Sayup-sayup suara orang menyanyi terdengar dari dapur. Tidak begitu merdu, namun tampak rasa kesedihan menyatu dalam nada dan baitnya. 

Ternyata suami menyanyikan lagu Titip Rindu buat Ayah. Sebuah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan sendiri oleh Ebiet G. Ade. Lagu yang rilis tahun 1999 itu mampu menghipnotis pendengarnya untuk sama-sama merayakan rasa rindu buat ayah.

Ebiet mengalirkan cerita tentang sosok ayah yang tetap kuat menahan beban hidup yang dipikul meskipun usia makin renta seperti pada penggalan lagu pada bait pertama:

"Benturan dan hempasan terpahat di keningmu. Kau tampak tua dan lelah, keringat mengucur deras, namun engkau tetap tabah. Meski napasmu kadang tersengal memikul beban yang makin sarat. Kau tetap bertahan."

Memang dunia ayah adalah dunia keras, di mana mereka harus menanggung kebutuhan hidup, termasuk di dalamnya keamanan anggota keluarganya. Mereka jarang mengeluh tentang beratnya beban yang dipikul, lebih memilih diam dan terus berpikir mencari jalan keluar dari segala kebuntuan.

Meski waktu telah mencuri kekuatan fisiknya, namun kesetiaan terhadap tugas yang beliau emban tak akan pernah surut. Ayah sudah mengenyam asam garam kehidupan, hitam dan merah jalan yang telah dilalui. Hingga kita menyaksikannya tak seperti dulu waktu kita masih ditimang dan digendong dengan gagahnya. 

Makin hari kita saksikan kulitnya berubah keriput, badan yang makin lemah, langkah menjadi gemetar digusur usia. Namun kita tak pernah kehilangan jiwanya yang dulu. Ayah tetaplah ayah yang sama dalam balutan tubuh yang makin renta.

"Ayah... dalam hening sepi kurindu. Untuk menuai padi milik kita. Tapi kerinduan hanya tinggal kerinduan. Anakmu sekarang banyak menanggung beban."

Bait terakhir adalah syair rindu yang begitu pilu. Ketika seorang anak begitu merindukan ayahnya, namun keadaannya sendiri juga banyak menanggung beban. Penulis lagu merindukan masa-masa bersama ayah sewaktu dulu. Sebelum dia sendiri mempunyai beban yang harus dia tunaikan.

Ayah telah mengajari banyak hal, membuatkan berbagai mainan untuk kita, mengajak naik sepeda keliling kampung, menemani belajar, menjawab semua pertanyaan kita meskipun dengan keterbatasan pengetahuannya, dengan bahagia mencukupi kebutuhan kita dan sejuta kenangan manis yang saat ini hanya bisa kita rindukan. 

Ayah sering kali memberikan teladan tanpa kata. Lelahnya dia buang sendiri. Beratnya beban dia telan tanpa sepengetahuan kami, anak-anaknya. Kata-katanya dia panjatkan dalam doa. 

Beruntung jika ayah masih hidup saat kita dewasa. Kita masih bisa bertukar cerita kehidupan meskipun tidak selalu di sampingnya. Kerinduan ini masih bisa kita rayakan dan kita bisa mempersembahkan bakti kita walau dengan cara sederhana.

Banyak dari kita yang tak sempat lagi bersua kecuali melalui doa. Kenangan-kenangan indah bersama ayah akan terasa sangat menyedihkan. Tak ada lagi tempat bertanya "kenapa hidup sering begitu payah?". Tak ada lagi tempat mengadu "Dunia mengecewakanku. Ya. Aku butuh bantuanmu." Atau tidak bisa lagi kita kirimkan hadiah kecil sewaktu lebaran tiba. 

Tidak pernah lagi ada kesempatan memboncengmu keliling kota seperti yang ayah lakukan sewaktu dulu. Anak-anakmu tak pernah menjadi dewasa di depanmu. Anak-anakmu hanya berubah cara menanggapi nasihatmu dengan lebih bijak. 

Darimu kami mengumpulkan pundi-pundi untuk terbang. Dari ayahlah kita belajar memaknai hidup dan bertahan di tengah guncangannya.

Meskipun tak semua ayah meninggalkan kenangan indah. Ada juga anak yang tak pernah melihat ayahnya sedari dulu. Entah karena kisah buruk atau kisah baik. Ada anak yang menyaksikan ayahnya tidak bertanggung jawab dengan melukai hatinya. 

Banyak juga anak yang tak pernah merasa dipeluk dimanja dengan penuh kasih. Namun kerinduan itu akan tetap tercipta bersama atau tanpa cinta. Karena dari jiwanya kita ada dalam rahim ibu kemudian terlahir di dunia.

Lagu Titip Rindu buat Ayah harusnya tak pernah lekang oleh zaman. Lagu ini akan tetap merdu di telinga setiap anak. Syair yang mengetuk hati-hati yang lama tidak pulang menemui seorang laki-laki yang selalu merindukannya. Syair lagu ini membuat pendengarnya melepas ingatan sejauh mungkin saat bersama ayah. 

Ebiet G. Ade yang terkenal menciptakan lagu bergenre balada ini menulis syair lagu Titip Rindu buat Ayah dengan manis sekaligus magis. Seolah-olah bisa membuka ruang hati yang sering terabaikan. 

Ruang rindu yang ditarik panjang hampir seluruh hidup yang berisi kisah bersama ayah. Ayah menyusup ke dalam tiap proses hidup kita melalui doa dan pelajaran yang pernah beliau sampaikan sewaktu masih bersama. 

Sayup-sayup lagu dari arah dapur diakhiri dengan diam panjang. Suami pasti menangis, menerawang jauh kenangan bersama ayahnya yang sudah tiada. Dia sering bercerita ke anak-anak kami "ayah dulu diajari ayahnya ayah membuat mainan ini." 

Atau suatu ketika dia akan bilang, "Ayahnya ayah selalu menjawab pertanyaan ayah seperti ayah senang menjawab pertanyaan kalian." Begitulah, ayah selalu ada bahkan setelah tiada.