Mahasiswa
2 minggu lalu · 99 view · 4 menit baca · Cerpen 85580_34464.jpg

Langit Cinta Danu

Panas menyelimuti tubuh setiap hari, tanpa ada kata lelah maupun susah. Hanya niat dan ucap bismillah yang menjadi prinsip utama dalam hidupnya. 

Sebuah desa terdapat seorang tukang becak, dia masih duduk di bangku 2 SMA. Danu biasa masyarakat desa memanggilnya.

Di sela-sela dia bekerja, seperti di waktu pulang sekolah, dia tidak langsung pulang ke rumah. Melainkan dia menemui salah satu tukang becak dan meminta agar dipinjamkannya.

"Pak, saya pinjam becaknya lagi," pinta Danu pada bapak yang memiliki becak)

"Iya, ini silakan. Tapi jangan lupa untuk menyisakan buat ongkos peminjaman," sahut tukang becak tersebu.

"Baik, pak," jawab Danu dengan rasa terima kasih

Siang yang menyengat itu tidak menurunkan semangat Danu untuk mencari nafkah demi keluarganya. Sebab sejak kecil ayahnya telah meninggal dunia, dan dia membantu ibunya untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

"Bismillah, hilangkan lelahku ya Allah" (Batin Danu)

"Dek sini" (Penumpang)

"Iya Bu, sebentar" (Sahut Danu)

"Nak, ayah ibu kamu kemana? Kok kamu yang bekerja?" (Pertanyaan seorang penumpang)

"Ayah saya sudah meninggal semenjak saya masih kecil Bu, sedangkan ibu saya jualan di rumah. Saya begini hitung-hitung membantu orang tua saya" (Jawab Danu apa adanya)

"Sudah turun sini nak" (Mengeluarkan uang ongkos 50 ribu)

"Bu, ini kelebihan. Ongkosnya hanya 20 ribu, ini kembaliannya"

"Ambil saja" (Ucap penumpang tersebut)

"Alhamdulillah, terimakasih Bu" (Rasa syukur Danu)

Dalam perjalanan pulang, Danu melihat seorang wanita hendak menyebrang. Tiba-tiba ada motor yang berkecepatan tinggi itu berada dalam arah jalan dekat wanita tersebut.

Tanpa berkepikiran panjang Danu langsung menyelamatkan wanita tersebut, agar tidak ditabrak oleh motor.

"Astagfirullah" (Napas wanita tersebut terengah-engah dengan kejadian yang baru saja terjadi)

"Maafkan saya, bukannya saya tidak sopan. Tapi tadi saya mencoba menyelamatkan anda"(Merasa bersalah sebab menyentuh wanita itu untuk menghindarkan dia dari jalan)

"Anda tidak bersalah justru saya yang berterimakasih" (Wanita tersebut merasa berhutang budi pada Danu)

"Mbak jika berjalan harus lebih hati-hati lagi  ya" 

"Iya, sekali lagi terimakasih"

"Ya sudah mbak, saya pergi dulu" (Danu segera meninggalkan wanita tersebut)

Beberapa tahun berlalu dengan cepat, hingga tepat usianya 25 tahun. Dia sekarang tidak menjadi tukang becak lagi,  berkat usaha demi usaha telah dilakukan oleh Danu sekarang dia telah menjadi ustadz dan imam di masjid.

Waktu menandakan sholat dhuhur , saatnya Danu menjadi imam di waktu itu. Terdengar suara Danu yang indah dan jelas lafal demi lafalnya. Selesai berjamaah Danu melihat ibu-ibu yang pernah memberinya kembalian uangnya ketika menjadi penumpang becak.

