Mahasiswa
2 tahun lalu · 4330 view · 3 min baca menit baca · Politik fb_img_1478351510686.jpg
Sumber Foto SBY

Lebaran Kuda, Maaf Saya Mewakili SBY

Minta maaf, saya bela SBY. Dalam konteks ini, saya "membela" SBY bukan karena ada apanya, atau kenal dekat dengan beliau pun saya bukan siapa siapa. Banyak tokoh bahkan pengamat dengan gamblang berbicara di depan media mengkritik, bahkan ada pengamat yang mengatakan SBY provokator, apalagi yang mengatakan itu, dari Lembaga Politik yang tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat, sebut saja LIPI, (miris bukan?).

Soal lebaran kuda, yang menjadi bahan, maaf (lelucon) bagi segelintir orang yang dialamatmatkan ke SBY. Bagi saya, apa yang disampaikan SBY, harus menjadi acuan untuk menganalisis lebih dalam maksud tiap kata, tiap kalimat isi pidato SBY secara jeli. SBY bukanlah orang yang gampang melontarkan segala sesuatu ke media atau publik. Kita bisa melihat, saat beliau, memimpin negara Kesatuan Republik Indonesia, selama 10 tahun (dua periode).

SBY bagi saya, selain memiliki kewibawaan yang tinggi, juga sangat hati-hati dalam mengeluarkan pendapat. Coba tengok, saat beliau, dituduh terlibat dalam kasus Century, kasus Hambalang, sekarang diungkit-ungkit lagi, kasus munir. Dan dituduh yang bukan-bukan oleh oknum tertentu. Dan terakhir ini, SBY sangat marah, sebagai manusia, SBY juga punya batas kesabaran.

Meletupnya, pernyataan SBY menjadi bahan olok-olokan orang, bahwa SBY provokator, atau SBY (maaf) aktor dari demo 4 November kemarin. Apakah benar seperti itu? Untuk itu, supaya kita jangan sampai salah kaprah dalam menilai, kita tengok poin-poin penting yang saya catat dari pidato SBY berikut ini:

SBY DI CIKEAS: Jangan negara dan rakyat disandera oleh masalah satu orang.

Pernyataan Pak Ahok soal Surat Al-Maidah, Ranahnya Masalah Hukum, Bukan Soal Pilkada DKI Jakarta.

1. Saya memimpin selama 10 tahun, banyak terjadi unjuk rasa, tapi alhamdulillah tidak jatuh, ekonomi tetap tumbuh, bisa bekerja untuk rakyat....

2. Intelijen jangan main tuduh, ngawur, menuduh orang membiayai ini, itu...

3. Kita pernah melewati peristiwa-peristiwa penting di era tahun 1998-an, 1999-an, 2000-an...

4. Tidak perlu ada unjuk rasa besar-besaran, asal masalah pokoknya selesai, itu baru 100...

5. Mengapa ada unjuk rasa, ya karena ada sebab-akibat, kalau akar masalahnya tidak diselesaikan, ya unjuk rasa akan terus ada, mari bikin mudah masalahnya...

6. Pak Ahok, dianggap melakukan penistaan agama, ayo kembali ke KUHP, sudah ada preseden hukum menyangkut masalah sejenis, dihukum... Pak Ahok, harus diproses secara hukum...

7. Setelah Pak Ahok diproses secara hukum, tidak akan gaduh...

8. Bola sekarang ada di penegak hukum, bukan di tangan siapa-siapa, bukan di tangan presiden, bukan tokoh-tokoh agama, bukan tokoh politik.

9. Harapan rakyat, tegakkan hukum secara adil, fair, transparan dan tidak direkayasa, rakyat akan mengikuti hasilnya.

10. Pak Ahok bisa bersalah atau tidak, biar pengadilan yang menentukan...Itulah justice system...

11. Pernyataan Pak Ahok soal Surat Al-Maidah, ranahnya masalah hukum, bukan soal Pilkada DKI Jakarta.

12. Jangan negara dan rakyat disandera oleh masalah satu orang...

Dari, 12 poin yang saya catat di atas, bagi saya, apa yang disampaikan SBY sudah tepat, mengapa?. SBY memimpin negara ini dan terpilih menjadi presiden pertama dalam sejarah politik Indonesia, yang dipilih langsung oleh rakyat, bahkan dua periode. Ini bukanlah waktu yang gampang atau untuk menggapai sesuatu yang mudah. SBY terbukti dipilih rakyat, tentu punya alasan mendasar mengapa rakyat memilihnya dua periode.

Untuk itu, bukanlah sesuatu hal yang salah, kalau SBY, sebagai tokoh di republik ini angkat bicara dalam masalah Ahok yang diduga menista agama. Karena SBY pasti mengerti, ini harus diselesaikan lewat jalur hukum, biarlah aparat hukum bekerja. Dan seksama menjadi presiden SBY, pernah mendapatkan penghargaan negara luar, sebagai presiden yang menjadi suri tauladan akan keragaman agama di Indonesia. Tidak ada sesuatu yang provokatif bagi saya. Lain hal, kalau Prabowo, berbicara. Karena Prabowo adalah ketum Partai, bahkan tidak pernah menjadi presiden (eksekutif) atau tokoh lain dalam politik. Tentu, unsur politisnya jelas sekali.

Demo 4 November yang sudah tercium sebelumnya oleh pihak Istana. Makanya, sudah dilakukan beberapa gerakan untuk mengantisipasinya. Kehadiran Jokowi dikediaman Prabowo, untuk memberi banyak pesan kepada khalayak. Bukan sekedar makan nasi goreng dan naik kuda gratis, bahwa sosok yang dikunjungi mungkin aktor dibalik agenda drama 4 November kemarin (nampak dalam demo Fadli Zon dan Fahri Hamzah). Kehadiran JK dan SBY mungkin menyempurnakan pesan di atas.

Mungkin kita bisa memotret, pertama, respon masyrakat kelas menengah (dalam ranah sosial bisa membentuk gerakan yang masif), Kedua Sikap Mahasiswa ( dimana PB PMII, PP GMNI, PP GMKNI, PP PMKRI, PP HIKMAHBUDI dan PP KMHDI, melakasanakan apel Kebangsaan, di Tugu Proklamasi; Jakarta Pusat. Ketiga, juga posisi partai politik (didominasi pemerintahan), keempat, posisi PBNU dan Muhammadyah, Posisi pak JK (Wakil Presiden), Posisi BIN, POLRI dan TNI. Dan berbagai aspek lain, menurut saya, perlu kita tinjau lagi secara seksama.

Gerakan 4 november sangat jelas, pihak-pihak tertentu yang tidak senang dengan aktor-aktor tertentu, bahkan ada yang menuduh pihak-pihak tertentu. Untuk itu, marilah kita lebih kritis, dan transparan dalam meliahat fonemena ini. Mungkin apa yang saya analisis salah tetapi, kita kembali ke ruh argumentasi yang rasional.
Salam NKRI HARGA MATI.

Artikel Terkait