Rambut panjang sedikit menutup wajah tampan cowok itu, yang kini berdiri di depan cermin kamar mandi. 

Mulut dan hidungnya yang mengeluarkan darah, dengan cepat segara dia bersihkan dengan air. "Akhh ... sakit sekali rasanya," ucap cowok itu, yang bernama Devan.

Tok tok tok 

Suara ketukan dari luar, membuat Devan terkejut dan segera membuka pintu kamar mandi. 

"Ada apa?" tanya Devan kepada Farhan.

"Kamu dipanggil guru BK, Dev. Ayahmu sekarang juga ada di ruang BK juga."

"Apa, Ayahku juga ke sini?" tanya Devan dengan tatapan panik.

"Iya, cepatlah ke Ruang BK sekarang! Sebelum Pak Herman mencarimu."

Devan segara meninggalkan kamar mandi, semua siswa di sekolah ini menatap cowok itu. Memar pada wajah Devan begitu jelas, tapi cowok itu tidak peduli.

Kini, Devan keluar dari sekolah sambil membawa sepeda motor. Cowok itu tidak jadi ke ruang BK. Padahal Devan ditunggu oleh Pak Herman dan Ayahnya.

"Sepertinya anak Anda hari ini membolos lagi, Pak. Saya mendapatkan kabar, bahwa Devan telah bertengkar dengan Vino di kelas, hanya karena masalah sepele. Saya harap, Anda dapat memberitahukan hal itu, kepada Devan. Supaya tidak melakukan kesalahan lagi."

"Baiklah, maafkan kesalahan putraku. Saya pamit dulu." Pak Faris, Ayahnya Devan pun pulang dengan rasa kecewa.

Jam kini menunjukan pukul 11 malam, Devan baru saja pulang ke rumah. Cowok itu segera memarkirkan sepeda motornya. 

Ceklek 

Devan membuka pintu rumah, dia pun terkejut melihat di depannya saat ini ada Pak Faris yang menatap dengan tajam. "Dari mana saja kamu, Nak. Jam segini baru pulang?"

Devan menghembuskan napasnya dengan kasar. "Bukan urusanmu."

Devan yang tidak pernah patuh dengan Ayahnya itu, kini langsung pergi ke dalam kamarnya. Namun, Pak Faris berhasil mencegahnya. "Kenapa kamu tadi di sekolah bertengkar dengan temanmu?"

"Temanku yang bikin masalah dulu."

"Mau sampai kapan, Dev kamu begini. Sering kamu masuk BK, Ayah sampai malu dipanggil ke ruang BK terus."

Devan melepaskan tangannya dari Pak Faris. "Kenapa harus malu, Yah? Kamu seharusnya tidak perlu datang ke sekolahku."

"Jangan melakukan kesalahan itu lagi, Dev. Belajarlah menjadi anak yang baik seperti kakakmu yang banyak presentasi."

Lagi dan lagi, hati Devan pun sesak mendengar Ayahnya membandingkan dirinya dengan kakaknya itu. Kakaknya Devan bernama Daniel, mereka saudara kembar memiliki sifat yang berbeda.

Daniel dikenal sebagai siswa teladan, ketua OSIS dan banyak presentasi. Sedangkan Devan, cowok nakal yang suka membuat keributan di sekolah. 

"Kak Daniel terus, muak aku mendengarnya. Ayah selalu pilih kasih, puji terus anak kesayanganmu itu, Yah!"

Devan pun segera pergi ke dalam kamarnya. Dan meninggalkan Ayahnya begitu saja.

Pagi hari pun tiba, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Devan baru saja bangun, dia terkejut. Cowok itu berdecak kesal, kenapa Ayah dan kakaknya tidak membangunkannya. 

Keadaan rumah pun sepi, dan menandakan jika Ayah dan kakaknya sudah pergi. 

Hanya karena Devan nakal dan tidak pintar, membuat cowok itu kurang mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya. Cowok itu segera pergi ke sekolah, meskipun pagar sekolah sudah ditutup.

Pak Herman membukakan pagar untuk Devan. "Masuk, Dev. Kamu saya hukum karena telat!"

Devan hanya diam sambil mengikuti Pak Herman ke lapangan. Di sana ada seorang gadis cantik, berambut panjang yang sedang hormat ke tiang bendera.

Gadis itu tersenyum ke arah Devan. "Hay," sapa gadis itu dengan ceria.

Devan hanya diam, dia malas menanggapi gadis itu. 

"Devan, kamu hormat seperti Zila. Kamu harus terus hormat menghadap bendera, tunggu saya akan datang kesini. Setelah itu hukumanmu selesai." Pak Herman pun langsung pergi menuju ruang guru. 

"Namaku Zila, siapa namamu?" tanya gadis itu dengan tersenyum manis.

"Devan."

"Kamu dari kelas mana?"

"11 IPS A." Devan kini hormat menghadap ke tiang bendera, cowok itu tidak bertanya balik ke Zila.

"Kalau aku dari kelas 11 IPA B," ucap Zila tiba-tiba, padahal Devan tidak bertanya.

Setelah hukuman selesai Devan dan Zila kembali ke kelas. Saat di kelas, Devan pun banyak tidurnya daripada memperhatikan pelajaran. 

Jam kini menunjukkan pukul 4 sore, sekolah full day benar-benar membuat Devan lelah. Cowok itu bergegas pulang, namun saat di tengah perjalanan tiba-tiba sepeda motornya berhenti.

