Model pembelajaran jarak jauh memang menjadi solusi selama masa pandemi ini. Itulah mengapa mau tidak mau, suka tidak suka, setiap rumah berubah menjadi ruang kelas. Semua orang tua menggantikan peran guru untuk mengontrol sekaligus teman belajar bagi anaknya. Sementara, tugas guru/pengajar mempersiapkan dan menyediakan media pembelajaran semenarik mungkin.

“Hal yang sangat penting untuk siswa dengan kesulitan belajar spesifik agar tak tertinggal pada fase pembelajaran jarak jauh adalah memastikan bahwa mereka memiliki dukungan belajar yang memadai ketika rumah mereka berubah menjadi ruang kelas”. (Cambridge)

Ungkapan tersebut adalah petuah dari Judit Kormos, seorang ahli pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus dari universitas Lancaster. Pernyatannya akan dukungan yang memadai juga terkait dengan desain model pembelajaran jarak jauh yang memang harus dibuat secara cermat dan hati-hati. Kecermatan itu terkait dengan memperhatikan apakah siswa dengan disabilitas mampu dengan mudah memahami dan merasa nyaman dengan penyajian materi tersebut.

Namun sayangnya, pandemi ini justru berdampak lebih buruk pada para siswa dengan disabilitas. Hal itu akan menjadi makin buruk jika kondisi siswa tergolong miskin dan disablitas. Menurut data WHO, 80% orang dengan disabilitas justru hidup di negara berkembang di mana pendidikan inklusif masih jauh panggang daripada api layaknya di Indonesia.

Saya jadi teringat pengalaman saat mengajar salah satu siswa dengan disleksia di tingkat sekolah dasar. Bagi siswa ini, internet barangkali menjadi barang mewah. Kondisi ekonominya sangat tidak memungkinkan untuk membeli kuota sementara alat pendidikan jarak jauh yang paling utama adalah internet itu sendiri.

Saya tidak membayangkan bagaimana Ia harus bertahan di masa pandemi tanpa pendampingan belajar dari gurunya. Orang tuanya tergolong tidak mampu mendampinginya belajar karena tingkat pendidikan rendah dan bahkan tidak bisa membaca. Bagi siswa seperti ini, bukankah pandemi justru membuat kondisi pendidikan mereka makin tertinggal?

Untungnya, dia masih memiliki akses televisi. Dia masih bisa mengakses program Belajar dari Rumah yang ditayangkan di TVRI.

Pemerintah memang memberikan program ini sebagai solusi atas keterbatasan akses bagi siswa yang sulit menjangkau pembelajaran daring. Program yang dirilis sejak 13 April ini tayang mulai Senin-Jumat dari pukul 08.00-14.00. Program ini menjangkau seluruh jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA.

Namun, benarkah program tersebut inklusif bagi mereka yang disabilitas dengan kemampuan ekonomi rendah? Kenyataannya program ini memang memperoleh berbagai kritikan. Termasuk kritikan tentang sulitnya layanan TVRI dijangkau diberbagai daerah hingga adanya kemungkinan beban siswa justru bertambah karena tayangan ini.

Pada praktiknya, proses pembelajaran bagi siswa dengan disabilitas memang memiliki teknik tersendiri.

Selama ini, pembelajaran dengan tatap muka memang paling cocok bagi mereka karena pendekatan personal/individual guru sering kali lebih efektif daripada yang generalistik. Maka, pendidikan semasa pandemi dengan bantuan teknologi menjadi tantangan tersendiri karena sangat mungkin pendekatan personal menjadi terhambat. Orang tua dalam hal inilah yang seharusnya menjadi perpanjangan tangan para guru.

Perihal konten pembelajaran TVRI, orang tua menjalani peran untuk mendampingi belajar. Akan tetapi, tentu menjadi lebih baik jika upaya yang orang tua berikan untuk mendampingi mereka menjadi semakin berkurang karena kualitas konten belajar yang ramah disabilitas. Kenyataannya, konten TVRI tidak menyediakan akses yang sesuai untuk mereka konsumsi.

Bagi siswa disabilitas seperti siswa disleksia tersebut, program ini barangkali tidak cocok untuk mereka. Siswa dengan disleksia memiliki kepekaan akan kontras warna sehingga program ini seharusnya menggunakan pewarnaan huruf yang sangat kontras.

Pada kenyataannya, materi memang disajikan dengan cukup mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang sederhana dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Namun, sayangnya program tersebut terlewat menyajikan gambar atau tulisan dengan warna yang kontras.

Selain itu, program ini tidak menampilkan juru bahasa isyarat agar mereka dengan disabilitas tuli atau lainnya masih bisa mengaksesnya. Begitu pula bagi mereka dengan disabilitas netra, program ini tidak menyediakan format yang dapat mereka jangkau. Kenyataan ini menguatkan pandangan bahwa pendidikan inklusi memang hanya sekedar ilusi dan masa pandemi ini membuatnya kian jelas saja.

Program ini menyajikan pula konten materi terkait dengan pengembangan budaya inklusif pada tayangan “Etika Berinteraksi dengan Sahabat Disabilitas”. Konten ini memang baik untuk mengajak agar siswa non-disabilitas tidak lagi menganggap disabilitas sebagai orang cacat, menghargai mereka sebagai sesama manusia, dan bersikap tidak memberikan stereotip buruk. Namun, anjuran tersebut berbanding terbalik dengan upaya pemerintah menyediakan media pembelajaran yang inklusif.

Konten ini juga menayangkan keberhasilan pembelajaran inklusif. Sayangnya, keberhasilan itu hanya ditunjukkan melalui pembuktian angka-angka banyaknya siswa dengan disabilitas yang sudah bersekolah tanpa melihat pada ketimpangan akses media pembelajaran yang seharusnya mereka dapatkan.

Namanya juga televisi milik pemerintah, jadi tidak mungkin berbalik mengkritik pemerintah, kan?

Sampai sejauh ini, tidak ada informasi yang cukup terkait bagaimana siswa-siswi dengan disabilitas mengakses pelajarannya. Tidak heran jika masa wabah seperti ini, muncul kekhawatiran bahwa para disabilitas hanya dirumahkan saja karena tidak adanya layanan pendidikan yang memadai.