Saya mengakui, saya adalah salah seorang yang menyukai tanaman bonsai. Meski rasa cinta itu belum sempat saya buktikan dengan mengoleksinya.

Saya selalu berkeinginan untuk memiliki bonsai sendiri, pada suatu saat nanti. Sebab menurut saya, segala jenis pohon yang telah dibonsai itu menjadi sangat unik dan artistik. Dalam imajinasi saya, ia seakan melambangkan keindahan pada setiap ragam tumbuhan dalam bentuk miniaturnya.

Saya menganggap bonsai ini merupakan koleksi tanaman yang sangat pas bagi siapa saja yang tidak memiliki pekarangan yang cukup luas. Dengan memiliki satu atau dua tanaman bonsai saja, saya kira itu sudah cukup untuk menghadirkan suasana kesegaran dan keindahan pada rumah mereka.

Harga bonsai yang menurut ukuran saya terlalu mahal adalah di antara alasan yang menyebabkan saya enggan untuk membeli bonsai yang sudah jadi. Rerata harga bonsai itu dibanderol mulai dari Rp300 ribu hingga jutaan rupiah. Bahkan, jika ia telah berkali-kali memenangkan kontes tingkat internasional, harganya bisa mencapai miliaran rupiah. Sungguh angka yang fantastis.

Selain harga bonsai yang terlampau mahal untuk ukuran kantong saya itu, ada masalah lain bagi saya pada saat hendak mengoleksinya, yakni lahan pekarangan rumah saya yang sudah sangat sesak oleh tanaman bunga dan buah lainnya, yang telah saya koleksi sebelumnya.

Dengan adanya keterbatasan itu, maka rasa-rasanya saya hanya akan bisa menjadi pemuja rahasia bagi tanaman bonsai itu. Meskipun demikian, saya pun tetap mencintainya dan bercita-cita untuk memilikinya suatu saat kelak.

Entah kenapa, pada hari kemarin (7/7/2020), saya memiliki pemikiran yang tidak tahu dari mana sumbernya dan siapa yang membisikinya. Secara tiba-tiba, tebersit keinginan saya untuk membuat bonsai sendiri dari beberapa tanaman bunga dan pohon-pohon liar yang hidup di pekarangan saya. Dan pada hari itu, saya pun memulai mewujudkan keinginan saya untuk membonsai itu.

Di pagi itu, dengan ditemani oleh hangatnya sinar mentari yang seakan merestui ide dan segala aktivitas saya, saya memotongi bunga-bunga rombusa yang berada di pekarangan belakang rumah. Saya memotongi mereka hingga pada ukuran yang kecil. Saya mempraktikkan teknik membonsai dengan berbekal pelajaran yang saya dapat dari salah satu kanal di YouTube.

Sebelumnya, ada beberapa alasan lain yang membulatkan tekad saya untuk membonsai bunga-bunga rombusa ini, yakni, karena ukuran-ukuran bunga yang menurut saya sudah terlalu besar sehingga mereka tampak kurang serasi dengan lokasi pekarangan rumah saya yang sempit.

Kemudian, saya hanya akan mempraktikkan teknik membonsai yang paling dasar, yakni hanya memotong ranting-ranting percabangan bunga pada ukuran tertentu dan tidak sampai pada mengotak-atik kondisi akarnya yang sudah tertancap kuat di dalam tanah. Sehingga dengan teknik membonsai yang paling dasar ini, kemungkinan besar tidak akan sampai membuat tanaman menjadi menjadi stres.

Dan yang terpenting lagi, sebelumnya saya sudah mempraktikkan teknik ini pada beberapa bunga lainnya. Dan nyatanya mereka saat ini (alhamdulillah dengan kehendak Tuhan) dapat tumbuh dengan subur dan asri. Saya kira dengan berbekal tiga hal ini sudah cukup bagi saya untuk membonsai bunga-bunga rombusa saya.

Mungkin saja, para hobbyist tanaman hias khususnya bonsai akan banyak yang mencibir teknik membonsai saya yang aneh ini. Lantaran saya tidak menempatkan pohon yang dibonsai pada pot yang berukuran ceper itu. Namun saya hanya membiarkan saja mereka tumbuh dan berkembang pada permukaan tanah.

Silakan saja, semuanya mencibir teknik saya yang nyentrik ini. Yang jelas, saya tetap akan mempraktikkan teknik membonsai saya ini dengan beberapa konsep bangunan bonsai yang telah saya buat.

Konsep saya yang pertama adalah saya ingin membiarkan bunga-bunga ini dapat tumbuh secara liar, bebas, dan merdeka pada habitat aslinya, yakni tanah yang cukup lapang dibandingkan berada di tempat artifisialnya yang berada dalam pot ceper itu.

