…tapi justru bisa membuat mata melek merem terbuai, seiring bisikan kata hati.

Pas hari minggu pagi meski awan mendung menutup matahari, namun tetap menebar hangat seperti begini, maka sarapan Pecel bungkus daun Jati adalah pilihan bijak sebagai penuai semangat mengawali hari.

Tapi tempatnya ada di mana ini? Oh tentu masih berada di salah satu kota pusat olahan Pecel. Adalah Madiun, satu kota di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang dikelilingi pabrik gula dan hamparan sawah penghasil padi.

Pecel bungkus daun Jati kali ini tak neko-neko, berlauk minimalis seperti tahu tempe dan rempeyek kacang, namun menuai cita rasa Endul, begitu membuai. Terletak di dekat SMPN 8 agak sebelah timur laut sedikit dari pasar besi, di bilangan Jl. Pilang Mulya, tak jauh juga dari Padepokan Silat Setia Hati.

Benar-benar menawarkan cita rasa Pecel khas Madiun dalam format lauk pendamping yang bisa menuai underestimate, tapi justru bisa membuat mata melek merem terbuai, seiring bisikan kata hati.

Warung Pecel bungkus daun Jati ini masih berada di area kecamatan Kartohardjo, satu daerah di kota Madiun yang saya kenal karena banyak kenangan nostalgi yang telah mengisi relung-relung nurani.

Beh! Uedan tenan ini puisi.



…suatu poros jalan protokol kota Madiun yang di sepanjang kanan dan kiri, banyak bangunan bersejarah peninggalan masa Belanda berkoloni.

Ketika dulu saya aktif menjalani olah raga berlari-lari, jika singgah di kota ini, maka saya mesti meluangkan waktu untuk berlari, habis Subuh melaju mulai bangsa pukul 1/2 6-an pagi.

Mulai dari poros Jl. Slamet Riyadi, lalu ketemu pertigaan Pasar Besi belok ke kiri. Lalu menembus perempatan masuk Jl. Diponegoro, terus luruuus saya berlari ke arah SMPN 1 di Jl. Kartini. Kemudian ketemu Jl. Pahlawan, suatu poros jalan protokol kota Madiun yang di sepanjang kanan dan kiri, banyak bangunan bersejarah peninggalan masa Belanda berkoloni.

Terus saya berlari, disiplin mengatur napas dan pace irama lari, melewati perempatan masuk ke Jl. Cokroaminoto, satu poros jalan di Madiun yang dikenal bertebaran aneka sajian hidangan, terutama Pecel sebagai pendamping nasi.

Juga di deretan sebelah kanan Jl. Cokroaminoto adalah dapur pusat olahan bluder Cokro, sebelum pindah ke daerah nJiwan, satu produk roti yang layak ditunggu sebagai oleh-oleh bagi para pengisi hati.

Setelah melewati diskotik Fire yang legendaris dan menjadi satu-satunya diskotik di kota Madiun yang sebenarnya kental dengan suasana pedesaan ini. Kebayang bagaimana keramaian dan gaya ajojing disko para pengunjung dalam diskotik dalam kondisi masyarakat yang dominan berwawasan pedesaan yang mendominasi sosiologi kota ini.

 "Haiyo sumonggo joget Pak Leek... Syer! Syeer! Yak e! Yak e!" Begitu mungkin suara nyaring ajakan sang Disk Jockey, semarak aneka warna-warni lampu gemerlapan pun menghiasi.



…untuk menikmati malam dalam suasana nyaman, sejenak mengkalibrasi isi hati.

Saya pun lalu berbelok ke kanan melewati bilangan Sleko yang pasarnya terlihat hampir selalu teduh karena rindangnya pepohonan dan ketutupan gedung-gedung bangunan di sepanjang poros Jl. Cokroaminoto yang relatif tinggi-tinggi.

Sebentar saja berlari melewati Jl. Sleko, bakal ketemu lampu bangjo yang jika lurus ke arah barat bakal menuju wilayah hendak keluar kota Madiun, melintasi sungai Bengawan Madiun dikenal memiliki debit air yang tinggi.

Selepas bangjo Sleko, saya menuju ke arah kanan masuk ke Jl. H Agus Salim, merupakan poros jalan yang terkenal dengan deretan warung kaki lima juga lesehan penyedia aneka hidangan khas Madiun, yang tak hanya Pecel namun juga Intip Ketan, Tape Bakar, Dawet roti Bolang-Baling, Cemoe, Wedang Kacang, Susu Lemes... Eh, lha dalah maaf koreksi; Susu Nglames, hingga Nasi Goreng Babat ala Semarang dan Bakso ala Solo-Wonogiri.

Menjadi poros jalan yang memikat warga dan pengunjung di kota Madiun, untuk menikmati malam dalam suasana nyaman, sejenak mengkalibrasi isi hati.

Teruuus saya berlari hingga ujung perlimaan (Proliman) yang di seberangnya adalah Alun-alun kota Madiun, saya lalu belok ke kanan, Jl. Panglima Sudirman pun saya masuki sambil berlari-lari.

Jalan raya Panglima Sudirman mulai terlihat sibuk dilalui aneka kendaraan bermotor maupun sepeda dan becak kayuh, menjadi penghangat suasana pagi. Tak lama berlari di sepanjang jalan ini, kembali saya bertemu perempatan yang ada tugu kecil sebagai persimpangan Jl. Pahlawan dengan Jl. Cokroaminoto yang saya lalui tadi.

Satu tugu di daerah Jl. Pahlawan kota Madiun, yang menggambarkan bahwa hidangan nasi Pecel adalah bagian keseharian masyarakat kota berjuluk Perdagangan dan Industri (Gadis) ini.

