2 tahun lalu · 12801 view · 5 menit baca · Politik 356410_620.jpg
Sumber foto: tempo.co

Lawan Ahok dan Fitnahnya

Pernahkah Anda menonton video berjudul "Indonesia dalam Bahaya Besar" yang disebar melalui grup-grup WhatsApp dan media-media sosial yang lain? Video ini salah satu bukti bagaimana lawan-lawan Ahok menyebarkan fitnah untuk menyerangnya. Apa lacur, karena hanya fitnah, maka propaganda itu meremehkan akal sehat dan informasi yang mudah dikenal di publik.

Video fitnah itu berasal dari "Dragon TV" yang katanya dari Beijing Tiongkok tapi justru menjadikan Tiongkok sebagai ancaman. Video itu dimulai dengan narasi, Negeri China membutuhkan sebuah negeri koloni agar bisa menampung 2 milyar penduduknya. Baiklah, jumlah penduduk China pun di-mark up dari 1.3 Milyar lebih ke 2 Milyar.

Kemudian narasi itu mengulas strategi koloni negeri Tiongkok di Indonesia yang bertentangan dengan fakta dan sangat konyol. 

Membuat kompleks perumahan sepanjang bibir pantai laut Jawa. Fungsinya supaya mudah menyelundupkan barang, dan yang paling penting adalah menyelundupkan orang dari China daratan melalui laut, langsung ke bawah kolong rumah-rumah mereka yang berada di bibir pantai. Rumah-rumah tersebut juga berguna sebagai basis pertahanan, bila terjadi kerusuhan nanti. Mereka bisa langsung melarikan diri ke laut dengan speed boat yang stand by di kolong rumahnya. Perhatikan dan lihatlah bentuk perumahan di Pluit, Pantai Indah Kapuk, Pantai Mutiara, Ancol.

Apakah perumahan-perumahan di Pluit, Pantai Indah Kapuk dan Pantai Mutiara memiliki kolong-kolong rumah yang menyambung dengan perairan laut, atau Narator "Dragon TV" sedang membayangkan rumah-rumah nelayan kumuh yang berbentuk rumah-rumah panggung?

Narasi yang konyol dengan menyebut kalau ada kerusuhan bisa melarikan diri ke laut dengan speed boat. Ini konyol dan tak lebih menggambarkan upaya bunuh diri, lari ke laut lepas hanya dengan speed boat tanpa ada kapal besar, membuat terkatung-katung. Kalau pun ada upaya melarikan diri, saat ini adalah lewat bandara dan naik pesawat udara, bukan dengan lari ke laut menggunakan speed boat. Inilah logika yang sangat konyol.

Narasi dilanjutkan dengan soal amandemen UUD 1945 terkait syarat menjadi Presiden Republik Indonesia dari kalimat pribumi asli ke WNI yang dituduh "...Maka orang keturunan Tionghoa atau keturunan China bisa berpeluang menjadi Presiden di Indonesia."

Amandemen itu tidak terkait Ahok dan Jokowi, tapi sudah terjadi pada November 2001, dengan Ketua MPR Amien Rais. Lagi pula kenapa hanya keturunan China yang disebut oleh Sang Narator, bukankah semua keturunan baik Arab, India, Pakistan, Eropa dan lain-lainnya asal menjadi warga negara Indonesia sejak lahir maka berhak dicalonkan sebagai Presiden Republik Indonesia.

Selanjutnya Narator melemparkan isu 200 juta tenaga kerja asing asal Tiongkok akan ke Indonesia! Artinya hampir sebanding dengan total penduduk Indonesia! Bagaimana prosesnya? Ini 200 juta orang, bayangkan dari penduduk Sabang sampai Merauke!

Ternyata isu 10 juta tenaga kerja Tiongkok dianggap kurang meyakinkan, heboh dan gila, maka ditambah angkanya menjadi 200 juta orang! Angka 10 juta tenaga kerja Tiongkok masuk ke Indonesia yang ramai-ramai dibantah dan tidak masuk akal, malah ditambah angkanya menjadi 200 juta.

Kemudian Narator memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan kenyataan lapangan:

"Kemudian apartemen rusunami dan rusunawa diisi oleh orang-orang Tionghoa. Tinggallah orang pribumi jadi babu, satpam, OB, dan supir."

Kenyataannya Rusunami dan Rusunawa ditempati oleh warga non Tionghoa, sangat jarang menemukan warga-warga keturunan Tionghoa tinggal di Rusunawa. Sementara pekerjaan tidak bisa didiskriminasi dan disebut dengan istilah-istilah yang merendahkan, seperti babu untuk Asisten Rumah Tangga. Semua pekerjaan asal sesuai dengan Upah Minuman Regional (UMR), dijamin hak-hak pekerja, dilindungi dan diberi tunjangan kesehatan dan lain-lainnya, maka tidak menjadi persoalan.

