Dewasa ini masyarakat seakan tidak lepas dari yang namanya plastik. Baik itu plastik kresek, plastik biasa, dan barang berbahan plastik. Plastik selalu digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari. 

Misalnya untuk tempat minuman, membungkus makanan, tempat belanjaan dan masih banyak lagi. Alasan kenapa plastik tersebut sering dipakai adalah karena ringan, tidak mudah pecah, harganya murah, dan mendapatkannya pun sangat mudah. 

Tetapi banyak dari masyarakat tidak menyadari bahaya yang akan ditimbulkan akibat penggunaan plastik terhadap kesehatan mereka sendiri dan lingkungan sekitar. 

Menurut penelitian, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). 

Selain itu, plastik pada umumnya sulit untuk didegradasikan (diuraikan) oleh mikro organisme. Sampah plastik dapat bertahan hingga bertahun-tahun sehingga menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan. 

Sampah plastik tidaklah bijak jika dibakar karena akan menghasilkan gas yang akan mencemari udara dan membahayakan pernafasan manusia, dan jika sampah plastik ditimbun dalam tanah maka akan mencemari tanah, air tanah. Plastik sendiri dikonsumsi sekitar 100 juta ton/tahun di seluruh dunia. 

Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A. Oleh karena itu pemakaian plastik yang jumlahnya sangat besar tentunya akan berdampak siqnifikan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan karena plastik mempunyai sifat sulit terdegradasi (nonbiodegradable). 

Plastik diperkirakan membutuhkan 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Banyak keburukan yang terjadi akibat pencemaran plastik. Salah satunya adalah terganggunya ekosistem dan kelangsungan hidup baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. 

Jutaan plastik yang berada di lautan menyebabkan menipisnya oksigen di air. Bahkan ikan Paus sampai tidak bisa membedakan mana makanan dan mana sampah. Akhirnya perut ikan paus penuh sesak dengan sampah dan menyebabkan kematian. 

Tidak hanya Paus, ikan-ikan lainnya juga mengalami hal yang sama. Hewan yang akhir-akhir ini viral yaitu penyu tumbuh dengan badan yang terlilit sampah. Akibatnya bentuk badannya tidak sempurna. 

Kemudian bagi manusia, plastik dapat menjadi sumber penyakit. Plastik yang menyumbat aliran air akan menyebabkan banjir. Dari banjir itu menimbulkan bakteri yang mengancam kesehatan masyarakat. Seperti halnya gatal-gatal, diare, sampai dengan demam berdarah. 

Tentu dampak buruk plastik ini sangat dirasakan oleh semua elemen makhluk hidup dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam ilmu ekonomi, dampak dari sampah plastik tersebut menimbulkan eksternalitas. 

Eksternalitas dibagi menjadi dua tipe yaitu eksternalitas positif dan eksternalitas negatif. Eksternalitas positif terjadi apabila pengaruh sampingan sifatnya membangun. Salah satu contohnya yaitu pembangunan jaringan jalan raya. Sedangkan eksternalitas negatif akan terjadi apabila pengaruh sampingannya bersifat menganggu dapat berupa gangguan kecil hingga ancaman besar. 

Contohnya antara lain, polusi udara dan air, kerusakan karena pertambangan terbuka, limbah-limbah berbahaya, obat-obatan dan makanan yang membahayakan dan bahan-bahan radio aktif. Dalam hal ini dampak sampah plastik tersebut menimbulkan eksternalitas negatif. 

Eksternalitas tidak melulu berkaitan dengan proses produksi yang menimbulkan efek samping terhadap pihak lain. Dalam kasus sampah plastik tersebut, eksternalitas yang dimaksud merupakan bagian dari eksternalitas dalam konsumsi, karena masyarakat mengkonsumsi plastik kemudian menimbulkan pencemaran lingkungan dan menimbulkan efek samping terhadap orang lain.

Dari uraian dampak buruk penggunaan plastik di atas, sedikit banyak membuat kita mengernyitkan dahi bagaimana caranya untuk mengurangi dampak penggunaan plastik tersebut. Bagaimana caranya mewujudkan lingkungan yang sehat dan nyaman. Bagaimana caranya mewujudkan lingkungan yang bebas banjir dan pencemaran. 

