Dewasa ini, siapa yang tak asing dengan istilah LDR (Long Distance Relationship) atau banyak orang menyebutnya dengan hubungan jarak jauh. LDR atau Long Distance Relationship yaitu hubungan jarak jauh antara pasangan kekasih. Perbedaan jarak antara pasangan kekasih membuat mereka jarang bertemu secara langsung.

Beberapa orang mengartikan Long Distance Relationship sebagai pasangan yang sedang menjalin hubungan antar negara. Maksudnya, pasangan kekasihnya ada di negara yang berbeda. Namun, tahukah bahwa ada yang lebih menyakitkan daripada jarak yang jauh yaitu keyakinan. Keyakinan ini yaitu keyakinan iman pada masing-masing individu, agama.

Long Distance Religion-ship, katanya. Istilah ini bisa disebut sebagai plesetan dari akronim LDR, atau biasa kita sebut Long Distance Religion-ship dengan istilah cinta beda agama. Cinta merupakan suatu rasa yang sangat berharga dan berarti dalam kehidupan manusia.

Memiliki rasa cinta dan keinginan untuk dicintai merupakan impian yang dimiliki oleh semua manusia. Tentu untuk bisa bersatu, rasa cinta perlu diuji dan didasari oleh keyakinan untuk bisa saling menjaga selamanya. Maka, bagaimana jadinya jika cinta yang terjadi adalah cinta beda agama?

Kita memang tidak bisa mengontrol seberapa besar cinta yang ingin kita rasakan ataupun yang ingin kita berikan, hanya saja mungkin akan terasa menyakitkan bila cinta jatuh pada cinta yang memiliki pembatas. Pembatas tipis memang, tetapi nyata adanya dan sulit ditembus. Ya begitulah bila pembatas itu adalah keyakinan agama.

Tak hanya rasa yang harus dipertaruhkan, tetapi iman juga menjadi hal dasar yang sangat perlu diluruskan. Tidak salah memang dalam cinta beda agama karena mencintai adalah hal normal yang terjadi dalam diri manusia. Tidak ada yang salah dari mencintai karena pada dasarnya rasa cinta itu hadir tanpa permisi, tanpa notifikasi, dan tanpa diundang.

Kehadiran rasa cinta terhadap seseorang memang sering kali datang tiba-tiba. Yaps! Tiba-tiba saja kita jatuh cinta pada seseorang, tiba-tiba saja merasa dimabuk asmara, tiba-tiba merasa sangat sayang dan tidak ingin kehilangan. Kalau ditanya, kok bisa mencintai beda agama? Sudah jelas jawabannya, ya karena mencintai itu tidak butuh alasan.

Banyak sekali terjadi kasus demikian. Long distance religion-ship atau cinta beda agama bukanlah sesuatu yang mustahil untuk terjadi, terutama di Indonesia yang memiliki beragam agama. Walaupun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, tetapi tak dapat dipungkiri hal tersebut justru masih sering terjadi di Indonesia.

Long distance religion-ship memang perkara cinta yang cukup pelik. Bahkan bagi beberapa pasangan mungkin hal tersebut menjadi sesuatu yang rumit. Ada banyak masalah yang sering kali timbul dalam menjalani hubungan cinta beda agama seperti sulitnya mendapat restu orang tua, perbedaan adat dan kebiasaan, dan tentunya dari bagaimana mereka beribadah.

Biasanya titik temu dari long distance religion-ship yaitu meninggalkan agamanya atau melepas kepergiannya. Dua pilihan yang sulit, tetapi semuanya kembali lagi pada prinsip dari hubungan yang dijalaninya. Meninggalkan agama bukanlah perkara yang mudah, itu berhubungan erat dengan keimanan seseorang.

