Peneliti
2 bulan lalu · 38 view · 6 menit baca · Budaya 79300_34363.jpg
Twitter

Lautan Cinta Laut

“Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu?” 

Apa jadinya diriku yang berasal dari pesisir, tinggal di dekat laut, lalu berpindah ke daratan atau pegunungan yang dingin? Pastinya aku kaget dengan situasi dan kondisi seperti ini.

Tapi aku kemudian berusaha beradaptasi walau awalnya aku mengutuk dingin ini, diam ini, sunyi ini, sepi ini, dan hijau ini. Ya, daratan yang dingin, daratan yang diam, daratan yang sunyi, daratan yang sepi, daratan yang hijau ini.

Lautku itu panas, lautku itu hangat, lautku itu berbunyi, dan lautku itu biru. Lautku memang paling indah sejak aku di sini, Pare, Kediri, Jawa Timur. Walau, aku menemukan keindahan yang lain; keindahan wajahmu, auramu, suaramu, sosokmu, dan, ah, caramu mengajarku. 

Namun aku rindu dengan lautku. Lautku tempat aku dan keluargaku berasal. Lautku; aktivitas harianku, makanan pokokku, teman-temanku, ruang diskusiku, tempat mandiku: tempat buang sialku, larungku. Lautku obatku, pembuka auraku, spiritku, zona nyamanku. Zona nyaman menjadi orang pesisir laut. 

Aku selalu mengingat lautku, kehangatan panasnya, ombaknya yang berlarian dan bergulung-gulung. Pasir putih yang berkilau, kayu terapung di pantai, perahu dan kapal yang terlihat dari jauh. Bau ikan yang khas. Ikannya segar yang fresh from the sea

Sedangkan kamu? Siapa? 

Laut adalah aku, identitasku, kehidupanku. Kehidupan sukuku, suku Mandar, Sulawesi Barat. Kami adalah nelayan, atau dalam bahasa lokal kami “posasi.” Kami berlayar mencari ikan di kepulauan Nusantara. 

Kami juga pelaut yang menyeberangi setiap negeri untuk mencari sesuatu yang berharga, yaitu barang juga ilmu pengetahuan. Seperti cerita leluhur kami yang menggunakan perahu lokal sandeq untuk belajar ke negeri seberang dengan menggunakan kekuatan jaringan. Jaringan laut untuk mendapatkan teman dan guru. 

Laut adalah cerita rakyat suku kami. Bagaimana kosmologi asli kami menggambarkan pentingnya ikan dan laut dalam kehidupan kami. Seperti yang ditulis Zuhriah (2013):

Once upon the time, a husband (fisherman) went out to sail across the sea to looking for fish. When he was out at sea, he noticed that his wife and children during do not eat fish in the roof (Mandar’s house has a place near in the roof to put away things or food). 


Day after day, the children asked to eat the fish that the fisherman has seved in the roof, because their fish has ran out. And the mother (wife of fisherman) took the fish and gave it to her children. 

When her husband came, he became angry and directly took a big knife (kowi kayyang’, parang’) to split his wife into two parts (vertical). He threw one half of the body into the sky and the other in the sea. People there believe that what he threw into the sky become Sky Queen and the last in the sea become fish, Princes Mermaid. 

Cerita ini menggambarkan bahwa laki-laki atau ayah berprofesi sebagai nelayan, sedangkan Ibu berperan di rumah untuk merawat, mendidik, dan menjaga anak-anaknya. Mereka hidup di daerah laut dan makan ikan untuk lauk sehari-hari. 

Ayah yang saat itu marah membelah istrinya menjadi dua bagian, yang pertama menjadi Ratu Langit (karena bagian ini dilempar ke langit) dan yang satu lagi menjadi ikan atau lebih tepatnya Putri Duyung (karena bagian tubuh ini dilempar ke laut). 

Kehidupan orang Mandar tergambar dengan laut dan isinya adalah bagian yang tak terpisahkan. 

Laut juga adalah “kuliwa” kami. Kuliwa adalah ritual tola’bala untuk menghalau bahaya yang akan terjadi, khususnya di laut. Persiapan ini biasanya dilakukan oleh istri nelayan sebelum suami mereka berangkat melakukan perjalanan ke laut. Mereka mempersiapkan makanan seperti pisang, beras ketan, telur, dan lain sebagainya. 

Ritual ini biasanya dilakukan oleh orang yang dianggap mampu, misalnya Imam, dukun, atau pemilik kapal itu sendiri asalkan bacaannya diketahui. Bacaannya atau doanya merupakan bagian dari doa dari Alquran sehingga ritual ini merupakan bagian dari agama dan budaya Mandar. 

Laut merupakan “pimali,” pamali kami, ora ilok dalam bahasa Jawa yang artinya sesuatu yang dilarang. 

Bagamana tidak? Banyak sekali pimali yang berhubugan dengan laut. Contohnya, “Da leba kambang baro ma lao disasi’a.” Maksudnya, jangan berkata sembarang ketika berada di laut karena laut banyak penunggunya. 

