Awalnya, seseorang ingin pergi, ingin menghilang dari penat pada suatu tempat atau kenangan. Lantas bepergian untuk menemukan diri senyatanya, lebih dekat, lebih bijak dari pamer media sosial yang seakan menyerbu tiap waktu. Pasar media sosial yang begitu penat juga sesekali wajib ditinggalkan. Sebab terlalu gaduh juga membuat yang waras menjadi gila seketika.

Aku yang kebetulan bermukim pada tempat yang asing, rindu sekali ingin pulang. Pulang? Bukankah tempat asing ini adalah rumahmu? Entahlah ... satu-satunya arti pulang untukku adalah rumahku di Bali beserta segenap kenangan dan kehangatannya.

Tentang Bali, aku tak begitu dekat dengan Kuta dan segala hingar binger dunia gemerlapnya. Tentang Bali, aku rindu racikan khas dari tangan-tangan penuh dedikasi, tangan-tangan handal meski tak mencicipi bangku sekolahan. Tangan yang mencipta rasa damai dan selalu rindu pada kampung halaman.

Jika Bali dikenal dengan betutu, plecing, blayag, sate bali, gurame nyat-nyat, ikan bakar Jimbaran, dan masih banyak lagi, satu makanan tradisional lain yang turut menjadi pilihan kuliner favorit di tanah dewata yaitu lawar.  

Ketika menyebut kata ini, perut “rantauan” seakan meleleh. Tidak ada yang bisa mengobati selain harus menikmatinya langsung. Ada juga yang langsung nyinyir ketika mendengar nama masakan ini. Pikiran mereka akan berkelana tentang halal atau haram. Jangan sampai kalimat “Di Bali tidak ada makanan halal ya?” itu terucap lagi. Jangan cepat alergi. Lihat, cicipi, baru berkomentar. Soal haram atau halal, bukankah itu urusan manusia dengan Tuhannya?

Jika bagimu tidak halal, tidak lantas menyebut yang dimakan orang lain sebagai makanan haram. Toh, kami para pelayan rumah makan dan restoran di Bali selalu bertanya, “Mau olahan apa?” Kami juga dituntut membaca gerak tubuh juga budaya. Sebab, kami tumbuh dalam adat yang menghargai keyakinan, menghargai perbedaan, juga menghargai larangan.

Lawar adalah masakan berupa campuran sayur-sayuran dan daging cincang yang dibumbui secara merata. Makanan ini lazim disajikan dalam rumah tangga di Bali atau dijual secara luas di rumah-rumah makan dengan sebutan lawar Bali. Terlebih saat upacara besar seperti hari raya Galungan, Kuningan, Nyepi, lawar menjadi sajian wajib di setiap rumah.

Lawar dibuat dari daging yang dicincang, sayuran, sejumlah bumbu-bumbu dan kelapa. Kadang-kadang di beberapa jenis lawar diberikan unsur yang dapat menambah rasa dari lawar itu yaitu darah dari daging itu sendiri. Darah tersebut dicampurkan dengan bumbu-bumbu tertentu sehingga menambah lezat lawar tersebut.

Lawar sendiri tidak dapat bertahan lama makanan ini jika didiamkan di udara terbuka hanya bertahan setengah hari. Sebab tanpa bahan pengawet, lawar harus cepat habis dan dimakan bersama-sama dalam jumlah yang besar.

Penamaan lawar bervariasi, biasanya berdasarkan jenis daging yang digunakan atau jenis sayurannya. Bila yang digunakan daging babi maka lawar yang dihasilkan disebut lawar babi, daging kambing, disebut lawar kambing, begitu juga dengan kuwir, sapi, dan bahan lainnya. Demikian juga bila yang digunakan sayur nangka, maka lawarnya diberi nama lawar nangka.