Kita sebagai generasi muda perlu bersinergi dengan pemerintah demi mewujudkan cita-cita  tersebut. Terdapat langkah strategis yang dapat kita lakukan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Yaitu dengan cara menanamkan kesadaran yang tinggi terhadap semua orang untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Perlu adanya penanaman doktrin agar masyarakat menghindari kebiasaan yang buruk. Peran pemerintah dapat mengadakan sosialisasi secara menyeluruh dari kota sampai dengan daerah pinggiran. 

Sosialisasi secara terus menerus mengajarkan masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Tentunya, pemerintah juga menyediakan tempat sampah umum agar masyarakat tidak ada alasan untuk membuang sampah sembarangan. 

Kebiasaan buruk itu memang tidak gampang untuk diubah, karena kebiasaan membuang sampah sembarangan sudah mendarah daging. Tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Perubahan itu pasti bisa meskipun sulit. 

Kita akan gunakan filosofi air yang menetes ke batu, lama-lama batu juga akan hancur. Kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan pasti bisa diubah asalkan ada yang mengawasi, diberi dukungan yang menyeluruh, dan penjelasan yang mendetail kepada masyarakat. 

Budaya membuang sampah pada tempatnya perlu dipupuk segera mungkin. Pemerintah dapat membantu untuk menghimbau kepada setiap pemilik restauran cepat saji, swalayan, dan toko-toko yang menjual barangnya menggunakan plastik. 

Sekarang hal itu sudah mulai digalakkan dengan mengurangi penggunaan sedotan pada restaurant cepat saji. Namun, hal itu belum secara signifikan mengurangi sampah plastik. Bagaimana caranya agar penggunaan plastik benar-benar dikurangi secara massif?. 

Caranya adalah melarang penggunaan plastik sekali pakai pada swalayan ataupun toko-toko kecil seperti Indom*ret/Alfam*rt dan berbagai toko lokal. Toko tersebut tidak perlu menyediakan plastik dengan jumlah yang banyak untuk membungkus barang yang dibeli. 

Melainkan pembelilah yang seharusnya membawa tas belanja sendiri. Jika memang tidak membawa dengan alasan lupa atau hilang, maka bisa beli di toko tersebut dengan harga yang sangat mahal. Hal ini dapat memberikan efek kehati-hatian pembeli agar tidak lupa membawa tas belanja sendiri pada saat hendak berbelanja. Dengan begitu pembeli akan beralih menggunakan tas belanja sendiri yang dapat digunakan berkali-kali. 

Kita perlu tegas terhadap sistem penggunaan tas belanja. Karena jika tidak tegas, dan toko/swalayan tersebut masih saja menyediakan plastik dengan harga yang murah, maka kebiasaan untuk mengurangi plastik tidak akan terjadi. 

Meskipun di bebarapa swalayan sudah terdapat himbauan untuk membawa tas belanja sendiri, namun himbauan tersebut tidak memberikan efek yang memaksa bagi para pengunjung. Masyarakat hanya akan meremehkan himbauan itu dan tidak terbesit untuk membawa tas belanja sendiri. 

Pikiran semacam “toh sudah disediakan plastik di swalayan, jadi gak perlu repot” inilah yang menjadi hambatan untuk mengubah kebiasaan menggunakan plastik. Ketegasan ini perlu ditegakkan untuk membatasi penggunaan plastik. Kita perlu menciptakan kondisi memaksa demi kebaikan bersama.

Peran pemerintah sangat dinanti-nanti oleh semua kalangan. Tidak hanya peran sosialisasi kepada pembeli, namun juga penting untuk menyadarkan produsen, distributor, dan stakeholder yang berposisi sebagai penjual barang agar membatasi penyediaan kantong plastik.

Penulis berpendapat cara ini dapat dicoba untuk mengatasi sampah plastik yang akhir-akhir ini menjadi masalah serius bagi Indonesia. Harapannya ke depan, dampak negatif dari sampah plastik dapat terhindarkan.