Single Parent
3 bulan lalu · 107 view · 4 menit baca · Budaya 75118_83240.jpg

Lapar Itu di Sini, di Bakmi Beteng Muntilan

Di Muntilan, ada sebuah warung mi atau bakmi yang sangat laris. Saat saya SMA, lokasi berjualan di dalam terminal Drs Prayitno. Nah, setelah sekian tahun berlalu, warung mi ini bergeser lebih menepi.

Dalam kasta kuliner Jawa, mi atau bakmi tergolong makanan yang serba tidak jelas jenis kelaminnya. Makanan pokok bukan, lauk bukan, snack juga bukan. Dalam strata sosial makan besar, posisinya hanya sebatas pelengkap. Ya, pelengkap.

Tetapi dalam strata sosial cemilan, ia dinilai terlalu berat. Sungguh posisi yang tak jelas dan tak butuh kejelasan. Seperti kerupuk, meriah di mulut namun rendah gizi.

Nah, setelah menepi, warung mi ini tak berkurang karismanya. Para pemburu kuliner masih menempatkan warung mi ini sebagai buronan teratas dalam peta per-bakmi-an kota Muntilan. Ada saja pembeli yang rela antre dalam deretan mobil yang parkir.

Warung ini tak luas. Hanya warung sempit nan sederhana. Namun ketika mulai berjualan, seketika warung ini berubah menjadi panggung mega dahsyat yang menggelar pertunjukan kanibalisme kemanusiaan.

Saling sikut, saling himpit, dan kadang berdiri klimaks dalam senyum nyinyir. Ilustrasi pertunjukan itu berupa teriakan pesanan.

"Mbak, aku mi godhog, ya (mbak, saya mi rebus, ya)."

"Aku dibungkus pitu, goreng kabeh pedes nganggo pete. (Saya pesan dibungkus tujuh, goreng semua pakai pete)."

Wow sungguh mengerikan adegan ini. Segala jenis karakter naluri hewani berkumpul.

Kasta bakmi yang tidak jelas jenis kelaminnya itu, ternyata masih mampu membuat reaksi lidah warga Muntilan juga menjadi ikutan tidak jelas. Makan mi godhog saja, orang merasa belum makan. Namun jika makan dicampur nasi, akan merasa kekenyangan.

Makan mi godog atau mi rebus yang dicampur nasi dan kekenyangan menjadi manifestasi kerakusan. Karakter mi godog ini sangat sensitif dan egois.

Baiklah, mari kita lihat karakter pembelinya.

Saking larisnya dan panjangnya antrean dilayani, kerumunan pembeli itu akhirnya rela mendorong sesamanya. Ada yang menginjak kaki pembeli lain. 


Tetapi kejadian itu begitu saja terjadi dan mampu menjebol sekat dinding kasta sosial. Bisa saja seorang kuli panggul menyerobot pesanan sosok bermobil BMW atau sebaliknya. Kasta sosial pembeli menjadi lebur.

Tak ada pula heroisme yang mengkubu. Bisa saja seorang simpatisan capres mampu memenangkan persaingan, menyalip antrean seorang ketua tim sukses capres pesaing. Tak peduli capres nomer berapa.

Suatu hari, seorang perempuan dengan gaya berdandan wanita karier, terlihat keluar dari kerumunan. Di tangannya memegang satu tas plastik kresek warna hitam.

"Alhamdulillah, masih kebagian tiga. Nanti mama bisa merasakan lezatnya bakmi godog ini," katanya penuh kemenangan saat melapor kepada seorang wanita tua yang menunggu di mobil.

Pertunjukan kian menarik ketika mengucapkan kalimat syukur "alhamdulillah" itu sengaja ditambah volumenya. Ini akan memberi efek panik kepada pelanggan lain yang bahkan belum sempat mendekat ke pemilik warung.

Kepanikan pengantre makin bertambah karena reaksi ibu pemilik warung yang tak kalah dingin. Setiap ditanya pemesan, selalu dijawab seperti asal-asalan.

