumi telah memohon kepada kami untuk melihat polusi yang telah berlangsung lama.
... kami tidak mendengarkan...

Terima kasih untuk semua ketakutan.
Ini telah menjadi sebuah penyakit yang mendunia selama bertahun-tahun.
Namun, tidak banyak dari kami menyadari untuk menghadapinya.
Dan kini kami harus menghadapinya.
Dan bagaimana memeluknya dengan cinta.
Dan bagaimana komunitas kami mendukungnya.

Terima kasih untuk revolusi pada hidup kami.
Terima kasih sebagaimana kami akhirnya mengerti apa makna dari semua ini.
Bahwa kami semua terhubung.

Terima kasih untuk penyatuan antara kami semua.
Kami mengetahui bahwa dunia telah berubah.

Terima kasih telah menolong kami untuk "merusak" segalanya.
Dan memberikan kami sebuah kesempatan untuk membangun sebuah dunia.
Dari yang sangat awal.

Virus ini adalah bagian dari kita.
Ini adalah kita, dalam diri kita.
Ini menghubungkan kita semua. Baik secara fisik maupun energi.
Dukungan terima kasih pada sistem imun tetapi juga pada ayo kita melihat segala sesuatunya pada banyak perspektif.
Dan itu semua bergantung kepada kita perspektif yang mana akan kita pilih.
Namun, yang paling baik adalah mewaspadai semuanya.
Bersyukur, tetap waspada, segala sesuatunya tidak akan terjadi dengan sama.
Kini, dunia sedang berubah.

♡♡♡

Antara Bersyukur dan Tidak Syukur...

Ketika mendengarkan isi puisi dari video ini, ditambah suara dari Riya Sokkol yang seksi dan gambar-gambar yang menarik membuatku sedikit tenang. Aku menyadari diri yang penuh "kemarahan" dan ke-stres-an di awal adanya virus dan bisa jadi sebelum melihat video ini. 

Ini gara-gara hampir semua rencana berubah dan harus mulai ulang. Baik plan A, plan B, plan C dan plan-plan lainnya. Misalnya, aku ingin ke Jogja untuk launching buku namun tidak jadi atau dan aku ingin masuk mengajar eh malah kampus "diliburkan". Aku naksir dia, tapi dia sudah ada yang punya (ah, tidak kalau ini).

Namun, sedikit banyaknya memang diri ini harus bersyukur, segala puji bagi Tuhan; aku masih sehat, aku masih bisa makan, aku masih bisa tidur, aku masih bisa rebahan sambil main hape. 

Selama ini, aku tidak bersyukur; Aku bisa pergi kemana pun aku suka, istilahnya sampai ke ujung dunia tapi kini ke perbatasan kabupaten saja diperiksa. Aku bisa makan apapun yang aku mau mulai dari seafood sampai junkfood namun kini harus lebih berhati-hati. Aku bisa "bergaul" dengan siapa pun namun kini terbatas. 

Tetapi, aku juga ingin mengkritisi kalimat dari puisi ini, walau memang akhirnya langit menjadi lebih biru dan cerah karena kurangnya polusi udara kendaraan tidak banyak yang jalan. Namun, produksi sampah apalagi plastik kita menjadi lebih meningkat. 

Plastik banyak yang terbuang percuma, karena cuma sekali pakai tidak berkali pakai. Kita membuangnya karena takut ada virus di sana. 

Berdamai dengan Korona

Ketika pak Jokowi mengatakan kita harus berdamai dengan Korona, banyak yang kemudian "menghina" pernyataan bapak presiden tersebut. Kita selalu menganggap pemerintah (Jokowi) tidak bekerja maksimal, tidak becus, dan cuma nge-prank doang. Padahal kita sama-sama tahu, kita semua sama-sama di masa sulit.

Tidak bisakah kita berdamai?  berdamai dan berdampingan!

Kata Pak Jokowi di Instagramnya yang intinya seperti ini; Karena kita "tidak tahu" kapan ini akan berakhir. Berdamai bukan berarti menyerah tapi menyesuaikan diri dengan mengedepankan dan mewajibkan protokol kesehatan yang ketat. Inilah yang disebut New Normal Life, tatanan kehidupan normal yang baru. 

Kini Apa Arti Lebaran Bagimu?

Jika lebaran adalah hari kemenangan karena telah berpuasa, melawan hawa nafsu. Di mana kita bisa "main", berkunjung, atau bersilaturrahmi, makan kue, makan ketupat dan opor ayam, dapat angpao dan lain sebagainya. 

Kini harusnya lebih spiritual, lebih dari sekedar menyucikan diri di hari yang fitri. Lebih "bersih", bersih dari segala hal lahir dan batin. Bersiap lebaran dengan penuh damai dan dapat berdampingan dengan "mahluk lain". Entah itu artificial intellegence (Ai) atau bahkan dengan si Covid-19.

Atau bahkan lebih siap untuk lebaran di "dunia lain", karena kita harus sadar akan ada seleksi alam untuk perbaikan semesta.

Selamat lebaran pembaca Qureta, mohon maaf lahir dan batin.