Petugas Penanganan Pra Sarana dan Sarana Umum (PPSU) yang dikenal dengan Pasukan Oranye--atau dulu sering diejek tukang sapu dan tukang sampah--kini bergaji Rp. 3.1 juta perbulan dengan BPJS dan Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat.

Bahkan supir bus Transjakarta pun bisa bergaji Rp. 9.3 juta. Saya kira tak perlu meremehkan level-level pekerjaan yang penting bagaimana hak-hak pekerja dan kesejahteraannya dijamin penuh.

Video "Dragon TV" tampaknya menyasar dua pihak: Jokowi dan Ahok, bagaimana fitnah-fitnah dibangun dan disebarkan untuk menyerang mereka. Sangat jelas juga, haters (kaum pembenci) menyerang Jokowi dengan sasaran antaranya adalah Ahok, dengan menggunakan atribut SARA (suku, agama, ras) yang terkait dengan Ahok. Misalnya dalam video "Ahok Didukung Partai Komunis China dalam Pilkada DKI" dengan narasi yang penuh kebohongan dan bertentangan dengan akal sehat.

Fitnah lain adalah upaya Kristenisasi yang akan dilakukan Ahok sebagai Gubernur DKI. Dengan dalih ini pula Fron Pembela Islam (FPI) menolak Ahok hanya karena beragama Kristen. Penolakan terhadap Ahok juga gencar dengan melakukan politisasi masjid, seperti yang selama ini dilakukan oleh Muhammad al-Khathath, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) dan Inisiator Gubernur Muslim Jakarta (GMJ). Pria yang bernama asli Gatot Saptono ini konsisten dan gencar menyerang Ahok dengan isu-isu SARA bersama FPI. Kini, Muhammad al-Khathath alias Gatot ini tampak dalam pasangan Anies-Sandiaga.

Demikian pula dengan Jonru yang terbukti sering melayangkan fitnah dan kabar bohong soal Jokowi dan Ahok (yang akhirnya tetap terbongkar) kini, Jonru memantapkan pilihan kepada pasangan Anies dan Sandiaga.

Padahal selama ini sudah terbukti Ahok baik sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur DKI berbuat untuk semua warga DKI tanpa terkait isu SARA nya. Bahkan, Ahok bisa dibilang berjasa bagi umat Islam di DKI. Dengan bukti-bukti berikut:

Jasa Gubernur Basuki Tjahaja Purnama terhadap kaum Muslim di Jakarta:

1. Mulai tahun 2016, KJP juga diberikan ke pelajar-pelajar Madrasah (dari Ibtida'iyah sampai Aliyah)--total budget KJP 2016: Rp2.5 T

2. Umrohkan Penjaga Masjid/Musola (marbot) dan Makam (kuncen), tahun 2014: 30 orang, tahun 2015: 40 orang

3. Bangun Masjid Fatahillah di Balai Kota Jakarta Rp. 18.8 M setelah 40 tahun Balai Kota tidak memiliki masjid.

4. Bangun Majid Raya Jakarya Rp. 170 M, karena Jakarta tidak memiliki masjid raya provinsi, karena Masjid Istiqlal adalah masjid nasional.

5. DKI Jakarta juara ke-2 MTQ Nasional XXVI tahun 2016 di NTB.

6. Bangun masjid-masjid di setiap rusun-rusun yang dibangun, misal Masjid al-Hijrah untuk Rusun Marunda.

7. Memajukan jam pulang PNS selama bulan Ramadhan 2017, pkl 14.00 agar bisa buka puasa bersama keluarga. Menjelang lebarang harga-harga sembako naik, ada diskon untuk pemegang KJP, misal: daging dari harga Rp.120.000/kg di pasaran jadi Rp.39.000/kg dengan KJP.

8. Rutin memberikan infaq, shadaqah dan qurban setiap tahun dari dana pribadi.

9. Memberikan gaji bulanan pada para juara MTQ Nasional sesuai UMR di Jakarta selama 2 tahun.

10. Mengangkat Sekda (Sekretaris Daerah) H. Saefullah yang latar belakangnya orang NU dan kemudian jadi Ketua PWNU DKI Jakarta, Ahok tetap ngotot memilih Saefullah meskipun pada Pilkada 2012, Saefullah sangat pro Foke.

Menghadapi fitnah-fitnah lawannya, tampaknya Ahok tak peduli dan tidak mau meladeni, ia malah makin semangat membuktikan kerja-kerja yang nyata bagi warga DKI Jakarta.

Bagaimanapun fitnah-fitnah yang disebar itu bertentangan dengan kenyataan-kenyataan di lapangan, bertentangan dengan akal sehat, hanya orang yang lemah otaknya dan doyan kekonyolan yang percaya sekaligus menyebarkannya.