"Nunggu antre berapa, mbak?"

"Masih nunggu 97, ya, mas. Kalau sabar, monggo. Nggak, ya nggak papa," begitu reaksi si pemilik warung.

Dingin, tanpa senyum, bahkan tanpa menengok si penanya. Bahkan ketika panjang antrean hanya empat atau lima orang saja, ia bisa menyebut angka di atas 50. Tentu si pengantre melongo dan menduga angka itu menjadi sebuah kebenaran karena pesanan bungkus yang sangat banyak.

Apalagi di warung ini memasak pesanan juga hanya seporsi demi seporsi, tak pernah memasak sekali untuk beberapa porsi meskipun pesanan banyak. Ini sebuah upaya menjaga kualitas rasa.

Begitulah. Larisnya warung itu ternyata menjadi panggung drama kesombongan yang meledek nurani. Ada saja pembeli yang mencoba mendramatisasi suasana.


"Wah, sudah habis, mbak. Makanya kalau ke sini lebih awal,” kata pembeli lain. Ucapan biasa namun akhirnya menjadi ledekan dan menista pihak yang tak kebagian.

Tak jauh dari situ, ada juga warung bakmi. Namanya Bakmi Beteng. Warungnya tak kalah sederhana, masakannya juga biasa saja. Standar bakmi godog Muntilan, yang memiliki varian bakmi goreng, nasi goreng, maupun capcay.

Pemilik warung bernama Khusnul Nurhidayah. Biasa dipanggil Mbak Inung.

Warung itu tak seramai warung pertama tadi. Namun ia juga nyaris tak pernah istirahat meskipun kondisi warungnya hanya berisi satu orang.

Jualan sama dengan tingkat kelarisan berbeda. Tak ada drama, tak ada pertunjukan. Bagi mbak Inung, mi adalah mi. Ia bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan mati-matian.

"Selezat apa pun rasanya, ia hanya akan dimakan sekadarnya," kata Mbak Inung.

Keberadaan sebuah warung, selaris apa pun, tidak boleh menimbulkan “gegar sosial”, sebuah guncangan sosial yang akan meruntuhkan nilai kemanusiaan. 

Antrean panjang, prestise, gengsi, penasaran kolektif, sejatinya hanyalah imajinasi yang dibangun secara massal. Imajinasi itu hanya berfungsi menggairahkan pembeli sehingga tak perlu tim marketing handal.

Itu sebabnya orang yang berpuasa sering kali kaget dengan perasaan laparnya. Ia merencanakan makan ini-itu, namun ketika beduk magrib tiba, semua musnah oleh seteguk teh manis hangat.

Rasa lapar sering disalahpahami sebagai sosok yang tak terjangkau; yang misterius; yang butuh pelepasan mahal. Padahal kadang cuma butuh teh panas seteguk, atau bakmi godog setengah porsi, semua yang misterius itu runtuh.

Jajan di warung Mbak Inung, obrolan antar-pembeli sebagai manusia sungguh hidup. Bahkan ada juga yang saling mengalah. Meski sama-sama butuh. 


Menu yang ditawarkan juga biasa: bakmi goreng/godog, bihun goreng/godog, nasi goreng/godog, kwetiau, capcay. Tak ada yang istimewa. Tak banyak dan tak padat. Namun selalu saja ada pembeli. 

Lapar itu memang hanya "di sini". Hanya butuh bakmi, atau kentang goreng, atau sesendok ketan. Lapar itu tak berada "di sana" yang butuh penuntasan dengan mobil mewah, istri muda, menguruk pantai, duit bermiliar dan yang serba tak terjangkau, sehingga memaksakan diri dengan korupsi, melanggar aturan, dan sejenisnya.

Dengan bekal Rp10 ribu, cukuplah menuntaskan lapar yang sesungguhnya. Karena lapar itu hanya butuh penuntasan beberapa menit, bukan dengan sebuah pulau, bukan dengan pesawat pribadi, apalagi duit berkoper-koper hasil suap menyuap.

Artikel Terkait