“Inilah sedjarah pendidikan wali jang banjak dikafirkan orang karena tidak mengenalnja.” Tulis Aboe Bakar Atjeh dalam salah satu kalimat di bukunya.

Urusan kafir dan mengkafirkan sering terjadi dalam perdebatan keberislaman. Pelbagai pihak saling berebut klaim kebenaran. Rebutan bener mungkin adalah istilahnya.

Kebenaran diperebutkan bahkan harus melontarkan tuduhan kafir kepada pihak lain yang dianggap tidak benar hasil pemikiran atau pendapatnya tentang Islam. 

Meski kafir mengkafirkan dinilai sebagai tuduhan yang sangat berbahaya bagi si penuduh dan si tertuduh, apalagi itu dituduhkan antar sesama Muslim, tetapi hal itu masih terus terjadi sepanjang lini masa kehidupan peradaban Islam.

Kafir mengkafirkan ini tidak hanya terjadi dalam ruang lingkup para ulama yang berbeda pemahaman dan tafsir keislaman, tapi juga merembet ke urusan pemilihan pemimpin negara atau wilayah. Ia tak hanya jadi urusan transendental, tapi juga urusan imanen. Ia tak hanya soal agama tapi juga soal politik. 

Hal ini terjadi karena keyakinan bahwa Islam mengurusi semua aspek kehidupan manusia, maka dalam tata pemerintahan, Islam juga memiliki andil untuk turut campur mengurusnya.

Walhasil, banyak para pemuka agama yang dengan keyakinan teguh tak mungkin pernah sepakat jika dipimpin oleh orang non-Muslim (atau dituduh/disebut kafir), seperti kasus kafir mengkafirkan pada pemilihan gubernur Jakarta. 

Kafir mengkafirkan ini menjadi ujung paling kentara perpecahan umat. Apalagi jika kafir mengkafirkan dalam urusan politik, hal ini akan melibatkan banyak sekali umat.

Pertiakaian di dalam tubuh kaum Muslim tentu tidak terelakkan. Menurut Aboe Bakar Atjeh, pertikaian ini bermula sejak Nabi Muhammad wafat. Saat Nabi masih sugeng, pertentangan ini terpendam, “tetapi sesudah wafat Nabi, lahir kembali dalam bentuk Chawaridj” (Atjeh, 1966:77).

Banyak tokoh pemikir Islam lahir dan memiliki peran saling tuduh, kafir mengkafirkan. Umat yang tidak jeli atau sekedar Islam taqlid turut meramaikan kafir mengkafirkan ini.

Ketundukan umat kepada seorang ulama biasanya tak memerlukan pengkajian mendalem secara analitis apa yang diucapkan dan disampaikan oleh ulama yang diikutinya. Karena itu, taqlid, atau melu grubyuk ora reti rembug akan kian sering terjadi diantara kerumunan umat. 

Salah satu perpecahan yang disebut oleh Aboe Bakar Atjeh adalah, “dalam pada itu penduduk daerah jang dahulu dikalahkan oleh orang Islam di kala mereka tidak bersenang hati dengan radja-radja Arab, seperti Persi, berusaha mengadakan gerakan dibawah tanah atau gerakan bathin, untuk menggulingkan radja-radja keturunan asing itu. Lalu masuklah hasrat ini kedalam beberapa aliran tasawwuf jang hidup…” (Atjeh, 1966:78). Beberapa aliran tasawwuf ini ada kalanya saling tuduh kafir di antara para tokoh utamanya.

Salah satu tokoh tasawwuf masyhur yang sering mendapat tuduhan kafir adalah Ibn Arabi. Buku karangan Aboe Bakar Atjeh dengan judul Ibn Arabi: Tokoh Tasawuf dan Filsafat Agama seakan mencoba meluruskan tuduhan ini. Buku dengan jumlah halaman tak sampai seratus ini, berisi biografi singkat Ibn Arabi, karya-karyanya juga beberapa pokok pemikirannya. 

Atjeh menulis bahwa nama Ibn Arabi aslinya adalah “Muhjiddin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah al-Hatimi, lahir di Murcia di Spanjol atau Andalus. Sebagaimana kita katakan, di Barat ia terkenal dengan nama Ibn Al-'Arabi, suatu nama jang keliru, dan di Andalus ia disebut Ibn Suraqah, sedang di Timur, jaitu di daerah Abbasijah, ia disebut Ibn Arabi.”

