Awalnya saya mengharapkan bahwa Perdana Menteri (PM) Jepang yang baru, Yoshihide Suga, akan membawa perubahan yang positif dalam hal hubungan negaranya dengan Korea Selatan dan Tiongkok. Yang saya soroti di sini ialah iktikad baik Jepang untuk memulihkan luka masa lalu semasa era kolonialisme dan Perang Dunia (PD) II.

Akan tetapi, berita baru-baru ini membuat saya cukup kecewa. Belum sebulan menjabat sebagai PM, Suga ternyata kembali mengulangi “tradisi tak simpatik” yang juga kerap dilakukan para pendahulunya, yaitu “mengunjungi” Kuil Yasukuni.

Saya beri tanda petik karena Suga sendiri tidak menginjakkan kaki ke sana. Ia hanya mengirimkan persembahan dalam rangka merayakan festival musim gugur.

Seperti diberitakan bahwa pada Sabtu, 17 Oktober 2020, utusan PM Suga mengirimkan persembahan ke kuil kontroversial tersebut. Kontan saja pemerintah Korea menyampaikan kekecewaan sekaligus kecaman padanya.

Yasukuni memang bukanlah kuil sembarangan. Sudah lama ia menjadi sumber ketegangan antara Jepang dengan negara-negara tadi. Di sana memang terdapat nama-nama pahlawan dan prajurit Jepang yang gugur dalam perang sejak era Kaisar Meiji, termasuk segelintir orang yang terbukti merupakan penjahat perang selama PD II.

Berlokasi di Distrik Chiyoda, Tokyo, kuil tersebut dibangun di era Kaisar Meiji, tepatnya tahun 1869. Di sana terdapat daftar berisikan kurang lebih dua juta nama orang-orang Jepang yang gugur dalam perang. Di antaranya ada sekitar seribuan orang yang dikategorikan penjahat perang.

Tercatat bahwa PM Jepang periode 1974-1976, Miki Takeo, merupakan PM Jepang pertama pasca PD II yang mengunjungi Yasukuni. Setelah itu, banyak penerusnya yang melakukan hal serupa. Dan hampir pasti hal tersebut membuat Tiongkok dan Korea Selatan kesal dan marah.

Yang paling fenomenal ialah Junichiro Koizumi. Perdana Menteri antara 2001-2006 yang merupakan sekutu dekat Presiden Amerika George W.Bush ini mengunjunginya sebanyak enam kali.

Jangankan seorang Perdana Menteri, pesohor di bidang entertainment pun mendapat kecaman saat menapakkan kakinya di Yasukuni. Pada tahun 2014, penyanyi Justin Bieber dikecam secara luas saat memposting aktivitasnya di sana, terutama fansnya yang berasal dari Korea. Ia pun akhirnya meminta maaf dan menghapus postingannya tersebut.

Warga dan pemerintah Jepang berdalih bahwa mereka hanya menghormati para pejuang yang gugur di medan perang atas nama agama. Namun, alasan apa pun yang dikemukakan, publik beserta pemerintah kedua negara tadi tetap mengecam dan mempersoalkannya.

Suga menyatakan bahwa ia dan negaranya akan meningkatkan hubungannya dengan Tiongkok, baik dalam bidang ekonomi dan perdagangan, hingga dalam hal budaya. Dalam teleponnya dengan Presiden Xi Jinping pada 25 September lalu, Suga berkata akan membawa hubungan Jepang-Tiongkok ke level yang baru.

Namun dengan tindakannya ini, banyak kalangan yang meragukan komitmen dan janjinya tersebut.

Partai Liberal Demokratik Jepang (LDP) memang sejak dulu berhaluan konservatif dan kerap menyuarakan ide-ide ultra-nasionalistik, terutama saat PM Shinzo Abe berkuasa. Dan Suga sepertinya akan tetap mempertahankan nilai-nilai partai tersebut untuk menjaga dukungan dari kalangan sayap kanan.

Jepang cenderung tak begitu serius dan tulus untuk menyelesaikan luka lama ini. Sekian lama mereka “tersandera” masalah ini, namun tak ada niatan serius untuk menyelesaikannya. Padahal menurut saya dan juga banyak orang, hubungan ketiga negara akan jauh lebih baik jika masalah di masa lalu telah diselesaikan.

Mungkin menyatakan maaf dan penyesalan mendalam atas kekejamannya dulu masih sulit diucapkan oleh pemerintah Jepang. Tapi setidaknya mereka bisa berhenti mengunjungi kuil tersebut, sebagai indikasi niat baik serta keseriusan Jepang untuk menata hubungan yang baru dengan negara tetangganya tersebut.

Tindakan tersebut sepertinya sepele, tetapi dampaknya besar. Kedua negara tetangganya tadi pasti akan mengapresiasi, dan ujung-ujungnya, akan ada trust atau kepercayaan yang akan diperoleh Jepang. Kepercayaan inilah yang akan menjadi basis dari hubungan ketiga negara tadi.

Menciptakan perdamaian di Asia Timur sangatlah sulit. Terlalu banyak kepentingan yang bermain disana. Stabilitas kawasan ini memang masih terancam oleh nuklir Korea Utara, sengketa-sengketa pulau serta arogansi Tiongkok yang tak hanya membuat Amerika, Jepang dan Korsel saja yang dibikin kesal, tetapi negara-negara ASEAN juga.

Tetapi bagaimanapun juga, benang kusut di kawasan tersebut mesti diurai satu-per satu. Salah satunya adalah, sekali lagi, dengan menyelesaikan luka di masa lalu. Dengan tidak mengunjungi kuil Yasukuni, itu akan menjadi sinyalemen atau pertanda kemauan pemerintah Jepang untuk membangun hubungan baru dengan negara tetangganya.

Namun, sangat disayangkan bahwa orang-orang berhaluan sayap kanan serta pandangan ultra-nasionalis masih mendominasi pemerintahan di sana. Sehingga mau tidak mau, kita masih akan mendengar berita tentang kunjungan atau pemberian persembahan ke kuil tersebut.

Menarik untuk mencermati tindakan-tindakan PM Suga ke depannya terkait relasinya dengan duo Korsel dan Tiongkok. Tetapi sepertinya, kebijakan Suga tak akan jauh berubah dari PM sebelumnya yang konservatif.