Peneliti
1 bulan lalu · 36 view · 3 min baca menit baca · Lingkungan 96454_99098.jpg
Foto: IDN Times

Lebaran Tanpa Sampah

Menjelang lebaran, banyak posting, baik status, foto atau gambar, dan video yang dibagikan bertema Idulfitri di media sosial. Namun, ada satu video yang paling menarik menurutku yang dibagikan seorang teman di grup WhatsApp, yakni dengan seruan, "Yuk kurangi sampah." 

Video itu merupakan video konservasi lingkungan yang membahas masalah sampah di sekitar kita. Ia menghubungkannya dengan konteks lebaran, berjudul Lebaran Tanpa Sampah

Video itu dilengkapi dengan gambar karikatur yang seru dan lucu. Musiknya juga riang, dengan redaksi: 

"Lebaran tanpa sampah. Beberapa tips untuk mendukung lebaran tanpa sampah. Membawa tikar dan tidak menggunakan koran sebagai alas saat salat Idulfitri. Panitia salat Idulfitri bertanggung jawab terhadap kebersihan lokasi dan mengimbau kepada jamaah agar membawa kembali alas salat(nya). 

Saat mudik membawa tumbler dan reusable bag. Tidak bermain petasan. Kurangi segala bentuk pemakaian plastik sekali pakai. Pilah sampah: paper, glass, organic, plastic. Berwudu dengan air secukupnya. Ayo! Lakukan tahun ini, lebaran tanpa sampah."

Wow! Keren. Video itu pun aku bagikan untuk kujadikan status di WA. Dari beberapa teman yang melihat status itu, ada yang menanggapinya dengan suka dan ada yang meminta dikirimin videonya. 

Adalah si Muja, yang mau videonya itu. Muja, temanku, yang juga konsen pada masalah lingkungan. Awal bulan puasa lalu, dia yang membagikan YouTube "Puasa Plastik" di statusnya. Yang menjadi tulisanku juga di awal Ramadan dengan judul Puasa Plastik.

Aku bertanya pada Muja, "apa kabar puasa plastik?" Dulu, saat YouTube itu beredar, kami sepakat untuk mempraktikkannya. 


Dijawab Muja, "Lanjut dong, kak. Cuma orang rumah saja yang susah. Mending ditindak-lanjuti programnya, ketika punya rumah sendiri. Dan pasangannya harus diedukasi."

Aku tertawa, kubalas chat itu dengan berkata, "jangankan orang rumah, aku sendiri, pribadi juga susah. Memang enaknya kalau punya pasangan nanti yang sama-sama peduli lingkungan. Jadinya, satu visi dan misi. Tanpa mengedukasi lagi."

Kata Muja lagi, "yang penting kita sudah ikhtiar. Ya, usaha." 

Dan yang terberat adalah edukasi.

Bagaimana mau edukasi atau mengedukasi kalau kita (aku) sendiri belum teredukasi dengan baik? Niat menjaga lingkungan dari diri sendiri, dari hal kecil, dan dari sekarang belum bisa terwujud.

Aku tertarik dengan isu lingkungan, namun benar-benar melakukan perintah dan larangan, apa yang harus dikerjakan dan yang tidak dilakukan pada lingkungan.

Masih banyak dosa yang masih terus-menerus kulakukan. Baiklah, berikut ini pengakuan kesalahanku, dosa-dosaku pada lingkungan selama ramadan.

1. Aku masih membeli botol minuman kemasan.

Ketika melakukan perjalanan dengan bus, aku lupa membawa botol minumanku sendiri. Jadinya, aku membeli kemasan botol air mineral di jalan.

2. Aku masih memakai plastik saat membeli takjil, makanan dan minuman saat berbuka puasa. 

Ketika membeli makanan pisang ijo yang terbungkus dalam plastik kemasan. Dan es buah, minuman yang dikemas dalam gelas plastik juga. Ketika mempostingnya di Instagram (IG), aku baru sadar ketika dikritik oleh adik sepupu, Ami. "Kak, plastik." Benar juga, aku harusnya membawa tempat sendiri. 

3. Aku masih memakai sedotan plastik. 

Aku yang sudah punya sedotan dari bambu yang ramah lingkungan yang dikirimi dari Ami. Tapi, masih suka memakai dari plastik. Alasannya, sedotan bambunya jadi pajangan di indekos.

4. Aku masih memakai koran sebagai alas. 

Aku meminta sisa koran orang ketika akan melaksanakan salat tarawih di suatu gunung. Aku lupa membawa tikar. 

5. Aku masih berwudu berulang.

Aku biasanya wudu berulang-ulang. Masalahnya, setelah wudu ingin melaksanakan salat, aku biasanya tidak langsung beribadah, tapi melaksanakan ritual yang lain, main hp dulu. Jadinya, aku ragu, aku tadi batal atau tidak, ya? Jadinya, wudu ulang.

5. Kertas-kertasku setelah memprint sesuatu dijadikan alat pemantik api. Padahal, bisa saja dikumpulin dan dibuat sesuatu karena bisa didaur-ulang.


6. Aku masih mencintainya, namun aku tak tahu dengannya.

(Eh, tidak, bukan di sini ruangnya untuk ini).

Apa lagi, ya? Masih banyak banget dosa-dosaku, kesalahanku pada lingkungan.

Apakah aku pada akhirnya butuh pasangan yang dari jurusan lingkungan hidup yang terdidik, teredukasi yang akan mengedukasiku tentang lingkungan?

Oh, no, bukan itu. Tapi, selama aku mau belajar dan mau tetap peduli lingkungan, itu yang paling penting. Dan orang akan jadi pasanganku juga begitu, mau belajar dan peduli lingkungan.

Ya, aku mau, benar-benar mau menjadi orang yang peduli lingkungan. Aku, kamu, kita semua tentu tidak mau tinggal dan hidup di bumi ketika lingkungannya rusak, apalagi sampai rusak parah. Buat kita sendiri dan anak cucu kita. 

Terakhir, ada quote yang berbahasa Inggris yang biasa kita baca, 

"Let's nurture the nature, so that we can have a better future." Artinya: mari pelihara alam (lingkungan), sehingga kita dapat memiliki masa depan yang lebih baik.

Semoga kita bisa berlebaran tanpa sampah lagi atau minimal mengurangi sampah. Maafkan aku, lingkungan, maafkan kesalahanku. Mohon maaf lahir dan batin.

Artikel Terkait