Hidup tanpa kekasih bukanlah sebuah kehidupan yang patut dijalani.

Aku membaca buku ini hanya untuk menuntaskan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahuku akhirnya tuntas dibarengi dengan rasa muak yang berusaha kuredam. Konon, kisah cinta ini banyak beredar di wilayah Persia, namun tidak utuh. Terpotong-potong. Hanya potongan-potongan kisah yang berserakan. 

Hingga seseorang bernama Nizami, dari wilayah Azebaijan, pada abad ke-12, menuliskannya dan mengumpulkannya menjadi satu kesatuan yang utuh. Buku karya beliaulah yang banyak diterjemahkan dan kini dikenal dengan judul Layla dan Majnun.

Buku ini berkisah tentang sepasang pemuda yang jatuh cinta di usia yang begitu belia. Dikatakan bahwa mereka berjumpa ketika bersekolah, belajar pada guru yang sama. Perkiraanku, mungkin pada rentang usia 15-20 tahun. Si pemuda bernama Qays, anak kepala suku Bani Amir. Sedangkan si pemudi bernama Layla, juga anak kepala suku dalam  sukunya.

Mereka hidup di wilayah yang- bagaimana aku harus menyebutnya, tanah Persia? Jazirah Arab? Pegunungan Najd? Ataukah gurun? Ataukah aku mengikuti penamaan modern seperti Timur Tengah? Tapi, Timur Tengah menurut tafsiran yang bagaimana lagi? Middle East and North Africa? Wkwkwkwk aku sebaiknya tidak terlalu serius saat ini.

Cinta bersahut di kedua belah pihak. Jadi, tidak seperti kisah cintamu yang sudahlah tidak bersambut, hanya mampu mencintai dalam diam pula. Sepasang anak manusia, yang dikisahkan begitu cantik dan rupawan, dari kalangan bangsawan, semakin sering menghabiskan waktu bersama, hingga mengundang bisik-bisik tidak baik dari tetangga.

Layla kemudian dipingit oleh ayahnya, sedang Qays berkelana dari satu kedai ke kedai lainnya melantunkan bait-bait syair berisi pemujaan atas diri kekasihnya, Layla. Maka, seperti itulah semuanya bermula. Keluar dari mulut Qays sendiri, semua puja-puji akan kecantikan Layla, terdengar dari satu mulut ke telinga yang lain, hingga tersebar ke seantero wilayah gurun.

 Orang-orang menjadi tahu akan sebuah kisah cinta antara dua orang yang tidak lagi pernah saling bertemu. Sialnya, orang-orang pun semakin penasaran akan sosok yang bernama Layla yang dielu-elukan dalam syair-syair yang beredar itu.

Singkat cerita, Qays yang menanggungkan rindu akan kekasihnya, semakin gencar mengumandangkan syair-syairnya kepada malam, kepada awan, kepada angin, kepada karavan, kepada siapapun yang lewat. Qays, seperti yang dikatakan orang-orang yang pernah melihatnya, mulai kehilangan akal. Demikianlah Qays yang rupawan mulai dikenal sebagai “Majnun”, si gila.

Bagi sebagian orang, “mati satu tumbuh seribu” atau “cinta ditolak, dukun bertindak” adalah frasa untuk menenangkan hati. Namun, bagi Majnun, hal ini tidak berlaku. Cintanya tidak mati. Cintanya hidup, duduk manis, terpingit dalam tenda di tengah-tengah perkemahan sukunya. Cintanya pun tidak ditolak. Cintanya bersambut. Ia mencintai, juga dicintai. Lalu apa sebenarnya yang terjadi?

Menyadari keadaan anaknya yang “terkenal” dan menyedihkan, dan terkenal menyedihkannya, seperti yang dituturkan oleh orang-orang, Sayyid, ayahanda Majnun, memutuskan untuk bertindak. Ia mendatangi suku Layla dan menemui ayahnya. Ayah Majnun bermaksud untuk meminang Layla bagi si Majnun. Lalu, apa yang terjadi kemudian? 

