Lokomotif bernomor tangki C-12 pabrikan Jerman itu meraung-raung tiada henti. Asap legamnya tebal membumbung tinggi. Pertanda pembakaran ketel uap segera berakhir. Rem roda besi berderit keras. 

Seketika menghentikan rangkaian gerbong penumpang yang panjang itu. Sebuah titik pemberhentian yang tak asing lagi bagi si Tuan Meneer, Stasiun Semarang!

Herman bangkit dari duduknya. Bergegas menerobos antrean. Sudah tak sabar lagi untuk injak bumi Jawa Tengah. Rindu setengah mati setelah beberapa tahun telah ditinggalkannya.

Indische!!” teriaknya sambil meloncat ke udara. Sedikit membuat kegaduhan di siang itu. Para kuli angkut stasiun tersita olehnya. 

Beberapa penumpang juga seolah ikut tersihir. Senyum mengembang di bibir mereka masing-masing. 

Mungkin di dalam pikiran mereka, baru kali ini melihat seorang tuan meneer yang begitu riang menyebut “Hindia Belanda!”. Tak seperti rutinitas, ketika wajah-wajah penjajah menunjukkan mimik wajah yang kaku dan seram.

“Tuan Herman?”
“Tejo?”

Keduanya yang tak saling kenal itu berangkulan. Bak gestur kerinduan dua sahabat yang lama berpisah. 

Baru kali ini seorang pribumi dimuliakan seperti itu. Tak seperti biasa, merunduk-runduk ampun memelas. 

Tejo yang Jawa dan Tuan Herman yang Belanda telah mendobrak pakem kolonial di stasiun Semarang siang itu. Menjadi sebuah pemandangan yang indah. Kerinduan akan kesetaraan sosial.

Tanpa diduga Tejo tak kuasa mencucurkan air mata. Entah karena penghormatan seperti itu atau sebab lain. Yang pasti sekaan kucuran air matanya membasahi lengan kemejanya yang rapi itu.

Tidak ada hubungan kekerabatan sedikitpun antara keduanya. Pun tidak ada hubungan jabatan. 

Tuan Herman melihat tetesan air matanya. Beginikah kelembutan pribumi? Berkecamuklah dalam pikirannya. Apa yang sedang ia sedu-sedankan.

Dia hanya tahu ciri perawakan dan perwatakan Tejo dari cerita surat-surat Bundanya yang dikirim ke Belanda. 

Pun, begitu Tejo, mendapatkan kejelasan wajah dan mimik khasnya dari cerita sang Bunda yang tiap hari tanpa henti membicarakan anak kesayangannya.

Hari itu Tuan Herman pulang ke Indonesia. Setelah lama mengenyam pendidikan arsitektur di Technische Hoogeschool negeri Belanda. 

Bundanya seorang wanita Jawa. Sedang ayahandanya seorang Belanda. Pengampu mata kuliah filsafat di Universitas Leiden. Tentu status Tuan Herman kini menjadi seorang peranakan atau Nederlander.

Sedang Tejo, pemuda sopan asli Magelang yang sudah lama mengabdi sebagai sopir pribadi Ibunda Tuan Herman..

“Ibunda Tuan sangat merindui. Cepat-cepatlah, Tuan!”
“Saya juga!”

Keduanya menaiki mobil Horch produksi terbaru tahun 1932. Mereka menuju Magelang. Tempat kediaman sang Bunda tercinta.

Tejo mengemudi sambil terus bercakap tentang sang Bunda. Dia bersemangat menceritakan seorang ibu yang merindui putranya. Seorang ibu yang ingin anaknya menetap di bumi pertiwi. Seorang ibu yang lahir dari darah pribuminya.

“Tuan warga Magelang diserang hantu hitam,” kata Tejo sambil membuang lintingan tembakau yang tergapit dijemarinya.

“Saudara laki saya juga!” lanjutnya. Meledaklah tangis si Tejo.
“Hantu hitam?”
“Tuanlah orangnya yang bisa hadapi si Hantu Hitam” jelas si Tejo berkaca-kaca.
“Saya?”
“Iya. Itu firasat Bunda, Tuan. Beliau cerita bahwa Tuanlah orangnya!”

Tuan Herman makin terheran hanya mematung. Mendekap topi bundarnya di dada. Diserang rasa penasaran yang dalam tentang hantu hitam yang menyerang warga Magelang.

Inilah yang membuat Tejo terisak di stasiun tadi. Rupanya harapan besar kepada Tuan Herman atas wabah yang menimpa warga. Termasuk saudara lakinya yang kini masih terbaring sakit. Diserang si Hantu Hitam!

Sementara di rumah saudara laki Tejo tampak asap memenuhi ruang tamu. Rumah sederhana beratap rumbia dan berlantai tanah itu suasananya begitu suram. Cahaya matahari terhalang menerobos ke dalam ruangan. 

Di atas dipan ruang tamu tersebut terbaringlah si Aryo, saudara Tejo. Sudah seminggu menggigil dan tersengal napasnya. 

Di samping dipan tersedia seember pasir dengan banyak bercak ludah warna merah. Batuk darah! Kini tubuhnya tinggal tulang.

Lelaki berbaju hitam-hitam itu terus mengipasi arang. Asap makin pekat beriring bau menyengat. Mulutnya komat-kamit. Membaca mantra sakti.

Ponang getih ing rahina wengi,
anggrowangi Gusti kang kuwasa,
andadekaken kersane,
puser kuwasanipun,
nguyu – uyu sembawa mami,
nuruti ing paneda, kuwasaniro,
jangkep kadangingsun papat,
kalimane pancer wus dadi sawiji,
nunggal sawujudingwang.

