Arsiparis
4 bulan lalu · 292 view · 4 menit baca · Sejarah 44057_52780.jpg
https://indonesia.ucanews.com/2010/03/18/pelarangan-buku-harus-segera-diakhiri/

Langkah Mundur Sweeping Buku

Membaca buku adalah belajar. Sebagaimana proses pembelajaran tentunya ada interaksi timbale balik dari keduanya. Dalam kasus membaca guru adalah pembelajar sedang pembacanya adalah pebelajar. Lantas apakah ada korelasi antara buku dan pembaca ini nantinya pada akhirnya pembaca akan mengikuti serta merta apa yang dibacanya?

Pembaca adalah orang yang mencari referensi atau informasi dari sebuah buku. Bisa jadi ia sudah punya asumsi terlebih dahulu hingga harus mencari buku dengan subyek tertentu. Saat proses membaca inilah akan terjadi proses memilih dan memilah mana yang harus ia pakai dan tidak.

Bisa jadi ia memakai keseluruhan isi buku tersebut karena isinya sama dengan yang ia asumsikan sebelumnya. Tapi bisa juga  pembaca malah kan menolak habis habisan secara membabi buta isi buku yang ia baca karena isinya bertentangan dengan apa yang ia asumsikan.

Dari penjelasan di atas tentunya ketakutan pada sebuah bacaan hanyalah sebuah phobia yang tidak pada tempatnya. Tindakan penyitaan buku buku yang mengulas tentang paham komunisme dan tokoh tokohnya adalah berlebihan.

Pembaca mempunyai nalar kritis untuk menilai isi sebuah buku, dan bila ada penyitaan terhadap buku tertentu penulis menganggap tindakan ini telah menafikan cara berfikir pembaca. Para pembaca buku yang agresif adalah mereka mereka yang berfikiran kritis tidak mudah terpengaruh dengan yang ia baca.

Perjalanan panjang biografi tokoh tokoh bangsa telah menunjukkan bahwa koleksi bacaannya sangat beragam. Semua genre pengetahuan menjadi koleksinya. Bung Hatta saya rasa lebih paham komunisme daripada para pengagum Karl Mark, Hegel, dan tokoh komunis lainnya. Tapi bisa kita lihat Bung Hatta adalah pengkritik paling jenius teori komunisme.

Ia melahirkan teori koperasi yang cukup indah itu, tentunya setelah ia memahami begitu banyak teori ekonomi baik dari komunis dan kapitalis. Beliau bahkan banyak kenal dengan tokoh tokoh komunis di Indonesia  maupun di Belanda saat perjuangan dulu. Inilah salah satu bukti bahwa pembaca buku yang lahap tak kan mudah terpengaruh isi dari buku yang ia baca bahkan cenderung menghasilkan ide baru.

Bahkan ia mengkritisi teori Bung Karno dengan Nasakomnya. Bung hatta berpendapat tak mungkin menyatukan komunisme dengan agama karena komunis lebih mengagungkan materialisme  yang tentunya berbeda dengan agama yang mendahulukan rasa percaya pada nilai nilai ilahiah. Tentunya ini disebabkan bung hatta telah melahap semua teori itu.

Komunisme telah mati saat ini di dunia. Terbukti banyak negara yang menganutnya telah runtuh dan berubah menjadi demokratis. Bahkan Cina pun yang parlemennya  masih dikuasai komunisme  mulai membuka diri terhadap dunia luar tak lagi tertutup dan komunal sebagaimana cita cita komunisme. Tidak ada lagi proletar di era mesin karena mesinlah yang jadi proletar sekarang ini.

Sejarah adalah sesuatu yang bisa menjadi kaca benggala. Kebanyakan buku berhaluan “kiri” adalah produk sejarah yang dicetak ulang. Baik itu biografi tokoh tokohnya maupun teori teorinya. Kita tentunya harus memberikan pada generasi itu untuk memahami sejarah yang ada agar mereka paham akan perjalanan bangsanya.


Tentunya tidak ada superhero dalam perjalanan terbentuknya sebuah bangsa. Banyak tokoh tokoh dengan berbagai latar belakang ide andil bagian di dalamnya. Dan kita semua tahu komunis tidak laku bahkan terpinggirkan di negeri ini. Gerakan mahasiswa tahun 1966 adalah wujud para pembaca kritis dari teori teori komunisme yang akhirnya bersuara ketika melihat banyak sisi negative teori tersebut.

Penulis juga yakin bahwa angkatan 66 adalah anak anak mahasiswa yang sudah mengkonsumsi teori komunisme tapi apakah mereka mendukung komunisme di Indonesia? Semua sudah tahu jawabnnya.


Apa yang terjadi di Kediri dan mungkin di tempat lain tentang sweeping buku buku kiri adalah sekali lagi telah mematikan iklim dunia intelektual. Kenapa hanya di situ? Toh di Perpustakaan Nasional juga ada koleksi buku buku tersebut. Apakah kita juga mau menyisir buku buku tersebut dari rak buku di Perpustakaan Nasional?

Sekali lagi membaca adalah dialog yang tentunya tidak serta merta mempengaruhi pola fikir pembaca. Sebagaimana buku buku paham radikal yang sita saat ada penangkapan tersangka terorisme, apakah teroris tersebut bekerja karena membaca buku yang ia baca? Tentunya tidak.

Semua ada proses dan sebagaimana yang sudah dijelaskan bahwa terorisme pun terjadi karena pendidikan dari organisasinya bukan karena ia membaca buku.

Penulis berharap negara kita tidak lagi melakukan langkah mundur sebagaimana  masa orde lama saat Lembaga Kebudayaan rakyat (Lekra ) membakar buku yang berafiliasi pada Manifes Kebidayaan (Manikebu). Juga apa yang dilakukan oleh masa awal  Orde Baru dengan membakar buku buku kiri yang terbukti makin membuat kesimpangsiuran sebuah sejarah.


Stop pelarangan sebuah buku karena pembaca adalah manusia yang hidup dengan akal yang bisa memilah dan memilih. Toh kitab suci agama pun tak bisa serta merta mempengaruhi manusia menjadi baik. Terbukti dengan masih adanya kejahatan yang terus menerus terjadi. Itu semua karena jiwa manusia itu dinamis dan masih bisa dipengaruhi lingkungan yang mendidiknya.

Lebih baik menumbuhkan iklim kepada pembaca untuk menjadi pembaca yang kritis daripada sekedar melarang dan menyita buku. Hidupkan diskusi diskusi yang terbuka di setiap elemen masyarakat tanpa ada unsur indoktrinasi itu lebih penting dan membangun. Biar bagaimanapun membungkam hanya akan menimbulkan api dalam sekam.

Artikel Terkait