Buku dengan sampul berwarna abu-abu, diterbitkan oleh Penerbit Tintamas Djakarta ini, saya baca tanpa mampu mendengar gesekan dan baunya kertas karena berbentuk digital.

Buku dalam bentuk digital ini berstempel BIBLIOTHEEK KITLV dengan nomor 0058 3045. Buku berbahasa Indonesia yang dikoleksi oleh perpustakaan Londo. Saya yakin buku ini masih bisa dijumpai di pasaran buku loak. Dengan satu syarat: keberuntungan! 

Selain sebagai seorang pemikir ampuh dalam tasawuf, Ibn Arabi sebenarnya juga terkenal dengan syair-syairnya yang bagus. Aboe Bakar Atjeh menceritakan bahwa ketika Ibn Arabi berguru kepada seorang ulama di Hijaz, Mekkah, Ibn Arabi melihat putri sang ulama.

Putri ulama itu begitu cantik dan rupawannya, hingga membuat Ibn Arabi terlena. Kekaguman putri ulama yang cuantik itu pun membuat Ibn Arabi menghasilkan berlembar-lembar syair galau. Aboe Bakar Atjeh mengutip beberapa baris syair galau itu:

Demikian rupa, hatiku terpikat olehnja,
pikiran dan djiwaku seakan-akan terbelenggu,
sehingga tiap nama jang kusebut,
namanjalah jang kukehendaki,
tiap kampung jang kutudju, kampungnjalah djuga seakan-akan jang kumasuki

Babagan kehidupan, riwayat pendidikan dan karya-karya Ibn Arabi dikisahkan oleh Aboe Bakar Atjeh dengan ringkas. Salah satu pokok ajaran Ibn Arabi, yakni Wihdatul Wujud, juga dijelaskan secara sederhana. Kita simak satu paragraf ikhtiar Aboe Bakar Atjeh menjelaskan kalimat filsafat rumit dari Ibn Arabi: 

Kalimat jang bersifat filsafat dari Ibn Arabi ini tidak mudah diartikan dengan pengertian biasa. Boleh diartikan kalimat itu dengan : Segala sesuatu itu, melihat kepada isinja dan keadaannja, disebut Tuhan, tetapi melihat kepada nama Allah jang chas, bukan Tuhan, hanja suatu kenjataan zatnja, bukan pula seluruhnja. Tentu boleh pula diartikan dengan arti kata-kata biasa, bahwa segala sesuatu itu adalah Allah djua atau dengan kata-kata kiasan, bahwa segala sesuatu itu berasal dari Allah, semuanja akan binasa ketjuali wadjah Allah itu sendiri (Quran).

Penjelasan “sederhana” Aboe Bakar Atjeh itu diteruskan dengan penjabaran bagaimana para penganut Wihdatul Wujud tidak menganggap penuh tauhid ucapan yang tersimpul dalam “la ila ha ilallah”. Sebab, dalam kalimat tauhid itu masih ada perbandingan Allah dengan Tuhan lain.

“Mereka lebih djazab menjebut ''lajsa illallah", jang berarti "tidak ada melainkan Allah", atau "bukan dia melainkan Dia."

Hingga kini, kisah perdebatan pemikiran Ibn Arabi masih terjadi dan tetap dianggap sebagai sebuah pembahasan berat jika menyinggung pemikiran-pemikiran Ibn Arabi.

Keampuhan Ibn Arabi ini terus terjaga hingga kini, dikagumi oleh para simpatisan pemikiran tasawwuf ndakik-ndakik dan para peminat ilmu kalam amatiran. Buku Aboe Bakar Atjeh ini turut memberi pencerahan dan meramaikan buku-buku biografi para pemikir Islam yang sepi.

Banyak para ahli tasawuf memposisikan karya-karya Ibn Arabi sebagai karya tingkat “langit”, sehingga para pembelajar yang ingin mempelajari Ibn Arabi, diharapkan telah memiliki bekal keilmuan yang cukup dari pelbagai bidang keilmuan lain.

Gambaran tentang Ibn Arabi ini, Aboe Bakar Atjeh juga mengutip pendapat dari orang ampuh lain, yakni Suhrawardi. Begini kutipannya: 

Orang pernah bertanja kepada seorang ahli hakikat Suhrawardi, apakah katanja tentang Ibn Arabi. la mendjawab, bahwa ia tidak dapat berbitjara tentang orang besar ini, ketjuali menjimpulkan segala kehormatan kedalam satu nama: "Lautan Hakikat".