Penulis Lepas
1 bulan lalu · 147 view · 3 min baca menit baca · Keluarga 32535_85162.jpg
Tribunnews.com

Lebaran Lahir dan Batin

Besok, sejak fajat menyingsing Hari Raya Idul Fitri 1440 H bertepatan hari Rabu 05 Juni 2019 Masehi umat islam akan merayakan hari lebaran. 

Suka cita yang setiap orang akan merasa bahagia dan haru. Bahagia oleh sebab merengkuh hari kemenangan setelah sebulan penuh menahan minum dan makan (Puasa), dan sedih karena harus  maaf memaafkan atas perbuatan dosa yang terlampaui pada kawan, sanak famili, sahabat, rekan kerja, dan semua umat islam pada umumnya.

Idul fitri adalah hari gegap gempita, kota-kota besar sepi dari kepadatan manusia, karena hilir mudik kembali ke kampung halaman,  petasan akan berdentuman di langit, dan telah  berseliweran banner yang terpampang di sudut-sudut jalan raya, di depan kantor, dan yang tak kalah tertinggal sepanjang abad millennial ini, mainstream media sosial yang akan diserbu oleh poster-poster ucapan selamat hari raya idul fitri, baik personal maupun keluarga, pun juga organisasi.

Kita sadari, bahwa teknologi informasi dengan segala kecanggihannya membuat yang dekat menjadi  jauh, dan yang jauh terasa dekat. Tak usah jauh-jauh, sebagai contoh saat sekelompok anak-anak muda tengah bermain game, keganjenan mereka membuat lupa pada sekawanan teman di sekitarnya. Dan video call justru dapat menggulung jarak sedekat di depan mata.

Yang unik bin geli, banyak diantara pengguna sosial  media mencukupkan komunikasi hanya pada gadget. Bisa jadi chatting, video call, dan mem-broadcastnya ke banyak grup, sudah mewakili seluruh asa dan keharmonisan sosial.

Tak heran, momen-momen hari besar sudah barang tentu ramai di padati ucapan-ucapan seperti hari buruh, hari pahlawan, dan bahkan sepanjang hari lebaran nanti memori HP kita menumpuk ucapan Happy Ied Mubarak. Menyusul IG, Twitter, dan Facebook mulai dari beranda paling atas sampai paling bawah penelusuran tak akan habis-habisnya.


Hal ini sudah lazim, sebagai bentuk eksistensinya selain dari pada di dunia nyata. Era keterbukaan informasi sekarang, orang nyaris tak lagi bisa meredam hasrat menunjukkan (pamer) dirinya ke jagat sosial media. Apalagi, di play store, banyak tersaji konten aplikasi yang dapat merias vitur lebih menarik, termasuk desain grafis yang diminati oleh pengguna media sosial tidak lagi susah payah menggunakan laptop, cukup berbekal handphone android wajah yang semula gelap, pesek, mulus bisa berubah seketika.

Kendati kata orang dunia global hari ini berada dalam genggaman tangan. Tetap saja Lebaran kurang sempurna jika tidak disertai raga untuk bersua secara langsung, lebaran kita bisa jadi  terbilang masih setengah-setengah jika sosial media dianggap bentuk final apabila tidak memenuhi maaf maafan lahir maupun batin. 

Banyak orang mengira bahwa cukup dengan mengirim pesan via WA, FB itu sudah menjawab suatu persoalan. Padahal, secanggih apapun sebuah teknologi, face to face merupakan komunikasi verbal yang paling membuat banyak orang sedemikian kental merasakan segulung rindu, dan terjawabnya sunguh-sungguh harmosnisnya sosialitas kita. 

Memang, mainstream akut hari ini adalah era post truth(pasca kebenaran) membawa macam-macam manusia semakin sempit dalam mencerna makna keharmonisan sosial, seolah dunia nyata adalah yang ada dalam dunia maya, menyusul aktivitas manusia manusia millennial, baik berbisnis, jual beli, bersosial terjerambah di bilik-bilik gadget. Tentu, ada sisi positif maupun negative selalu beriringan sebagai hal niscaya.

Tetapi, yang kita harapkan adalah keharmonisan kita tidak bersifat semu, bisa saja kita legawa bermaaf-maafan melaui kirim pesan secara cuma-cuma di WA, FB, secara personal maupun kolektif (grup). Itu saja tidak cukup membekas untuk mengobati luka, dan dosa yang pernah diperbuat selama setahun, karena hal terpenting dari lebaran adalah makna "silaturahim" yang dibarengi dengan berjabat tangan dan tersampaikannya permintaan maaf didepan muka. 

Dalam arti yang luas, lebaran bukan lah aktivitas batin belaka, melainkan juga sarat kehadiran lahir yang sama-sama saling bersaksi dibalik berjabat tangan nya seseorang.  Makanya tak heran jika kalimat saat lebaran, "Mohon Maaf Lahir dan Batin" adalah akumulasi yang komplit dan sempurna dalam pemaknaan idul fitri. 


Mungkin selama ini kita terlalu terasing dari dunia nyata, karena lebih asyik menyaksikan dunia maya yang kita anggap lebih nyata. Momen lebaran ini, seharusnya setiap diri yang telah terpenjara oleh keterasingannya memulainya kembali untuk “hijrah” ke kehidupan nyata.

Sipapun tak ada yang tau seperti apa isi hati seseorang, sekalipun mimik muka terlihat ramah, hingga lidah berujar manis di depan mata, itu tak menjamin kesesuaiaan dengan harapan yang sebenarnya. Karena tidak tutup kemungkinan diterimanya permohonan maaf oleh salah seorang teman hanya setangah hati, padahal sebenarnya dihatinya masih tak bisa menggugurkan memori buruk sebelumnya.

Maka dengan begitu, bagaimana mungkin dendam, sakit hati, dan perbuatan-perbuatan yang membekas dalam memori seseorang dapat sirna seketika hanya dengan di media sosial. Sungguh tak cukup, toh kalaupun minta maaf kita dijawab baik, orang kadang menjawabnya oleh sebab sebagai bentuk toleransi di momen-momen tertentu yang sifatnya temporal dan keterpaksaan, seperti di lebaran ini.

So, marilah rayakan idul fitri ini dengan sebenar-benarnya lahir dan batin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H

Artikel Terkait