Lalu, ketika ada anggota keluarga yang melaut, orang yang di rumah tidak boleh melakukan hal-hal yang dilarang atau pimali. Misalnya: jangan membuka alat penjepit makanan yang terbuat dari kayu. 


Kami, orang Mandar, mempunyai alat penjepit makanan yang bentuknya seperti mulut buaya. Dilarang dibuka untuk dimain-mainkan dengan ditaruh ke leher karena dikhawatirkan nanti ketika ada yang melaut akan bertemu buaya. Semua pimali adalah kekayaan leluhur orang Mandar yang telah dilalui oleh mereka sebelumnya. 

Laut adalah Tomanurung kami. Tomanurung merupakan Raja atau Ratu pertama di Sulawesi. Ada juga yang mengistilahkannya sebagai manusia pertama yang dipercaya sebagai penjelmaan dewata di muka bumi dalam konsepsi budaya dan dapat berarti sebagai wakil Tuhan di muka bumi dalam konsep Islam. 

To Manurung sebagai raja pertama di Gowa (Sulawesi Selatan) dan manusia pertama di Mandar (Sulawesi Barat) dipercayai sebagai penjelmaan dewata di muka bumi (budaya) yang dapat berarti sebagai wakil Tuhan di muka bumi (Islam). 

Pendapat lain tentang To Manurung mengatakan bahwa To Manurung adalah orang yang bercahaya (mempunyai Nur), orang yang turun dari langit, orang yang turun dari gunung, orang yang turun dari perahu yang menciptakan perubahan di tempat yang disinggahinya atau tempat turunnya. Sehingga, dia (To Manurung) dapat dikatakan sebagai sang visioner dalam suatu masyarakat atau daerah. 

Kemudian, ada ikan tuing-tuing di laut kami yang kami sebut ikan Indosiar. Ikan ini merupakan ikan yang dianggap “manurung”, berasal dari kayangan atau langit karena ada di musim tertentu dan telurnya sangat enak. Laut juga memberikan penjaga di tanah kami, di laut kami, Mandar. 

Jika di Jogja dipercaya ada Nyi Roro Kidul sebagai penjaga laut, maka kami punya Imam Lapeo. Imam Lapeo adalah annangguru laut. Ada semacam kesepahaman masyarakat Mandar dalam memberi pemaknaan pada wali dengan melekatkan istilah “Annangguru”, gelar khusus bagi tokoh spiritual. 

Di masa hidupnya Imam Lapeo, banyak orang yang berkunjung dan meminta didoakan oleh beliau. Diceritakan juga, beliau mempunyai banyak cerita karamah yang berhubungan dengan laut. Salah satunya, menolong nelayan yang mau tenggelam padahal pada saat itu beliau sedang melakukan khotbah Jumat di masjid. 

Namun, terlihat gerakan tanggannya mengambil orang dan lengan bajunya basah. Kemudian banyak doa yang berasal dari beliau untuk para nelayan Mandar.

Begitu banyak cinta laut kepadaku, kepada kami orang atau suku Mandar seperti di atas, tentang kehidupan nelayan mencari ikan di laut, kehidupan pelaut yang mencari barang dan ilmu pengetahuan melalui jaringan laut, cerita rakyat kami yang menggambarkan kosmologi kehidupan laut, kuliwa atau tola’ bala sebelum ke laut. 

Pimali atau ora ilok kami yang berhubungan dengan laut. Tempat datangnya tomanurung kami, ikan Indosiar kami, lalu leluhur penjaga kami yang juga menjaga kami dari laut. 


Laut adalah my body and soul/kami. Laut adalah jiwa dan raga aku/kami. Laut adalah nafas kehidupan aku/kami. Laut adalah spirit dan pegangan aku/kami. Laut adalah hidup dan mati aku/kami. Aku/kami adalah Mandar. Aku/kami beridentitas orang suku laut. Aku/kami Mandar, aku/kami laut. 

Semuanya menjadi ukuran bahwa “dalamnya cinta laut dapat diukur, namun dalamnya hati atau cinta seseorang tidak dapat diukur.” 

Ya, aku tak bisa mengukur hatimu apalagi cintamu. Dan yang aku tahu, kamu terlalu dingin, diam. Kamu gunung yang kokoh, kuat, dan keras. Tak maukah kamu menjadi lautku? Yang penuh dengan lautan cinta? 

Zuhriah, EG Periode 25 Januari 2018. Laily kost, 17/02/18. *Kritik Laut pada Gunung, Gadis Laut yang Mencintai Laki-Laki Gunung. 

Referensi:

  • Zuhriah, 2013, Jejak Wali Nusantara, Kisah Kewalian Imam Lapeo di Masyarakat Mandar. Yogyakarta, Pustaka Ilmu. 
  • Zuhriah, 2013, Pimali Kabe. Artikel, (Tidak dipublikasikan). 
  • Zuhriah, 2016, Kuliwa: A cultural Identity of the Local People of Mandar, West Sulawesi. Jurnal Dinika, IAIN Surakarta, 
  • Zuhriah, 2018, I Cicci, I Kaco, Anna I Kanne Pakande Ate. Kebumen, Intishar Publishing.

Artikel Terkait