"Hay, Devan," sapa Zila dengan tersenyum ceria.

"Emm ... cewek aneh ini lagi," batin Devan memutar bola matanya malas.

Zila mengendarai sepeda kayuh yang sudah tua, setiap hari dia pakai ke sekolah. Gadis itu heran dengan Devan yang berhenti di jalan. "Dev, kenapa kamu berhenti?" 

"Sepeda motorku bensinnya habis, apa kamu tahu di mana orang yang jual bensin?" 

"Ohh, iya aku tahu. Ayo kuantar beli bensin." 

Devan terpaksa naik sepeda kayuhnya Zila yang sudah tua itu, jaraknya lumayan jauh. Mereka menikmati pemandangan kebun yang indah. Devan pun sepanjang perjalanan, tertawa dengan tingkah gadis itu, karena mendengar cerita dari Zila.

"Dev, berhenti dulu."

"Ada apa?" tanya Devan penasaran.

"Kita lihat senja dulu. Kamu pasti suka, senjanya indah banget."

"Apakah kamu suka senja?" tanya Devan.

"Suka, tapi senja tidak akan selamanya bisa menetap. Dia akan pergi setelah memberikan keindahan yang luar biasa."

Baru kali ini Devan melihat senja, warna oranye di langit yang biru, berhasil mengukir senyum Devan yang dikenal siswa nakal itu.

"Dev, ada pengumuman dari sekolah kita, akan mengadakan olimpiade matematika. Kamu tertarik ikut, Dev?" 

"Gak, ngapain ikut begituan."

"Biar kamu dapat membuktikan kepada semua orang, bahwa kamu bisa jadi yang terbaik."

Cowok itu hanya diam, setelah mendapatkan bensin. Devan kini pulang ke rumah. Cowok itu memikirkan perkataan dari Zila tadi. 

"Ini adalah kesempatan yang baik, untuk membuktikan kepada Ayah. Bahwa aku juga bisa seperti Kak Daniel." 

Devan pun setiap hari belajar matematika, dia pun juga dibantu oleh Zila. Devan yakin bahwa dirinya mampu menjadi yang terbaik. 

Tibalah saat ini, setelah perjuangan cukup panjang belajar matematika. Kini Devan pun mengikuti olimpiade matematika, cowok itu terkejut ternyata Kak Daniel juga ikut olimpiade tersebut.

Setelah berhasil mengerjakan soal-soal, Devan merasa sangat pusing. Tibalah kini pengumuman juara oleh kepala sekolah.

"Juara satu olimpiade matematika dimenangkan oleh Devano Argantara dari kelas 11 IPS B."

Semua siswa tidak percaya, Jika anak nakal seperti Devan berhasil menjuarai olimpiade. Begitupun dengan Daniel, Devan tersenyum bahagia lalu maju ke depan untuk mengambil piala.

Namun, tiba-tiba saja kepalanya semakin pusing. Cowok itu langsung pingsan sambil membawa piala. 

"Devan, bangun Dev." 

Kini Devan segera dibawa ke rumah sakit, Pak Faris dan Daniel pun ikut ke rumah sakit. Dokter keluar dari ruangannya Devan.

"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Pak Faris dengan panik.

"Devan mengalami kanker jantung stadium akhir, kesempatan untuk hidup sangat kecil," ucap Pak Dokter.

Pak Faris terkejut, dia dan Daniel segera masuk ke dalam ruangannya Devan. Alat-alat medis banyak menempel di tubuhnya Devan. Cowok itu kini memejamkan matanya. 

"Nak, kamu harus sembuh ya. Maafkan Ayah." 

"Maafkan aku juga, Dev. Kamu harus kuat," ucap Daniel.

Devan membuka matanya lalu tersenyum. "Aku sudah membuktikan kepada Ayah, bahwa aku juga mampu seperti Kak Daniel."

"Iya, Nak kamu hebat." Pak Faris menyesal telah tidak adil dengan Devan.

"Tolong, berikan surat ini kepada Zila kelas 11 IPA A." 

Daniel pun mengangguk setuju. Devan sudah tidak bisa bertahan dengan rasa sakit di area jantungnya itu. Akhirnya cowok itu menghembuskan napas terakhir, setelah berhasil membuktikan kepada Ayahnya.

Gadis yang selalu ceria itu, kini bersedih sambil menatap senja. Zila membaca surat dari Devan. Isi suratnya yaitu:

Terima kasih, Zila kamu mengajarkanku banyak hal. Dengan melihat senja bersamamu saat itu, membuatku sadar, bahwa sebelum benar-benar pergi, kita harus memberikan keindahan. 

Aku memang sengaja menyembunyikan penyakitku ini, karena aku merasa tidak pantas untuk hidup dan dicintai. 

Tapi, aku sangat berterima kasih banyak. Mengenalmu dan bertemu senja membuat diriku banyak berubah menjadi baik.

"Aku memang tidak bisa menahan Devan ataupun senja untuk pergi, tapi aku senang melihat Devan yang berhasil mendapatkan kemenangan. Bagiku sama seperti senja, yang hadirnya memberikan keindahan. Tapi kepergianmu sama-sama membuat luka di hatiku. Selamat tinggal, Devan," ucap Zila dengan menatap senja yang sudah mulai tergantikan malam.