Satu bulan menemani anak sekolah dari rumah, saya jadi tahu bagaimana mereka berinteraksi antarteman dan dengan gurunya. Saya pun hafal karakter guru-gurunya. Tidak peduli bagaimana teknis mereka mengajar, saya suka bagaimana interaksi guru-siswa dibangun.

Bahkan saya sudah jatuh cinta sejak masa orientasi digelar, tentu secara daring. Tak banyak yang diajarkan dan diminta. Kakak kelas mengajarkan tiga kata ajaib yang harus sesering mungkin dilakukan, baik selama sekolah daring maupun luring nanti. Tiga kata itu, yaitu: tolong, terima kasih, dan minta maaf. 

Ya, hanya tiga kata tersebut. Tetapi buat saya, itu adalah bekal mereka berinteraksi dalam kehidupan sosial lainnya.

Kakak kelas yang memfasilitasi kegiatan tersebut juga melakukan hal yang sama bila dirasa ada hal yang kurang tepat dari penjelasannya. “Maaf ya kalau penjelasan kakak kurang bisa dimengerti. Terima kasih sudah memberikan masukan,” ujar seorang kakak kelas yang bertugas hari itu. 

Pengenalan ini dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, dan semua kegiatan ini tak lepas dari pantauan guru atau pamong pendidik. Sesekali guru menginterupsi untuk memberikan penjelasan lebih detail. Saya percaya tiga kata yang ditegaskan dalam awal pendidikan di SMA ini akan membentuk karakter mereka nantinya.

***

“Nama saya Hari, teman-teman bisa memanggil saya Mr. D,” ujar Pak Hari, guru kimia di kelas IPS yang terdengar dari tempat kerja saya. 

Jelas terdengar, karena hanya selisih tembok saja dan speaker komputer dihidupkan. Sapaan teman-teman adalah sapaan kesetaraan, karena semua bisa menjadi guru dan semua bisa menjadi murid.

“Kok Mr D., apa hubungannya, Pak?” satu-dua anak menanyakan.

“Itu dari kakak kelas kalian. Nama saya, kan, Hari, bahasa Inggrisnya, kan, ‘Day’. Jadilah saya dipanggil Mr D. Saya pikir unik. Ya akhirnya dipanggil ‘Mr D’ sampai sekarang,” jelas Mr D. 

Panggilan yang funky menurut saya. Dan cara perkenalan yang menyenangkan untuk pelajaran yang bagi banyak siswa menakutkan.

Eh, kok kelas IPS ada Kimia segala? Menurut Hari, karena kimia tak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Dari menyeduh kopi, menyaring teh, sampai melarutkan gula. Dan mereka pun diminta melakukan praktik yang harus difoto atau divideokan prosesnya. Jadilah Bhumy, anak saya, membuat dokumentasi tersebut. Filtrasi dan sublimasi dengan contoh hidup sehari-hari.

Mengajar online ada tantangan tersendiri. Komunikasi jadi kunci. Tidak bisa guru bicara sendiri dan murid mendengarkan. Bisa jadi murid hanya akan izin melulu ke toilet atau matikan videonya. Skill komunikasi diuji. 

Beruntung saya mendengarkan perkenalan Mr. D di Google Class. Termasuk bagaimana dia menjelaskan tentang kimia dengan cara yang asyik. Kimia jadi menyenangkan seperti bahasa Indonesia atau pelajaran kesenian.

“Ayo Le, Bhumy, kamu sudah kenal dengan siapa saja di kelas ini?”

Nduk, Alex, siapa temanmu yang paling pendiam?" Kali ini wali kelas yang menyapa, Bu Ani namanya.

Le dan nduk, sapaan yang tak lazim bagi pelajar di Jakarta. Sapaan yang agak aneh saat pelajaran sedang berlangsung. Tetapi ternyata dalam maknanya untuk membuat bonding dengan anak-anak.

***

Buat anak saya, mungkin ini cara belajar yang menyenangkan. Dia fleksibel waktu untuk belajar, dan juga mengulang kapan saja bila belum jelas. Dan yang pasti harus memahami materi dengan baik, karena menyadari waktu untuk jumpa guru dan teman-temannya di kelas sangat terbatas. 

Kelas daring dimulai 07.30 dan berakhir pukul 11.00. Di sela break, dia makan pagi, setelah sebelumnya hanya diganjal camilan dan susu.

Ya, daya tahan untuk fokus dengan pembelajaran daring merupakan tantangan. Tidak memungkinkan dibuat lebih lama meski materi ajar mengantre dengan panjangnya. Gurunya harus kreatif untuk membuat materi jadi menarik secara visual.

Pertama, tentu kerja keras memahami platform mengajar daring yang disepakati oleh sekolah. Lalu tahu mengatasi bila ada masalah yang timbul selama proses belajar-mengajar. Termasuk bila materi tak muncul, suara tak jelas, gangguan koneksi atau gangguan di laptop anak-anak.

Nah, bagian yang menyenangkan adalah guru bisa meminta anak-anak mengisi kehadiran tidak hanya dengan tulisan “hadir” atau “ada”, tetapi sepanjang sebulan ini ada saja cara guru-guru memberikan tugas yang harus mereka tuliskan sebagai bukti kehadiran. Misalnya saja, buku sastra apa saja yang pernah dibaca. Buku-buku tersebut nantinya yang akan dibahas di pelajaran Bahasa Indonesia.

Ya, keterampilan untuk menciptakan ice breaking jadi tantangan tersendiri. Kadang geli, mendengar burung peliharan guru yang terus bernyanyi sepanjang pelajaran. Atau guru yang main tebak-tebakan untuk mengusir jenuh yang datang.

“Sudah-sudah, nanti istri saya dengar. Dikiranya saya ndak mengajar malahan,” ujar seorang guru.

***

Bagaimana anak-anak bergaul? Biasanya mereka ngobrol sebelum pelajaran atau sesudah pelajaran usai. Saat weekend datang mereka akan menghidupkan zoom untuk ngobrol hingga larut datang.

Pernah saya intip obrolan seru mereka, ternyata sedang tebak-tebakkan online. Tak seasyik pertemanan offline memang, tetapi anak-anak ini lebih cepat beradaptasi dibandingkan kita orang dewasa. Mereka pun berpartisipasi membuat berbagai video untuk lomba 17-an di sekolah. Model Titktok-an begitu. Kreatif dan koordinasi mereka lakukan secara daring semua.

Apakah orang tua hanya diam saja memasrahkan anak-anak dalam panduan guru dan sekolah? Kami pun diajak untuk terus berkomunikasi. Zoom dan seminar terbuka dilakukan untuk sama-sama menyadari tidak mudahnya guru dan murid melewati pandemi ini.

Pelajaran memang lebih singkat, tetapi tak ada kekhawatiran saya sebagai orang tua bahwa anak akan tertinggal informasi atau menjadi bodoh karena waktu belajar yang tak maksimal. Buat saya, anak bahagia dengan dunia belajar saat ini saja sudah sangat menggembirakan.

Ingat, pandemi tak hanya membuat stres orang dewasa, anak-anak pun juga. Jangan bebani mereka dengan kekhawatiran kita.