Beberapa waktu lalu, Lathi Challenge dianggap Wan Dazrin memanggil setan karena MV Lathi menampilkan tarian Jawa yang sirik dan khurafat. Ini karena tidak tahu atau memang bodoh saja?

Dai asal Malaysia bernama Wan Dazrin di cuitannya menyeru khalayak untuk menghentikan Lathi Challenge. Alasannya karena tarian asal Jawa di MV Lathi dianggap berbahaya. Seperti memanggil Kuntilanak dan roh Kuda Kepang, katanya.

Bisa disimak dari cuitan Wan Dazrin yang betapa maksanya pendapat soal Lathi Challenge ini,

"Hentikan ‘#LathiChallenge‘ sekarang juga. Sesungguhnya tarian2 yg kalian lakukan itu sgt berbahaya utk dijadikan hiburan. Ketahuilah kalian tarian itu wujud dari Sesetengah budaya Jawa yg syirik & khurafat. Seperti memanggil Kuntilanak serta Roh Kuda Kepang. Tolong hentikannya!"

Saya sampai puluhan kali menyimak Lathi Challenge, tantangannya itu bukan soal tarian, tapi perubahan makeup dan aksesoris seperti yang dilakukan Sara Fajira di MV Lathi untuk menunjukkan ada transisi emosi cinta menjadi kemarahan. Lagunya sendiri bercerita tentang toxic relationship yang melukai pihak perempuan dan memaksanya mengubah sikap.

Lathi Challenge awalnya dipopulerkan oleh  oleh seorang beauty vlogger asal Indonesia, Jharna Bhagwani. Remaja 17 tahun ini membuat konten makeup dengan iringan lagu "Lathi" dan menambahkan tagar #LathiChallenge.

Masuknya laras pelog gamelan yang rancak saat Sara Fajira mulai meluapkan kekecewaan dan kemarahan berhasil membangun emosi penonton MV Lathi untuk menyimak tanpa berkedip.

Ditambah latar tari Jawa yaitu Kuda Lumping atau disebut juga Jaran Kepang. Emosi negatif perempuan yang tersakiti diwakili dengan baik di sini lewat ekspresi penari, makeup, bahkan sisi psikis tentang kemarahan yang melampaui kesadaran diri disampaikan dengan baik oleh Kuda Lumping yang makan beling dan menyemburkan api.

MV Lathi yang terkesan "mistis" itu, saat makeup manis berubah menjadi menakutkan, membawa pesan tersirat bahwa ada perubahan emosi yang drastis. Ada kekecewaan dan kemarahan yang diekspresikan setelah sebelumnya ada rasa cinta dan keterikatan.

Tapi pesan yang ditangkap oleh orang-orang yang akalnya pendek adalah Sara Fajira merapal mantra berbahasa Jawa untuk memanggil roh supaya bisa kerasukan.

Isi cuitan Wan Dazrin yang penuh percaya diri ini kemudian diklarifikasi,

“Permohonan Maaf Terbuka Kpd Orang2 Jawa. Saya sebenarnya bertujuan menasihati umat Islam di Malaysia untuk berhati2 dengan ‘Sesetengah’ kepercayaan ritual drpd perbuatan Lathi Challenge & tidak pernah berhasrat menuduh budaya Jawa secara keseluruhan. Saya minta maaf ya."

Wan Dazrin mengabaikan ajaran agama Islam untuk konfirmasi terlebih dulu supaya tidak menuduh sembarangan. 

Tidak ada usaha untuk bertanya ke Weird Genius misalnya atau setidaknya mencari tahu terlebih dulu. Pokoknya lagu Lathi disebut mantra untuk memanggil setan saja, titik.

Bahkan setelah minta maaf pun Wan Dazrin tetap bersikeras bahwa ada "sesetengah" kepercayaan ritual di Lathi Challenge yang meniru perubahan makeup Sara Fajira saat di MV Lathi. Di salah satu cuitan disebut bahwa ia hanya menjalankan kewajiban mengingatkan  tentang bahayanya sirik.

Terasa akrab jurus berkelit ala Wan Dazrin. Mirip teknik orang-orang yang mengaku ulama di Indonesia tapi cara dakwahnya nyampah karena hobi menuding orang lain munafik dan kafir dengan penuh percaya diri. Pokoknya, pokoknya, pokoknya.

Tak penting punya cukup pengetahuan atau tidak, pokoknya citra kesalehan terjaga di mata khalayak, caranya dengan menuding orang lain berbuat keburukan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Sering kita jumpai belakangan ini, budaya negeri sendiri dihujat tidak Islami, lebih memilih budaya Arab, padahal budaya Islam dan budaya Arab itu berbeda. Budaya Arab juga ada yang tidak islami, penduduk Arab Saudi tidak semua memeluk Islam. 

Mari tambah pengetahuan tentang budaya supaya tidak terlihat menyedihkan, beragama tidak seharusnya membuat kita berhenti bernalar. Mau sampai kapan umat Islam di Indonesia dijejali pendapat sampah bahwa beragama Islam yang kafah itu harus kearab-araban?

Bukan hanya aliran kanebo kering saja yang menganggap lirik berbahasa Jawa dalam lagu Lathi sebagai mantra. Bahkan fans lagu ini juga ada yang menganggap demikian, bisa dibaca di kolom komentar MV Lathi di YouTube.

Hmm. Kalian sedang culture shock apa gimana? Padahal mudah untuk mencari tahu, tinggal googling, tidak perlu buka buku Kawruh Basa Jawa.

Lirik tersebut berasal dari local wisdom masyarakat Jawa. 

"Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana," (Berharganya diri seseorang terletak di lidahnya, berharganya raga seseorang terletak di pakaiannya) adalah local wisdom yang dimaksud.

Pernah mendengar "mulutmu harimaumu", bukan? Nah, seperti itulah maksud "ajining diri saka lathi" ini. Lidah yang dimaksud di sini adalah ucapan.

Ngomong-ngomong, local wisdom masyarakat Jawa yang mengajarkan untuk menjaga ucapan ini serupa dengan ajaran Islam tentang menjaga lisan, bukan? Jadi budaya Jawa bisa disebut Islami nggak nih? Atau "ajining diri saka lathi" harus diubah ke dalam Bahasa Arab dulu supaya bisa disebut islami?