Seperti orang Lamongan pada umumnya, saya adalah perantau. Bagi saya, merantau adalah hal menyenangkan kedua setelah jatuh cinta. Saya sudah pernah merantau ke beberapa kota seperti Tuban, Gresik, Malang, dan Jogja.

Dalam perjalanannya, tentu saja merantau tidak selalu bahagia, pasti ada momen di mana kita merasa kesusahan, seperti adaptasi lingkungan, mencari teman baru, mencari makanan murah, atau menghafalkan jalan agar tidak selalu mengandalkan GPS. 

Namun yang paling menyebalkan dari semuanya adalah respon orang-orang ketika saya memperkenalkan asal kota (Lamongan), pasti ada saja yang nyeletuk “wah pecel lele”.

Beberapa di antaranya ada juga yang memberi sedikit humor kayak gini “oh Lamongan, deket dong, di samping rumah saya ada Lamongan, samping sana juga, itu tuh pecel lele”.

Krik-krik, lucunya maksain banget.

Hal yang paling menyebalkan adalah ketika mereka menggunakan Lamongan sebagai kata kerja. “ayo Lamongan yuk”, yang diartikan sebagai ajakan untuk makan di pecel lele Lamongan. Benar-benar ngajak berantem tuh orang kayak gitu.

Saya yang awalnya cuma senyum tipis, lama-lama geram juga. Hey tolonglah, Lamongan ini tidak hanya pecel lele saja, Hyung.

Memang perlu diakui bahwa pecel lele adalah makanan yang sangat populer di Indonesia. Hal ini disebabkan karena dua hal, pertama karakter orang Lamongan yang suka merantau, sehingga warung pecel lele ada di mana-mana. 

Kedua, karena skill memasak orang Lamongan (khususnya yang merantau) memang sangat jago, no debat.

Skill memasak tersebut terlihat dari berbagai makanan khas lainnya seperti soto, tahu campur, dan sebagainya. Yang mana makanan tersebut dikenal karena memiiki cita rasa yang benar-benar menggugah.

Dua hal tersebut menyebabkan “dakwah” pecel lele bisa diterima oleh masyarakat secara masif dan gembira. Saking familiarnya orang-orang dengan pecel lele Lamongan, dulu ketika Saddil Ramdhani masih bermain di Persela, ia sering diberi julukan oleh komentator dengan gocekan pecel lele.

Atas beberapa kejadian tersebut, ada saja orang yang mengklaim bahwa kriteria menantu idaman di Lamongan adalah pemilik warung pecel lele. Ini disebabkan karena warung pecel lele kebanyakan sangat laris sehingga bisnis ini dianggap sangat menggiurkan.

Tidak sedikit perantauan pecel lele yang kembali ke kampung halamannya dengan membawa mobil, motor, atau beberapa benda lainnya yang mencerminkan kesuksesan. Inilah yang menjadi latar belakang klaim tersebut.

Meski demikian, bagi saya klaim tersebut adalah salah besar. Masyarakat Lamongan memang suka merantau, entah ke luar kota atau luar negeri. Namun, penyumbang ekonomi terbesar di sana bukan dari orang jualan pecel lele, melainkan dari sektor dagang (pasar) dan perikanan.

Di Lamongan sendiri ada dua kecamatan yang dianggap paling sejahtera, yaitu kecamatan Babat dan Paciran. Kecamatan Babat yang dikenal sebagai penghasil wingko ini bisa sejahtera karena menjadi pusat perdagangan (pasar) yang sangat melegenda. 

Sedangkan kecamatan Paciran yang letaknya di pesisir pantai utara ini karena pemanfaatan laut mereka. Spesifik bicara tentang pemanfaatan laut, di kecamatan Paciran sendiri mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Dan pekerjaan tersebut sangatlah menjanjikan.

Biar saya kasih gambaran, kebanyakan nelayan di sana menggunakan perahu dan jaring yang agak besar. Jarak yang ditempuh juga lumayan jauh, sekali melaut membutuhkan sekitar 12 hari, atau dalam sebulan bisa 2x melaut.

Yang mengejutkan adalah rata-rata nelayan di sana dalam sekali melaut bisa mendapat kurang lebih 1,5 juta rupiah, atau dalam sebulan mereka mendapat penghasilan setara PNS, yakni 3 juta rupiah.

Ini menjadi menarik karena pendapatan 3 juta adalah milik awak kapal dengan jabatan paling rendah. Sedangkan kapten kapal, atau di sana disebut dengan “jeragan” bisa mendapat 10 juta rupiah sekali melaut, atau 20 juta rupiah tiap bulan. Ini setara dengan gaji Dekan salah satu perguruan tinggi di daerah Malang.

Sangat mencengangkan bukan? Mari bandingkan dengan penghasilan pecel lele! 

Saya bertanya pada beberapa teman saya yang pernah menggeluti bidang tersebut. Menurut pengakuannya, pedagang pecel lele yang tergolong sukses bisa memperoleh omset rata-rata sekitar 1,7 juta rupiah per hari. 

Tentunya tidak semua pedagang pecel lele berpenghasilan segitu, saya hanya mengambil beberapa sampel saja yang bisa mewakili.

Warung pecel lele yang bisa mendapatkan omset tersebut tentu saja akan sangat ramai, sehingga membutuhkan karyawan untuk membantu oprasionalnya. Dan tentu saja, karyawan tersebut harus digaji. 

Jika dihitung dari omset 1,7 juta tersebut, maka penghasilan bersihnya sekitar 500 ribu rupiah.

Artinya dalam sebulan, pendapatan bersih mereka kurang dari 15 juta rupiah saja. Kenapa saya sebut “saja” ? Karena ini adalah perbandingan. Banyak dan sedikit kan paket komparasi, jadi jangan fokus pada jumlahnya, tapi fokuslah pada perbandingannya.

Pedagang sukses pecel lele memang bisa menghasilkan sekitar 15 juta rupiah sebulan, namun jumlah tersebut masih kalah dengan nelayan sukses (jeragan) yang bisa menghasilkan 20 juta rupiah dalam sebulan.

Dan harus diakui bahwa pecel lele juga sebatas pekerjaan, bukan keajaiban. Karenanya tidak ada jaminan kesuksesan ketika menjadi pedagang pecel lele. Mereka bisa saja gulung tikar kapan pun.

Seperti halnya yang pernah dialami teman saya sendiri. Ia dulu pernah jualan pecel lele di Jakarta. Ironisnya selama hampir setahun, ia hanya bisa “menyelamatkan” uang tidak lebih dari 2 juta saja.

Sementara itu, dari kecermelangan profesi nelayan tersebut, banyak pekerjaan lain yang mulai bermunculan, salah satu yang paling menyerap tenaga kerja domestik adalah “ngorek” atau orang yang bertugas memilah dan mengkelompokkan ikan berdasarkan jenis dan ukuran.

Dulu ketika masih sekolah di Aliyah (setara SMA) teman saya sudah ikut “ngorek”, dan rata-rata diberi upah 50 ribu tiap harinya (yang beban kerjanya tidak sampai 8 jam). 

Artinya jika teman saya melakukan pekerjaan tersebut tiap hari­ , maka dalam sebulan bisa mendapatkan uang sekitar satu juta lima ratus ribu rupiah. Bayangkan betapa mengerikannya profesi tersebut.

Jadi, mulai saat ini, berhentilah mengaitkan Lamongan hanya dengan pecel lele saja.