Jiwa tualangku membawa tubuh fanaku sampai di sini. Mengembara, mengembara, dan terus mengembara.

Pertanyaannya, "Kapan aku akan menetap di rumah?"

Rumah yang kuimpikan tak kunjung kutemui. Baik rumah dalam arti sebenarnya maupun konotasi.

Keduanya sama-sama fana. Lalu, untuk apa aku harus menemukan "rumah"? Apakah untuk sekadar singgah lalu bertualang lagi? Kurasa tidak sekonyol itu.

Masih ada satu teka-teki yang membuat jiwaku pusing setengah mampus. Dan, itu rasanya semakin memacu hasrat untuk memecahkan misteri di baliknya.

Kau tahu? Aku bukan seseorang yang ditolak lantas segera pergi. Aku bukan seseorang yang kesulitan lantas menyerah. Aku bukan seseorang yang gagal lantas tak ingin mencoba lagi.

Karena semua tekadku demikian, Tuhan berkali-kali menguji kesungguhanku. Apakah aku masih bisa bertekad seperti itu? Rasanya seperti jatuh, terluka parah, belum sembuh, jatuh lagi, dan terluka lagi. Ya, luka yang lama belum sembuh tapi ditambah luka baru. 

Bagaimana rasanya?

Tidak bisa diceritakan sampai seseorang itu mengalami sendiri luka yang kurasakan. Karena soal rasa juga relatif, tak hanya pandangan mata saja yang relatif.

Intinya, bagiku itu sakit luar biasa. Ini seperti "pertanyaan" dari Tuhan, "Yakin masih mau bertualang?"

Di satu sisi aku ingin berhenti sampai di sini saja, di sisi lain dia semakin bergejolak ingin melanjutkan pengembaraan. Memang, jiwaku susah kuhentikan. Aku seperti mendidik dua individu dalam diriku sendiri.

Yang satu sangat rajin, yang satu sangat pemalas. Oh Tuhan, barangkali sebentar lagi aku gila!

Sudahlah ujian datang bertubi-tubi dari langit, ditambah diriku sendiri yang memiliki "dua sifat". Sungguh, semua ini lebih kuartikan latihan kehidupan khusus untukku yang diberikan langsung oleh Pencipta.

Hadiah yang harus kusyukuri dan berhenti untuk kukutuki keadaannya. Bukankah hadiah tak selalu berupa kesenangan? Seharusnya begitu, apa saja yang diterima adalah hadiah.

Untuk menjadi orang hebat, latihannya harus hebat. Untuk menjadi orang luar biasa, ujiannya harus luar biasa. Ini fakta lho, bukan aku menyemangati diriku dengan hal-hal klise belaka.

Coba saja lihat, mereka yang akan menghadapi ujian sekolah. Soal yang diujikan semakin tinggi tingkat pendidikannya, maka semakin sulit pertanyaan yang diujikan. Ini hanya soal yang dibuat manusia, bayangkan persoalan yang dibuat oleh Pencipta?

Yasudah, jangan mentang-mentang diuji lantas kita lupa untuk membahagiakan diri sendiri. Jangan pula selalu mengutuki apa yang sudah terjadi.

Untuk diriku, ini adalah konsekuensi dari jiwa petualangmu. Petualangan bukan hanya mengunjungi tempat-tempat baru, tapi ternyata juga "mengunjungi" persoalan dalam hidup.

Dampak dari semua ini sungguh terasa. Didikan Tuhan memang benar-benar tiada tandingannya. Langsung efeknya ke mental dan kejiwaan. Nah, bisa dibayangkan bukan kenapa aku hampir gila?

Tentu saja itu bisa terjadi jika tak diimbangi dengan solusi. Banyak solusi yang bisa dicari ketika Tuhan memberikan latihan kehidupan.

Yang paling penting, pasti ada kebaikan yang akan diberikan Tuhan di balik ujian ini. Dalam bentuk apa? Ya ditunggu saja.

Solusi di tengah konflik batin adalah "mendiamkan diri". Lho, kok malah diam? Iya, jangan ikut-ikutan masalah yang sedang "ramai" menyerbu.

Hidup ini antitesis. Jika ada yang tua, maka ada yang muda. Jika ada yang besar, maka ada yang kecil. Dan, jika ada yang ramai, maka harus ada yang diam.

Dalam diam, aku mencari arti, "Kenapa Tuhan memberiku ujian seperti ini. Apa yang salah dan perlu kuperbaiki?"

Banyak yang perlu kuperbaiki. Baik dari dalam diri maupun luar diri. Ternyata, ini adalah yang terbaik untuk proses perbaikan diriku sendiri.

Aku lebih ada waktu untuk introspeksi diri. Mengoreksi apa yang sudah tidak sesuai dan perlu dibenahi. Karena kita harus fleksibel dan "mudah ditekuk-tekuk".

Satu hal yang terasa banget. Dulu, aku ingin sesuatu harus terwujud. Pokoknya, bagaimanapun caranya aku harus bisa dapat yang kumau itu. Aku terlalu egois dan ambisius.

Dan, sekarang terasa ringan. Banyak yang kuinginkan dan tetap kuusahakan, tapi aku berdoa, "Tuhan, jika memang ini untukku, perkenankanlah. Jika memang bukan, aku ikhlas. Dan, gantilah dengan yang lebih baik." Sesederhana itu.

Aku kehilangan semua yang pernah kuperjuangkan dalam hidup. Bukan satu atau dua hal, tapi semuanya. Semoga aku benar-benar ikhlas dan diganti dengan yang terbaik serta memang ditakdirkan untukku.

Dulu, aku keras hati. Sekarang, jadi baperan parah. Sedikit-sedikit menangis. Oh, bukan cengeng ya. Aku hanya gampang terharu saja.

Ternyata ringan dan indah sekali hidup ini jika penuh kepasrahan terhadap Pencipta. Bukan berarti berhenti berusaha, tapi dikurangi saja ego negatifnya.

Aku sudah menemukan "rumah". Ketika berdoa kepada-Nya, aku merasa damai sedamai-damainya. Aku sudah merasa pulang ke rumah impian.

Tuhan ingin aku belajar banyak dari kehidupan fana ini. Mungkin saja, aku akan (suatu saat nanti) dititipkan amanah besar sehingga harus diuji dulu dengan ujian bertubi-tubi dan luar biasa.

Yang pasti, Tuhan ingin mengubah hal-hal negatif dalam diriku. Dia ingin aku menjadi versi terbaik dari diriku sendiri. Yang mencintai, menghargai, dan mengasihi diri sendiri terlebih dulu.

Sekarang, gampang dan ringan hati mengucapkan, "Yasudah."