Penulis
7 bulan lalu · 60 view · 3 min baca menit baca · Wisata 23907_48684.jpg
Dok. Pribadi

Laut Belitung, Kami Menyebutnya Taman Bumi

How inappropriate to call this planet Earth when it is quite clearly Ocean. ~ Arthur C. Clarke - British Writer

Sore. Dari lantai lima sebuah hotel di Tanjung Pendam. Angin membelai awan abu-abu emas. Matahari berat menepati janji, pulang lunglai tak bergegas. Saya turun menapaki jejak mendekati bibir pantai yang surut. Mengikuti bocah-bocah yang berlarian membawa ember kecil. Kaki berjinjit saat menginjak lembut pasir basah cokelat, sisa cumbuan laut.

Setiap senja, laut Tanjung Pendam susut. Saat itulah warga; ibu dan anak-anak riuh berburu kijing. Hewan laut sejenis kerang berbentuk panjang kecil. Mereka memancing kijing menggunakan lidi yang dilumuri kapur sirih. Warga telah paham mana lubang kijing atau bukan. Seorang anak memasukan sepotong lidi pada lubang. Beberapa detik, mukanya langsung sumringah, kijing langsung naik ke permukaan.

Saat matahari benar-benar menarik diri. Beberapa titik Belitung begitu sunyi, meski begitu di depan penginapan kami, warung-warung, cafe dan bar mulai riuh. Belitung tengah berubah. Beberapa hotel berbintang tumbuh. Di jalan turis asing lalu-lalang.

Belitung dan kopi. Ke Belitung tanpa menyesap kopi, janggal. Setelah beberapa lama tafakur di tepi pantai saya habiskan malam di kedai Kopi Ake. Hingga larut. Saat pulang menyusuri jalan depan Museum Tanjung Pandan di mana nama John Francis Loudon tertera. Siapakah dia?


Yang jelas bukan bagian dari anak muda yang berpapasan dan mulutnya berbau alkohol. Mereka berniat bercanda dengan orang yang tak dikenalnya. Anak muda yang pulang dari tempat hiburan - pub dan karaoke - yang sudah punya reputasi di kota ini.

Esoknya. Senyum matahari markah hari baru dimulai. Sepanjang jalan Desa Terong hingga Bukit Berahu yang riuh hanya lengang. Di ujung rumput embun malas bergelayut. Saya mendaki hingga tiba di atas Bukit Berahu. Di sebuah bangku kayu sepasang muda-mudi, wisatawan Eropa, duduk menghadap cangkir kopi mengepul. Dari teras itu laut biru terpampang indahnya. Percayalah, ini tempat paling tepat berbulan madu. Dan menyesakkan bagi yang tak laku-laku.

Ekonomi timah yang dirintis John Francis Loudon, pendiri Billiton Maatschappij era 1800-an yang namanya tertera di Museum Tanjungpandan itu, sejak dua puluh tahun lalu kontribusinya kian melorot. Dan akan menjadi masa lalu di Belitung. Kini, di sini pariwisata tengah menggeliat. Tak ayal kulong atau kolam sisa aktivitas penambangan timah pun diubah menjadi destinasi wisata. Danau Kaolin misalnya.

Bukan tak mungkin, dengan keasrian alamnya dan jarak yang selemparan batu dari Malaysia dan Singapura, Belitung pun dapat mengembangkan wisata kesehatan (wellness tourism) dengan lebih kompetitif. The main point of wellness tourism is to balance mind, body, and spiritual. Bisa dengan menggandeng komunitas seperti yang dilakukan destinasi Pasar Rimba di Kacang Butor.

Di tepi Laut Natuna, batu-batu granit yang kokoh ibarat penyihir yang berdiri sejak ratusan tahun. Tua dan pongah. Ini bagian kawasan yang digadang-gadang sebagai Taman Bumi Belitung. Destinasi wisata dengan karakterisasi alam geografis yang ada. Di tengah ketamakan kita mengubah bumi jadi lautan api atau lautan dihabisi dengan diledakkan kehidupan bawahnya, upaya menjadikan ekosistem ini sebagai taman bisa sebagai cara mengundang kembali sahabat yang kecewa dan dendam.

Tak seperti Santiago, lelaki tua dalam The Old Man and the Sea yang tetap memperlihatkan keanggunan kendati dalam tekanan (stoic), bumi dan laut akan menukar luka dengan petaka yang lebih dahsyat. Bencana. Ingatlah pada nasihat sang Mother Nature, Julia Robert : I don’t really need people, but people need me.

Taman bumi atau geopark tidak semata mengandalkan unsur geologi, termasuk di dalamnya adalah arkeologi, estetika, dan nilai budaya masyarakat sekitarnya. Begitu ujar Adhi, teman yang juga pegawai di pemerintahan Belitung. Ada tradisi masyarakat Belitung yang dapat dihidupkan kembali dan menjadi atraksi, nirok. 


Tradisi nirok adalah aktivitas menombak ikan yang dilakukan secara berkelompok. Makna besar dari nirok adalah rasa kekeluargaan, kekompakan, selain tentu kelestarian lingkungan.

Selain Belitung yang tengah giat mengembangkan Taman Bumi, Indonesia memiliki beberapa geopark yang sudah diakui organisasi Global Geopark Network (GGN). Sebut saja Taman Bumi Ciletuh di Sukabumi, Jawa Barat, Pegunungan Sewu yang membentang dari Gunung Kidul (DIY) ke Wonogiri, Jawa Tengah hingga Tulungagung di Jawa Timur, juga  Kawasan Taman Bumi Gunung Batur di Bali, dan Gunung Rinjani di Lombok.

Beberapa tempat lain segera ditasbihkan; Kawasan Kaldera Toba, Merangin, Bojonegoro, Tambora, Maros Pangkep di mana terdapat kawasan serupa Vietnam, yaitu Rammang-Rammang, dan Raja Ampat di Papua Barat.

Ada atau tidak taman bumi, sudah seharusnya kita tetap berendah hati pada planet ini. Dr. Ian Malcolm benar adanya: This planet lives and breathes on a much vaster scale. We can't imagine its slow and powerful rhythms, and we haven't got the humility to try. We have been residents here for the blink of an eye. If we are gone tomorrow, the earth will not miss us.

Artikel Terkait