AHY-Sylvi mewaraskan demokrasi kita? Pertanyaan itu muncul di benak saya ketika beberapa jam lalu membaca salah satu artikel di kompas(dot)com, berjudul: "Agus-Sylvi Serahkan Suara Mereka Kepada Pilihan Rakyat".

Paslon rumah apung ini telah gagal dalam Pilkada DKI namun perannya dalam menggiring opini masyarakat untuk selalu mengenang Kepala Dinasti Cikeas masih terus berlanjut. Opini tentang apa? tentang asas demokrasi yang dielu-elukan oleh para pemuja SBY dan merasa hal itu diciderai oleh Jokowi.

Dalam video singkat yang diunggah Media Kompas, Agus katakan bahwa pemilih harus menggunakan hak konstitusinya sesuai hati nurani. Dari sisi demokrasi sekular warisan reformasi, hal ini positif. Tapi akan jadi sesuatu yang menyentil bila kemudian statement itu dibenturkan dengan kejadian di Lapangan Blok S Februari lalu, sobat ingat? AHY didukung oleh semangat Bela Agama. Dia dibai'at dan calon pemilih disumpah untuk memilih AHY atau setidaknya pilih paslon seiman.

Pertanyaan kedua yang muncul adalah "Apakah AHY memisahkan dirinya dari sekelompok orang yang berkomitmen untuk memenangkan paslon Muslim? atau dia berada dalam komitmen yang sama?"

Bila ia memisahkan diri dalam komitmen tersebut, tentu acara doa bersama yang digelar bulan kemarin di Lapangan Blok S hanya sandiwara politik yang sengaja dibuat untuk meningkatkan euphoria anti pemimpin non-muslim. Tapi bila AHY terlibat dalam komitmen yang sama, menjadi sebuah pelanggaran etik apabila ia menyerahkan suara pemilihnya kepada masing-masing pemilih. Apalagi dengan kata-kata diplomatis seperti "gunakan hak konstitusi dan pilih dengan hati nurani" karena dibai'at untuk memilih AHY adalah aktifisme yang mengebiri hak konstitusi dan sangat tidak sesuai dengan hati nurani.

Jadi AHY sebenarnya dukung siapa? sobat bisa tentukan dukungan AHY dari inkonsistensinya. Bila ia meyakini "Jakarta akan sejahtera bila muslimnya sejahtera", mengapa tidak dengan tegas ia katakan "kami menyerahkan suara AHY-Sylvi pada Anies-Sandi" ? Ini dialektika politik yang berusaha dikembangkan menjadi beberapa modul opini. Tujuannya agar pendukung Paslon 3 masih memiliki harapan bahwa pemilih AHY-Sylvi akan melempar suaranya di putaran kedua untuk Anies-Sandi.

Tapi saat ini sudah tidak terlalu penting berbasa-basi soal ini. Sebagian pendukung Agus sudah melepaskan atribut AHY-Sylvi dan menggantinya dengan almamater taplak warteg a.k.a kotak-kotak. Walaupun hal ini tak dianggap sebagai ketentuan Demokrat secara resmi. Yang dapat dijadikan acuan sah atas nama partai apabila aktifitas simbolik itu dilakukan oleh AHY-Sylvi --- begitu kan, sobat?

Ya, statement Agus "pilih dengan hati nurani" adalah statement resmi bahwa partai Demokrat dalam hati terdalam tak perduli dengan agama paslon yang maju dalam Pilkada putaran kedua ini. Dan ini mengafirmasi kecurigaan banyak orang bahwa Demokrat masih gelisah dan khawatir Anies memenangkan Pilkada DKI.

Beginilah politik, terkadang satu pihak memusuhi pihak lain bukan karena ingin menghancurkannya tapi menjaga agar tidak ada pihak lain lagi yang memusuhinya. Dan terkadang satu pihak mendukung pihak lain bukan untuk memenangkannya, tapi agar tidak ada lagi yang berminat mendukungnya.

Tapi fenomena saat ini, satu kubu dimusuhi oleh dua pihak sekaligus, sementara masing-masing pihak yang memusuhi kubu tersebut saling tidak percaya dan saling khawatir dikhianati.

Jawaban atas pertanyaan "Jadi AHY dukung siapa?" Saya bisa jawab, "AHY dukung Ahok".

- SALAM TOLERANSI -

- https://twitter.com/perangdingin

*ilustrasi dari kompas(dot)com: Munawir membaiat calon pemilih agar memilih paslon Muslim, tapi Agus menyerahkan suara pendukungnya kepada masing-masing individu berdasarkan hak konstitusi dan hati nurani