Mahasiswa
1 bulan lalu · 82 view · 3 min baca menit baca · Budaya 75737_90942.jpg

Lebaran dan Tradisi Manambang

Lebaran merupakan momen yang sangat dinantikan oleh seluruh Umat Muslim di berbagai belahan dunia. Di samping merupakan sebuah bentuk ekspresi kemenangan karena setelah satu bulan penuh berjuang mengendalikan hawa nafsu, lebaran pun dianggap sebagai momen tempat dimana berkumpulnya sanak, famili, dan keluarga.

Lebaran sangat identik dengan berbagai macam tradisi dan kebiasaan. Ada yang bersifat universal dan ada pula yang bersifat parsial. Salah satu tradisi dan kebiasaan yang sudah bersifat universal itu adalah tradisi mudik. Hal ini biasa dilakukan oleh para perantau yang mencari kehidupan jauh dari kampung halamannya.

Oleh karenanya, bagi mereka lebaran merupakan suatu momen untuk sementara keluar dari kesibukan menuju zona aman dan nyaman dengan menikmati berbagai kenikmatan yang ada di kampung halamannya.

Di samping tradisi mudik, saling mengunjungi antara sanak famili pun termasuk sebuah tradisi yang sudah mendarah daging di masyarakat. Hal ini biasanya dilakukan setelah melaksanakan shalat hari raya. Maka masyarakat pun mulai berjalan berkeliling kampung mengunjungi sanak keluarganya untuk menyambung tali silaturrahmi antar sesama.

Saling kunjung mengunjungi ini pun merupakan sebuah keharusan bagi kita dalam kehidupan bermasyarakat. Karena yang namanya manusia tentulah tak pernah luput dari salah dan khilaf. Maka tradisi kunjung mengunjungi ini juga harus dimanfaatkan untuk saling meminta dan memberi maaf antar sesama.

Oleh karenanya tradisi ini mesti dijaga dan dipelihara bersama-sama, sekalipun hanya dipraktekkan pada hari raya atau lebaran saja. Ya, paling tidak dalam setahun sekali ada kegiatan saling kunjung mengunjungi antar sesama masyarakat dari pada tidak sama sekali.


Tentu alangkah baiknya tradisi ini tidak hanya dilakukan ketika lebaran saja, tetapi senantiasa dilaksanakan, paling tidak satu kali seminggu atau satu kali sebulan.

Di minang, khususnya di daerah Padang, oleh warga setempat tradisi kunjung mengunjungi ini disebut dengan istilah manambang.

Jika ditelisik lebih jauh terkait dengan kata "manambang"pada mulanya kata ini dimaksudkan untuk seseorang yang bekerja sebagai sopir, baik sopir angkot, bus, ojek, dan lain sebagainya. Maka nya kalau ada orang Padang berkata, “Ambo karajo manambang oto di Padang,” itu artinya adalah ia bekerja sebagai sopir di daerah Padang.

Pada perkembangan selanjutnya terjadilah sebuah pergeseran istilah. Kata “manambang” bukan hanya dimaksudkan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, tetapi istilah itu dimaksudkan untuk sebuah kegiatan kunjung mengunjungi antar sesama yang dilakukan sesaat setelah shalat hari raya atau pada saat memontum lebaran.

Yang lebih menariknya lagi, bagi anak-anak kegiatan manambang ini merupakan momen yang sangat dinanti-nanti. Bagaimana tidak, pada kegiatan inilah mereka berbondong-bondong berdatangan menuju rumah warga, berkeliling layaknya pasukan ronda malam, masuk rumah keluar rumah, sambil membawa uang pecahan 10 ribu, 5 ribu, dan 2 ribu di tangannya.

Tuan rumah pun demikian pula, mereka juga telah menyiapkan uang-uang tersebut untuk diberikan kepada tamu yang datang manambang ke rumah mereka.

Yang lebih luar biasanya, anak-anak yang datang manambang itu tak sempat lagi mencicipi kue-kue yang terpampang manis menggoda para tamu yang datang. Tetapi bagaimana lagi, yang terpenting bagi mereka adalah uang hasil manambang bukan kue-kue itu lagi.


 Setelah kegiatan itu mereka lakukan dengan tanpa menyisakan satu rumah pun untuk dikunjungi, mereka pun saling berlomba dan membanggakan hasil pencariannya. “Bara dapek dek ang?” “Aden dapek 100 ribu.” Kira-kira seperti itu lah bunyi percakapan di antara mereka.

Nah, tulah sekelumit tradisi manambang yang sudah berlaku sekian lama di daerah Minang, atau daerah Padang khususnya. Tentunya hal itu memiliki pengaruh positif dan juga negatif.

Dilihat dari sisi sosial, kegiatan ini tentu sangat baik sekali. Di  samping bisa merangsang tamu untuk datang berkunjung ke rumah tetangganya, kegiatan ini bisa pula sebagai bentuk saling tolong menolong antar sesama.

Di sisi lain, kunjung mengunjungi antar sesama itu pada mulanya adalah untuk merajut kembali tali silaturrahmi. Akan tetapi, dengan tradisi manambang ini tentu menghilangkan esensi dan hakikat dari kegiatan kunjung mengunjungi tersebut.

Mereka yang datang, terutama anak-anak, hanya akan mengharapkan uang dari sang tuan rumah tanpa perlu lagi berjabat tangan, bersalaman, dan saling meminta serta memberi maaf antar sesama. Sehingga tertanamlah dalam pikirannya bahwa kunjung mengunjungi itu hanyalah untuk mendapatkan uang tanpa pernah tahu apa hakikat dan esensinya.

Terlepas dari itu semua, kegiatan manambang hanyalah satu tradisi dari berbagai tradisi yang berlaku di daerah Minang, khususnya daerah Padang. Bisa jadi daerah lain memiliki tradisi yang lebih unik dan menarik lagi. Setiap daerah mesti menjaga dan memelihara tradisi-tradisi tersebut, karena memang bangsa kita adalah bangsa yang kaya akan tradisi.

Artikel Terkait