Kedua, saya ingin membagi lahan dan nutrisi tanaman ini secara adil dan seimbang, sehingga tidak ada satupun tanaman yang berusaha merebut wilayah dan nutrisi tanaman yang lainnya.

Dengan menata tanaman pada tanah dengan jarak yang sama, maka setidaknya mereka akan dapat saling berbagi nutrisi yang terkandung di dalam tanah sekaligus berbagi kehangatan, saat sinar sang surya datang menghampiri mereka. Saya menamai teknik ini dengan konsep "Keadilan sosial bagi seluruh tanaman".

Konsep ketiga saya adalah efisiensi. Dengan membentuk sendiri bunga bonsai dan merawatnya, maka keinginan besar saya untuk memiliki bonsai akan tercapai tanpa harus membelinya dengan harga yang sangat muuuwahal itu. Dengan demikian, anggaran uang saya dapat saya alokasikan untuk hal-hal penting lainnya.

Konsep saya yang keempat adalah melakukan riset dan "pengembangan" pada tanaman. Saya berikan tanda kutip pada kata pengembangan maksudnya adalah saya hanya akan mengembangkan batang dan akar tanaman saja. Sementara untuk ketinggiannya, ukurannya hanya segitu saja. Riset membonsai inilah yang akan saya uji-cobakan pada bunga rombusa dan bunga-bunga lainnya yang tumbuh di pekarangan saya.

Hal yang sebelumnya menginspirasi saya untuk praktik membonsai ini adalah sebab saya pernah mendapat penuturan dari seorang penjual bunga di daerah saya yang sempat menerangkan bahwa pada dasarnya semua tanaman itu dapat dibuat bonsai, asalkan ada kemauan dan ketelatenan dari mereka yang hendak membentuknya.

Dan saya mempercayai begitu saja penuturan dari penjual bunga itu, sebab saya telah melihat sendiri pilot project bonsai tanamannya yang sepertinya sudah mulai tampak kelihatan bagus. Dalam batin saya, saya ingin membentuk bonsai bunga, yang minimal akan sebagus bunga bonsai yang ada di toko itu.

Konsep membonsai saya yang kelima, yang mungkin juga dimiliki oleh penghobi bonsai lainnya yaitu menumbuhkan sikap telaten dan sabar dari aktivitas membonsai.

Mayoritas orang tentunya telah mengetahui bahwa baik bonsai yang dimiliki dengan cara berproses sedari awal maupun yang diperoleh melalui jalan pintas dengan cara membeli yang sudah jadi, tetap saja ia akan membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan keterampilan dalam membentuknya dan menjaga keindahannya.

Baik bonsai cantik yang diperoleh dengan cara membeli maupun yang masih ranum indah karena masih berproses dalam pembentukan, semuanya berpotensi luntur keindahannya manakala si pemilik bonsai tidak telaten dan terampil dalam merawatnya.

Dan rupanya, cara pertama lah yang saya pilih. Yakni membentuk bonsai sendiri sambil terus mengamati setiap prosesnya dari awal. Dengan cara ini, saya akan dapat mempelajari pengalaman keberhasilan dan kegagalan saya dalam membonsai ini.

Mungkin saja, di antara orang akan ada yang menganggap saya ini terlalu halu, norak dan sinting dengan mempraktikkan teknik membonsai ini. Dan lagi-lagi, saya pun tidak mempermasalahkannya. Lagi pula ini adalah hobi saya, pengalaman saya, penelitian saya, dan kecintaan saya. Dan hal yang terpenting menurut saya adalah ini merupakan cara saya untuk mendapatkan bonsai dengan cara yang paling masuk akal.

Melalui cara ini, saya pun tidak akan kehilangan rasa cinta saya pada makhluk yang imut itu. Dan bagi saya ia adalah representasi dari keseimbangan. Keseimbangan antara ukurannya yang mungil dengan tempatnya yang minimalis.

Bukankah dengan membentuk bonsai sendiri ini, berarti saya telah menyeimbangkan antara padatnya penduduk bunga yang ada di pekarangan saya dengan luas habitatnya yang terbatas itu? Jika memang demikian, bukankah ini berarti saya telah berhasil dalam mengadopsi prinsip keseimbangan dalam membonsai?

Dan pada akhirnya, saya hanya akan berharap semoga setelah mempraktikkan teknik membonsai ini, bunga-bunga rombusa itu lekas bersemi kembali dan saya pun dapat menikmati indahnya dedaunan yang tumbuh di sekujur tubuh mungilnya.