Belakangan ini Pemerintah Berencana melarang penjualan rokok ketengan. Artinya orang harus membeli rokok per bungkus.

Larangan tersebut di ketahui usai kepala negara mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 25 Tahun 2022 tentang Program Penyusunan Peraturan Pemerintah Tahun 2023 yang telah ditandatangani oleh Presiden pada tanggal 23 Desember 2022.

Salah satunya yang diatur pada Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) itu berisi Larangan Menjual Rokok Ketengan di Tahun 2023. Alasan utama larangan tersebut diusulkan oleh Presiden karena menurut Presiden Jokowi “Ya itu kan untuk menjaga kesehatan masyarakat kita semuanya,” tegas Presiden.

Selain itu alasan adanya larangan diatas, ternyata ada Salah satu  contoh alasan lagi mengapa adanya larangan ini dibuat yaitu dengan cara Melarang Penjualan Rokok Kentengan Pemerintah yakin dengan cara ini mampu menurunkan prevalensi perokok anak dan remaja usia 10-18 tahun.

Selain kedua upaya yang ada di atas pada tahun 2019Pemerintah juga Pernah berupaya untuk menaikan cukai rokok dan berharap jika kenaikan cukai rokok hingga beberapa persen saja dapat mengurangi prevalensi anak perokok. Tetapi Dengan kenaikan cukai pun, rokok selalu mudah diakses anak-anak dan remaja karena bisa dibeli secara ketengan.

Tak sedikit Masyarakat dan Pedagang kecil Kontra atas usulan Larangan Pemerintah ini. Pasalnya larangan ini disebut bisa mengurangi omset bagi Pedagang kecil, salah satu pedagang kecil berujar jika lebih banyak pelanggan yang membeli rokok secara ketengan daripada bungkusan.

Menurut masyarakat sebagai pembeli rokok ketengan beranggapanlarangan ini sangat keberatan sebab, tidak semua orang memiliki pendapatan tetap untuk membeli sebungkus rokok.

Masih ada banyak perdebatan atas larangan yang di buat oleh Pemerintah ini pasalnya dengan adanya larangan tersebut bisa jadi masyarakat lebih memilih untuk membeli rokok yang ilegal dalam artian rokok yang tidak masuk BeaCukai.

Menurut Kementrian Keuangan Bea Cukai sepanjang bulan Desember 2022, salah satu cotohnya di Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Sidoarjo telah melakukan penindakan 1.080 rokok ilegal.

Jumlah tersebut tentunya merugikan negara kurang lebih sekitar Rp300 miliar hingga Rp400 miliar.Operasi ini rutin yang dijalankan Bea Cukai Madya Pabean B Sidoarjo bersama aparat penegak hukum. Dengan kerugian tersebut menurut Jatim.

Antaranews menjelaskan“ Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya Eddy Christijanto, menegaskan masyarakat atau pedagang yang membeli dan menjual rokok ilegal di Kota Pahlawan, bisa dikenakan sanksi pidana berupa hukuman maksimal lima tahun penjara.”

Selain itu tidak sedikit pula masyarakat khusus nya kaum muda berangapan “jika tidak boleh membeli Rokok ketengan dan daripada membeli rokok ilegal yang bisa di pidana 5 tahun penjara lebih baik ngelinting karena jauh lebih hemat” ujar salah satu kaum muda.

Ngelinting yaitu dalam Bahasa Jawa sendiri "ngelinting" bisa diartikan sebagai menggulung, Kata "linting" sendiri sangat identik sekali dengan sebuah kegiatan seseorang yang sedang membuat rokok secara mandiri/manual dengan bahan baku yang terdiri atas:

papir/kertas, tembakau sebagai bahan utama dan cengkeh (opsional). Kemudian selanjutnya pada kertas tersebut diberi tembakau dan cengkeh lalu digulung sampai berbentuk tabung dengan bawahnya yang runcing.

Dengan adanya kata “Linting” ini semakin banyak orang yang menikmati rokok dengan cara melinting, mulai banyak bermunculan toko-toko tembakau yang menjual segala jenis tembakau dan juga alat-alatnya.

Tetapi disisi lain ada juga toko-toko tembakau yang seharusnya linting untuk di konsumsi pribadi tetapi malah di perjual belikan, karena memperjual belikan rokok tanpa pita cukai sangat dilarang oleh negara.

Berdasarkan Pasal 54 Undang-undang No 39 Tahun 2007 tentang Cukai menyebutkan, menawarkan atau menjual rokok polos atau rokok tanpa cukai terancam pidana penjara 1 sampai 5 tahun, dan/atau pidana denda 2 sampai 10 kali nilai cukai yang harus dibayar.

Faktor utama dari sebagian masyarakat atau kaum muda ini mengapa lebih memilih linting yaitu semakin mahalnya harga rokok pabrikan, dari sini kita tahu mengapa masyarakat lebih memilih untuk membeli rokok ketengan ataupun dengan cara linting.

karena melihat fakta di lapangan rata-rata harga satu bungkus rokok pabrikan berkisar antara 15 ribu rupiah sampai dengan 25 ribu rupiah, itu pun hanya bertahan 2-3 hari saja. Tetapi berbeda dengan jika kita melinting sendiri mungkin bisa bertahan 1-2 minggu dengan harga yang sama.

Dapat disimpulkan jika Larangan yang telah disebutkan tadi sangat tidak efektif bagi masyarakat maupun pedagang kecil, karena ada banyak hal yang memfaktori mengapa larangan ini sangat di kontra oleh masyarakat dan pedagang kecil.

Dari sudut pandang masyarakat beranggapan tidak semua orang punya penghasilan tetap, dan jalan lain selain membeli rokok ketengan masyarakat juga masih bisa memilih untuk linting sendiri dan menurut masyarakat sendiri jauh lebih hemat ketimbang membeli rokok konvensional pabrik.

Jika dari sudut pandang pedagang kecil, sudah dijelas kan tadi jika pedagang beranggapan lebih pelanggan yang membeli rokok ketengan dibandingkan membeli rokok bungkusan.

Meskipun menurut Pemerintah ini sangatlah hal yang harus tindak untuk mengurangi angka Prevalensi Anak Perokok yang di harapkan turun dalam tahun ke tahun.