Melewati tugu ini saya pun telah masuk bilangan Pasar Besar dengan sebuah gapura yang dulu setia bertuliskan huruf besar-besar terbaca; 'Madiun Kota Gadis'. Iya, Gadis singkatan dari Perdagangan dan Industri.

Atau tulisan 'Gadis' bisa jadi menjadi pesan tersirat bahwa di kota, juga kabupaten Madiun, adalah tempat tinggal para gadis-gadis berparas ayu manis, yang secara kode genetik DNA dari para wanita-wanita leluhur ratusan tahun lalu, yang menurun menjadi DNA Gadis-Gadis Madiun masa kini.



…apa karena sumbangsih kekayaan alam wilayah Madiun dalam bentuk kandungan Kalsium air minum, lauk sayur mayur Pecel dan nasi pulen sehari-hari…

Saya pun mengakui, ketika masih kuliah dulu, maka jika ada mahasiswi yang berasal dari wilayah Madiun ini, maka tipikal wajahnya kalo nggak ayu ya manis. Mungkin karena pengaruh kandungan Kalsium air tanah, juga sayur mayur lauk Pecel, juga pabrik-pabrik gula yang bertebaran. Gula kan manis, ya nggak si?

Kembali ke urusan berlari, setelah melewati pertigaan yang jika ke kiri menuju kantor bank BNI, saya tetap melaju lari lurus. Sepanjang jalan Mas Trip pun menjadi pijakan saya untuk berlari.

Sejenak saya melewati SMAN 1, yang bersama SMAN 2 kota Madiun, telah dikenal legendaris sebagai sekolah tingkat atasnya anak-anak pintar, yang kelak bahkan dikenal menjadi tokoh-tokoh publik figur di negeri ini.

Mirip dengan Gadis-gadis Madiun yang ayu-ayu dan manis-manis, maka apa karena sumbangsih kekayaan alam wilayah Madiun dalam bentuk kandungan Kalsium air minum, lauk sayur mayur Pecel dan nasi pulen sehari-hari yang membuat anak-anak sekolahnya pintar-pintar. Suatu fenomena yang menarik secara sains, untuk diteliti.

Seporsi Sego Pecel bungkus godong Jati, telah menjadi asupan gizi bagi masyarakat Madiun dan sekitarnya pada pagi hari, sehari-hari dari generasi ke generasi.

Melewati SMAN 1, saya ketemu perempatan Klegen, yang satu poros arah ke selatannya menjadi jalur utama kendaraan juga bus angkutan umum yang menuju ke arah Ponorogo, masuk Jl. Setia Budi.

Jalan ini termasuk poros jalan yang menjadi kenangan tersendiri bagi saya yang pas masih kecil sempat tinggal di asrama Brigade Mobil, di daerah yang dikenal bernama Mojorejo, seporos dengan Jl. Setia Budi ini.

Sempat saya menoleh ke kiri tempat warung es dawet Joiranan Pak Dimin, yang sempat menjadi tempat andalan guna melepas dahaga dikala panas melanda kota Madiun, yang karena penduduknya sering berkeringat, lalu mereka menjadi jarang punya jerawat.



Nggak papa, yang penting lari-lari.

Terus saya berlari, melalui asrama Brimob dengan deretan rumah-rumah dinas dan banyak kisah pengisi nostagia masa kecil, tak jauh dari situ saya belok kiri masuk jalan ke arah Universitas PGRI.

Tak terasa kisaran hampir 10 Kilometer saya berlari meski kecepatan berkategori kura-kura. Karena memiliki pace berkisar antara 8-10. Nggak papa, yang penting lari-lari.

Bertemu lagi dengan perempatan Jl. Slamet Riyadi yang terkenal dengan kondisi jalan yang miring punya posisi, saya pun menurunkan laju berlari, menjadi berjalan cepat sebagai pengganti. Karena, rumah di kawasan yang dikenal sebagai hamparan istana gaib milik Ratu Ratna Dumilah ini, bakal saya capai tak jauh lagi.

Sesampai halaman rumah, pendinginan pun saya mulai. Bukan dingin karena di-guyang sama air es batu ya. Tapi berupa gerakan-gerakan pendinginan ala bagian akhir senam aerobik yang diikuti oleh Ibu-Ibu RT, beriring lagu Cinta Luar Biasa atau jika lagu barat, judulnya adalah A Thousand Years, yang membuat jiwa, otot dan tulang bakal lemas melunglai.

Badan berasa segar setelah pendinginan, sebentar lagi setelah minum air putih dan mandi, baru rasa capek bakal menghampiri, bersanding dengan keinginan mengulangi lagi lari-lari, nanti kapan hari.



Jalanan menanjak namun saya tetap berlari.

Sayang, kisaran bulan Mei tahun 2017 telah menghentikan petualangan lelarian saya gara-gara kantung empedu kudu dioperasi. Tak bisa lagi berlari-lari lama, hanya jalan-jalan kaki.

Pernah suatu pagi, saya berlari dari kecamatan Kartohardjo, jauuh menuju daerah Gorang-Gareng. Jalanan menanjak namun saya tetap berlari. Lalu entah mengapa saya tiba-tiba terjatuh ke dalam sebuah jurang yang saya lewati.

Seperangkat gear lelarian yang bertahun-tahun telah menemani petualangan menampak kedua kaki di atas hamparan bumi, lari-lari.

Bug! Saya pun terbangun karena jatuh dari kasur sendiri. Lari-lari ke Gorang-Gareng itu ternyata sekedar mimpi.

Terbangun pagi-pagi gara-gara mimpi pun membuat hati ini merajut sebuah rencana, yakni menikmati sarapan Pecel bungkus daun Jati. 

Persis seperti pagi ini.