Tentu saja lamaran itu ditolak. Tidak ada secuil pun niat dalam diri Ayah Layla untuk menikahkan putrinya kepada laki-laki yang terkenal kegilaannya dan yang membuat putrinya disebut-sebut dalam syair-syair yang keluar bebas dari mulut orang-orang. Syair-syair itu merendahkan putrinya, pikirnya.

Ayah Layla tidak akan menikahkan putrinya kepada seorang pemuda gila yang hilang akal. “Sebelum ia sembuh, saya tak mau mendengar tentang perasaan cinta ataupun pernikahan antara dirinya dengan putri saya”. Demikianlah ultimatum yang dikeluarkan ayah Layla yang dipahami sepenuhnya oleh Ayah Majnun.

Ayah Majnun sepenuhnya menyadari keadaan putranya yang menyedihkan itu. Oleh karenanya, ia memutuskan akan melakukan segala cara untuk mengembalikan kewarasan putranya. Majnun dibawa beribadah ke rumah Tuhan, ke Ka’bah. Namun, yang terjadi ya itu-itu juga.

Di rumah Tuhan, di hadapan Sang Pemilik Cinta, Majnun mengadu: “Ya Allah! Katakan padaku bahwa aku akan mendapatkan kembali kesadaranku jika kutinggalkan cinta, tapi sejujurnya kukatakan bahwa hanya cintalah yang kumiliki. Cinta adalah kekuatanku. Jika cinta itu mati, maka aku akan mati bersamanya”.

Sekarang Anda paham betapa memuakkannya sekadar menamatkan buku ini?! Oh Tuhaaan~ Jangan sampai kegilaan Majnun membuatku jadi majnun juga! Sialnya, tiada seorangpun yang mengatakan kepada Majnun bahwa jika ia mendapatkan kesadarannya kembali, maka ada kemungkinan ia bisa menikah dengan Layla. Majnun hanya dibujuk dan diminta untuk kembali sadar. Tidak dikatakan bahwa kesadaran itu akan membawanya bersama dengan Layla. 

Mungkin memang jalan takdir harus seperti itu, dan kisah ini harus berjalan seperti ini, agar kegilaan Majnun dan keabadian cintanya menjadi legenda untuk kita nikmati dari masa ke masa.

Sekilas, kisah ini membuatku menyadari bahwa penyebab kegilaan Majnun adalah keterlambatan penanganan akan keadaan hati pemuda itu. Jika saja Ayah Majnun bertindak lebih cepat untuk melamar Layla bagi Majnun sebelum ia kehilangan akalnya, mungkin Majnun tidak akan berakhir gila. Jika saja segala sesuatunya tertangani begitu bisik-bisik tetangga itu mulai terdengar. 

Jika saja Majnun segera mengatakan kepada Ayahnya bahwa ia ingin menikahi seorang gadis. Jika saja Indonesia Tanpa Pacaran hadir di tempat itu untuk memberikan motivasi bagi si Majnun untuk memberanikan diri menikah. Namun, sungguh! Aku sendiripun tidak paham apa yang sebenarnya diinginkan oleh pemuda itu? Menikah dengan kekasihnya atau cukuplah mengenangnya dalam bait-bait puisi?

Seperti apa sebenanrnya kegilaan Majnun? Majnun mulai mengasingkan dirinya sendiri. Menjauhi teman, sanak keluarga, juga peradaban, menuju pegunungan yang tak dihuni oleh siapapun, melainkan binatang-binatang buas. Majnun datang membawa dirinya, cintanya, dan kelembutan hatinya hingga binatang-binatang buaspun akhirnya berkawan akrab dengannya.

Majnun hidup dengan mengonsumsi beberapa buah berry dan akar-akaran. Tubuhnya hanya menyisakan tulang. Pakainnya sudah tidak ada lagi yang melekat di tubuhnya. Satu-satunya hal yang membuatnya mampu merespon percakapn hanyalah kata “Layla”. Segala sesuatu dengan kata “Layla” membuatnya sadar seketika, membuatnya mampu mengolah informasi dan berpikir.

Namun, hal itupun tak pernah berlangsung lama. Majnun selalu melarikan diri dari orang-orang, dan tak seorangpun yang mampu mengikuti pola hidup Majnun sebagai manusia gurun yang tak lagi berakal.