Namun sebaliknya, melepaskan seseorang yang kita cintai juga bukan sesuatu yang sangat tidak diinginkan. Maka untuk memutuskan hal tersebut perlu dipahami lagi apakah hubungan itu hanya untuk sekedar uji coba percintaan dengan dalih mencari tempat nyaman untuk berkeluh kesah atau untuk menjalin hubungan yang serius dalam artian “pernikahan”.

Menjalan hubungan romantis dengan ia yang memiliki kepercayaan yang sama saja memerlukan banyak pertimbangan, apalagi cinta beda agama. Untuk mempertahankan komitmen dalam hubungan, terutama dalam aspek long distance religion-ship, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, perlu dilihat kembali seberapa dalam kita menghayati agama sebagai identitas pribadi dan seberapa sering kita menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Ini perlu dilakukan agar bisa melihat seberapa jauh perbedaan kita dengan pasangan kita dalam melihat kehidupan pribadi dan percintaan.

Kedua, pahami toleransi dalam sebuah hubungan dengan saling berdiskusi mendalam terutama dalam aspek beribadah. Selanjutnya, tentang bagaimana kamu dan pasangan juga perlu mendiskusikan cara menangani reaksi orang terdekat atau orang sekitar yang mungkin saja tidak mendukung adanya hubungan beda agama tersebut.

Tentunya dalam menjalin hubungan tak heran bila berasa di fase jenuh, fase tidak nyaman. Ya memang bukan hanya komitmen saja yang harus dijaga agar hubungan menjadi langgeng. Hubungan yang sehat  yaitu mereka yang bisa saling menghormati satu sama lain bahkan di saat merasa tidak setuju.

Perbedaan agama saja sudah mengguncang mental masing-masing, dengan bisa menghargai dan merima opininya sekalipun kita tidak setuju maka perbedaan yang ada tidak terlalu menimbulkan kericuhan antara satu dengan lainnya. Kita juga bisa mencari hal baik dari setiap opini yang terlontar dari ucapan pasangan kita.

Perbedaan opini wajar karena kita dan pasangan berasal dari latar belakang yang berbeda. Selain itu, cari persamaan dengan pasangan. Hal ini untuk meminimalisir perbedaan yang ada. Seperti halnya mencari tau hobi dan kegiatan yang sama-sama disukai ataupun mengenai hal lainnya.

Di samping itu, tentunya harus menyadari bahwa konflik akan tetap ada. Konflik itu seperti mi instan dan telur—sulit dipisahkan. Perbedaan itu wajar terjadi karena kita dan pasangan dilahirkan dari latar belakang keluarga yang berbeda. Namun, dengan saling support dan menghargai satu sama lain maka masalah mampu diselesaikan dengan cara baik-baik.

Pada dasarnya, setiap manusia pasti merasakan jatuh cinta. Merasakan cinta itu memang fitrahnya manusia. Tidak salah memang mencintai ia yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan kita. Semuanya kembali pada perasaan masing-masing. Ketika berani jatuh cinta, maka harus berani menerima segala konsekuensi yang akan terjadi.

Berani menerima ia dengan segala tembok besar pembatasnya. Ya karena takaran cinta yang sesungguhnya adalah mengikhlaskan, mengikhlaskan bila pada akhirnya memang tidak berjodoh dan pastinya mengikhlaskannya bila tak berakhir bersama. Semuanya harus diterima dengan sadar dan penuh keikhlasan. 

Mencintai ia yang berbeda keyakinan dengan kita itu bukan suatu kesalahan kok, yang salah adalah bagaimana kita menyikapi perasaan itu. Apakah dengan hal yang positif sehingga membuat kita menjadi lebih baik atau justru membuat kita terjerumus pada hal negative. Semua kembali pada hati sendiri.

Tapi perlu diingat ya, seseorang yang tepat akan datang di saat yang tepat karena kamu itu spesial untuk orang yang spesial. Semangat pejuang long distance religion-ship. Apapun yang terjadi kelak semoga kalian berujung dengan titik temu yang indah, hingga membuat kisah kalian menjadi happy ending yang tak terlupakan.