"Assalamualaikum Ibu?" (Salam Danu pada ibu itu)

"Waalaikumsalam, kamu siapa ya?" (Ibu tersebut tidak mengenali Danu)

"Saya Danu Bu, yang dulu menjadi tukang becak, dan Ibulah yang memberikan saya kembaliannya"(Penjelasan Danu pada ibu tersebut)

"Oh kamu yang dulu tukang becak di waktu itu?" (Ibu itu terkejut dengan keadaan Danu yang berubah drastis)

"Iya Bu, ini saya" (Jawab Danu dengan penuh tawadhu)

"Ya Allah, dulu kamu masih anak SMA sekarang kamu menjadi imam di masjid ini. Subhanaallah" (Kekaguman ibu itu pada Danu)

"Alhamdulillah, Allah mengubah jalan hidup kami sekeluarga Bu. Allah memberikan kami hidup yang lebih lancar dari pada dahulu" (Ungkap Danu kembali)

"Bagaimana critanya nak?" (Rasa penasaran ibu itu)

Danu menceritakan semua apa yang dia lakukan selama ini, ternyata lulus SMA Danu mendapat beasiswa ke luar negeri, tepatnya Mesir.

Kemudian Danu pulang dengan berbagai prestasi yang telah dia raih, dia diminta untuk menjadi ustadz dan imam di masjid dan Danupun tidak menolak sama sekali.

"Danu dimana rumahmu nak?" (Ibu tersebut ingin mengunjungi keluarga Danu)

"Mari Bu, sekalian saya mau pulang"(Sampailah Danu dan ibu tersebut di rumah Danu yang sederhana).

"Silahkan masuk Bu" (Ajakan Danu pada ibu itu)

"Iya terimakasih nak, dimana ibu kamu?"

"Ibu sedang umrah Bu" (Jawab Danu)

"Subhanallah" (Ketakjuban ibu tersebut)


Ditengah-tengah perbincangan mereka, ada obrolan yang serius yaitu

"Danu, Ibu mempunyai seorang anak perempuan. Dia bernama Ulya, Ibu ingin jika kamu menjadi pasangan hidupnya"(Permintaan ibu itu yang mengagetkan Danu)

"Apakah saya pantas mendapatkan anak Ibu, yang serba kecukupan dan terhormat di masyarakat" (Kerendahan hati Danu)

"Nak, cepat lebih baik" (Ucap ibu itu singkat padat jelas)

Beberapa bulan kemudian ibu Danu pulang dari tanah suci, kemudian Danu menceritakan tentang permintaan ibu yang dia kenal sudah lama, mengenai seorang anak perempuannya.

"Apakah kamu sudah siap nak?"(Pertanyaan ibu Danu)

"InsyaAllah siap Bu" (Sambil menundukkan kepala)

"Ya sudah, besok kita siap-siap datang ke rumah beliau" (Ucap ibu Danu)

Keesokan harinya

"Assalamualaikum" (Salam Danu di rumah rumah beliau)

"Waalaikumsalam, eh nak Danu dan Ibu

Silahkan masuk" (Ajakan masuk rumah ibu itu)

"Jadi kedatangan saya dan ibu saya kesini, untuk meminang anak perempuan Ibu" (Padahal Danu belum, bahkan tidak pernah bertemu dengan putrinya. Tapi Danu yakin dengan keputusannya).

"Baiklah" (Tanggapan ibu tersebut)

"Dimanakah calon istri ku Bu?" (Tanya Danu kebingungan)

"Ulya, kesini nak" (Panggilan ibu tersebut kepada anaknya)

"Iya Bu" (Ulya menatap Danu, dengan penuh pandangan hati. Sebab mereka berdua seperti saling bertemu sebelumnya)

"Ulya, ini calon kamu nak, Danu namanya"

Ulya bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya, Danupun merasa ada yang aneh pada keadaannya. Ternyata mereka berdua pernah berjumpa sebelumnya, ketika Danu menolong Ulya yang hampir ketabrak motor. Kemudian Danu menceritakan semua itu pada ibu Ulya.

"Oh, begitu ceritanya" (Ibu Ulya merasa bahagia, ternyata pilihan untuk putri kesayangannya tidak salah)

"Itulah keajaiban Allah dalam mengatur skenario ini, ternyata di atas langit ada langit, dan ada cerita lika-liku di bawah kaki langit" (Ucap Ulya kemudian)

Tidak menunggu waktu yang lama, satu minggu kemudian mereka merayakan hari pernikahannya dengan bahagia dan bismillah.