Majnun tak ingin kembali pulang. Kembali kepada ayah ibunya, teman-temannya, kepada sukunya, juga kepada peradaban. Ia menolak. Ia hanya ingin sendirian dalam hidupnya. Dengan cintanya, rindunya, dan tubuhnya yang tak lagi karuan. Majnun telah membudakkan dirinya sendiri di hadapan cinta. Ia menulis takdirnya sendiri sebagai budak cinta.

Lantas, bagaimana dengan Layla? Layla adalah permata bagi ayahnya. Begitu kabar miring tentang pergaulan anaknya dengan Majnun beredar, Layla segera dipingit di dalam tendanya, dijaga oleh penjaga dari sukunya. Dunia luar tertutup baginya. Rasa simpati mengalir kepada Layla, sebab ia perempuan dengan pilihan hidup yang terbatas. Katanya.

Layla dan Majnun saling mencintai. Sayangnya, Majnun terlalu dini kehilangan akal sehatnya. Majnun pernah menyelinap ke perkemahan suku Layla dan bertemu pandang dengan Layla beberapa detik lamanya. Hanya itu keintiman yang mampu mereka ciptakan. Pertemuan singkat ketika mata saling menatap menumpahkan semua haru-biru perasaan. Hanya sesingkat itu, dan Majnun segera beranjak pergi.

Layla tidak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya, itu yang ia yakini. Takdir cinta dan jalan hidupnya sudah  ditakdirkan seperti ini. Mencintai dalam diam. Menjaga dan merawat cintanya sendirian. Syair-syair cinta Majnun sampai ke telinga Layla dari mulut para musafir. Rindu dikirimkan Layla kepada Majnun melalui angin. Cinta mereka bertaut di cakrawala, pada doa-doa yang diucapkan ketika malam tiba. Namun, aku tak yakin Majnun masih tahu caranya berdoa.

Sebagai perempuan, dalam memperjuangkan cintanya, apakah Layla punya pilihan lain? Satu-satunya pilihan baginya agar bisa bersama dengan Majnun adalah dengan meninggalkan sukunya, dan menjadi manusia tak bersuku. Layla tak kuasa untuk mengambil pilihan itu dan menanggungkan risikonya. Ia memutuskan tetap tinggal bersama keluarga dan sukunya, dan mengamini kematiannya.

Cinta yang tak bisa menyatu, telah membawa pergi gairah hidup sepasang sejoli ini. Kematian telah menemui mereka, menyisakan raga yang masih terus menapak di muka bumi. Untuk apa? Hidup tanpa kekasih bukanlah sebuah kehidupan yang patut dijalani.

Majnun masih terus hidup dalam pengasingan, keterasingan, dan kesendirian yang ia ciptakan sendiri. Layla dinikahkan oleh ayahnya kepada Ibn Salam. Laki-laki yang tidak pernah berbagi peraduan dengan istrinya yang harus puas hanya dengan memandangi Layla, itu pun dengan mata yang selalu berpaling darinya. 

Ibn Salam kemudian mati meninggalkan Layla yang meratapi kematiannya. Namun, sebenarnya, Layla meratapi nasibnya sendiri. Menangisi kisah cintanya dengan Majnun yang selama ini hanya mereka berdua yang tahu betapa dalamnya mereka mencintai satu sama lain.

Layla kemudian jatuh sakit dan mengucapkan nama Majnun di penghujung napas terakhirnya. Kabar kematian Layla sampai kepada Majnun dan membuatnya berlari menerobos padang pasir menuju makam kekasihnya. Di atas pusara, Majnun meratapi cintanya. 

Di atas makam Layla, Majnun pun mati menyusul belahan jiwanya. Tubuh dan cinta mereka tidak bertemu di dunia, namun orang-orang percaya cinta mereka menyatu di keabadian.

Apakah pantas menyebut diri “mencintai” ketika diri bahkan tak mampu menerobos batas-batas untuk bersama dengan orang yang dicintai? Tetaplah waras, pembaca. Atur strategi dan perjuangkan orang yang kau cintai. Perjuangkan orang yang memperjuangkanmu juga. Hahahaha