Tejo yang duduk di sampingnya sudah kehabisan air mata. Harapannya adalah firasat Bunda Tuan Herman segera terlaksana. 

Sudah seminggu menanti apa yang akan dilakukan Tuan Herman. Hari-hari dilaluinya dengan berat. Rasa was-was serangan hantu hitam makin mencekam. 

Sedang di rumah bunda tuan Herman beberapa orang Belanda berkumpul. Ruang tengah itu nampak asri. Bercat putih bersih. 

Beberapa peralatan gamelan tertata rapi di sudut ruangan. Itu semua koleksi tuan Herman. Dibelinya saat sebelum balik ke Belanda meneruskan kuliahnya. Di tengah ruangan ada meja marmer bear. Di atasnya terhampar peta Magelang. Empat orang berdiri serius mamandang ke peta.

“Tidak ada si Hantu Hitam itu!” tegas Tuan Herman memecah kesenyapan.
“Jadi ini lokasi proyekmu, Her?” tanya McLaine.
“Benar!” jawabnya mantap.

Ujung jari McLaine menunjuk tanah kosong dengan luas sekitar 2 hektar. Titik di sebuah dataran tinggi yang berjarak lebih kurang satu kilometer sebelah barat alun-alun kota Magelang. 

Topografinya berkontur serta berudara sejuk. Cukup leluasa mendapatkan keindahan panorama gunung Sindoro dan Sumbing serta sungai Progo. 

Entah apa rencana Tuan Herman dan kawan-kawannya terhadap wilayah yang ditunjuk di peta itu.

“Sudah yakin dengan rencanamu, Nak?” tanya sang Bunda yang sedari tadi sibuk di dapur membuat sop senerek. Sebuah kuliner paduan daging dan taburan kacang merah khas Magelang.

“Yakin Bunda!” jawab Tuan Herman mantap.
“Besok ajak si Tejo untuk penyuluhan ke penduduk.”
“Baik Bunda.”

“Berbaktilah kepada Jawa tengah. Darah pribumi mengalir di tubuhnu! Gunakan ilmu arsitekmu yang kau timba dari negeri Belanda. Berbaktilah dengan jiwa patriot yang agung!”

Suasana mendadak khidmat. Tuan McLaine, Meneer Van de Bosch, dan Kapiten Hendrik cepat-cepat menghentikan suapan soto senerek-nya. Mendengar seksama kata-kata wanita pribumi yang berbudi itu.

“Bagaimana tipe bangunannya?” tanya Kapiten Hendrik.
Gaya Landhuizen!” jawab tegas Tuan Herman.
“Apa gak menyalahi itu?”
“Tidak! Arsitektur Landhuizen harus tetap saya pertahankan sebagai penghormatan budaya lokal. Ini bukan menaruh Eropa di Jawa!”

“Maksudnya?”
“Jawa adalah Jawa, bukan Belanda. Harus berbentuk limasan, lantainya menggunakan traso, dan berkayu jati.”
“Untuk menara airnya?”
“Segi enam belas.”

Keesokan harinya, Tuan Herman bersama rekan mengumpulkan warga yang diserang hantu hitam. 

Diajaklah si Tejo sebagai penggenap tim. Di pagi yang cerah itu Tuan Herman mulai berpidato di tanah lapang yang sudah dipersiapkan.

“Saudara-saudara ini bukan hantu hitam!”
Suasana sedikit gaduh. Penduduk setempat masih memegang kuat tahayul-tahayul penyebab kematian.

Tejo maju ke depan menenangkan mereka.
“Kita dengarkan dulu penjelasan Tuan Herman.”
Dengan sabar Tuan Herman kembali memberikan penyuluhan.

“Saudaraku, kalian terserang wabah pes! Bukan hantu hitam! Benar warnanya hitam tikus-tikus yang merebak di atap rumbia rumah saudara. Dialah yang membawa biang penyakit pes tersebut."

Tanpa diduga lelaki berbaju hitam-hitam maju kedepan. Mengacungkan parang tinggi-tinggi. Bhirowo, lelaki yang kemarin berusaha mengobati saudara laki si Tejo.

“Bangsat!” umpatnya keras-keras.
“Tenang, Kang!” Tejo berusaha mendinginkan hari lelaki itu.

Suasana kacau......
“Saya tak akan meninggalkan arsitektur Jawa!” seru Tuan Herman di tengah asyiknya mendedah rencana pemberantasan wabah pes.

“Jawa adalah Jawa bukan Belanda!” Kapiten Herman mengulangi petikan yang diucapkannya kemarin.

Kata-kata itu seolah menampar Bhirowo yang selama ini berpandangan negatif terhadap Tuan Herman. Ternyata beliau sangat menghormati kearifan lokal.

Akhirnya penduduk makin bersimpati dengan program-program pemberantasan pes yang mewabah di Magelang saat itu. 

Hingga akhirnya hunian yang dirancangnya diberi nama “Kwarasan” yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti kesehatan.

Tuan Herman juga membangun menara air yang bersumber dari Kalegen dan Wulung di bawah Lereng Gunung Sumbing Bandongan. Kini berdiri kokoh di alun-alun Magelang sebagai sarana perbaikan kebutuhan air bersih pendukung pemberantasan wabah pes.

“Kini kau sudah pulang ke rumahmu nak, Jawa Tengah!” ucap sang Bunda yang turut hadir meresmikan hunian sehat di Kwarasan.