Ada juga pemberian namanya berdasarkan warna lawarnya yaitu lawar merah bila warna lawarnya merah, lawar putih bila warna lawarnya putih dan ada lawar yang bernama lawar padamare, yaitu sejenis lawar yang dibuat dari campuran beberapa jenis lawar. Lawar disajikan sebagai teman nasi bersama jenis lauk-pauk lainnya.

Selain enak, lawar sebagai makanan tradisional Bali ternyata memiliki filosofi tersendiri. Lawar mengandung makna keharmonisan dan keseimbangan. Hal ini dilihat dari bahan-bahan pembuatnya yaitu : parutan kelapa (putih, simbol Dewa Iswara di timur); darah (merah, simbol Dewa Brahma di selatan); bumbu-bumbu (kuning, simbol Dewa Mahadewa di barat); dan terasi (hitam, simbol Dewa Wisnu di utara).

Keempat arah mata angin tersebut melambangkan keseimbangan. Selain itu sifat-sifat bahannya yang berupa rasa manis (kelapa), asin (garam), pahit (buah limo), pedas (bumbu), amis (darah), asam (asam), dan bau busuk (terasi) jika mampu meraciknya dengan tepat akan menghasilkan rasa yang nikmat.

Hal ini merupakan filosofi bagi seorang pemimpin dalam mengoptimalkan potensi-potensi rakyatnya yang berbeda-beda sehingga bisa menciptakan keharmonisan. Sekali lagi, ini perihal keyakinan umat Hindu Bali tentang lawar. Jangan nyirnyir menyebut keyakinan ini sebagai musrik atau semacamnya. Perihal keyakinan adalah soal hati. Jangan mengusiknya, apalagi memaksanya untuk berpaling.

Aroma lawar Bali ini begitu menggugah. Sebab diracik dengan bumbu terbaik dari alam tradisional Bali. Base genep, begitu tetua di Bali menyebut bumbu dan olahan lawar ini. Base genep ini terdiri atas beragam bumbu yang diaduk menjadi satu dan menimbulkan harmoni rasa yang menggugah selera. Satu lagi bahan yang tak luput dari pembuatan lawar adalah kehangatan.

Ya, bumbu spesial yang satu ini membuat lawar Bali tak bisa dibuat sembarang tangan. Meski sudah mennyontek segala resep, dengan takaran yang pas, pedas yang dominan, jika tangan pembuatnya tak hangat, maka lawar yang dibuat akan tetap terasa hambar, terasa asing, bahkan di lidah si pembuat sendiri.

Serupa dengan Indonesia yang berbhinneka ini. Jika setiap bagian menyadari potensi terbaik untuk membuat Indonesia damai, maka perbedaan bukan penghalang. Jika perbedaan tidak dirayakan dalam kehangatan, maka Indonesia hanya sebuah negara asing yang penduduknya tak saling kenal, bahkan cenderung mencaci maki. Lantas, ketika warganya tak saling mengenal, bisakah Indonesia mendunia? Mustahil kiranya.   

Setiap suku, agama, adat, bisa menikmati kuliner lawar ini. Bahannya yang fleksibel dan banyak alternatif, membuat yang alergi dengan kata halal, bisa turut menikmatinya. Tinggal ganti saja bahan utama daging lawar tersebut dengan daging kuwir, kambing, sapi, ikan, bahkan mentimun, lawar Bali tetap menyajikan rasa yang sama enaknya.

Lawar tidak memilih siapa yang menajdi penikmatnya. Sebab ia tahu bahwa semakin beragam keinginan penikmat membantu lawar mendunia.  

Yang masih alergi dengan perbedaan, mungkin bisa memandangi sekaligus menikmati kuliner lawar ini. Indonesia begitu banyak yang mesti dibenahi. Sikap intoleran bukan tradisi apalagi warisan. 71 tahun Indonesia merawat kebhinnekaannya. Mari bantu Indonesia untuk menjadi kaki-kaki yang kuat menopangnya agar tidak pincang.