Bagi mahasiswa di perguruan tinggi khususnya mereka yang ada di persimpangan kiri jalan, membaca teori-teori Marx adalah sebuah kewajiban yang harus ia lakukan selain tentunya beribadah bagi mereka yang meyakini keberadaan agama.

Itulah sebabnya kumpulan buku Marx khususnya magnus opusnya Das Capital adalah sebuah kitab bagi mereka yang percaya akan adanya sistem di mana tidak ada lagi penindasan yang terjadi akibat terbaginya kelas sosial. Sebut saja kelas borjuis atau pemilik sarana produksi dan kelas proletariat atau pekerja yang tidak mempunyai kepemilikan apa-apa, selain tenaga kerjanya itu sendiri.

Sistem yang dicita-citakan Marx dan diikuti para mahasiswa di persimpangan kiri jalan itu ialah komunisme. Sistem sosial ekonomi politik di mana tidak ada lagi keberadaan kelas yang memicu munculnya penindasan atau eksploitasi yang dilakukan kelas borjuis kepada kelas proletariat. Teori Marx perihal eksploitasi itu disebut dengan teori nilai lebih.

Tetapi dalam sejarahnya, wacana komunis dan seluruh simbol yang menyertainya dijadikan musuh bersama oleh pemerintahan orde baru, termasuk pemerintahan era Jokowi sekarang.

Apa pasal? Ialah karena wacana komunis yang diklaim mengganggu keberadaan ideologi Pancasila. Selain itu juga pastinya karena kelamnya stigma organisasi yang pernah berjaya di Indonesia.

Apalagi kalau bukan PKI, yang dituduh sebagai pembunuh 7 Jenderal TNI di masa transisi orde lama ke orde baru. Sebuah catatan sejarah yang diproduksi pemerintahan Soeharto, entah melalui film, budaya, hukum, dan beberapa cara lain dan anehnya wacana ini tetap diproduksi sampai saat ini.

Ini terlihat dengan beberapa hari yang lalu ditemukan bendera Indonesia yang telah ditambahkan dengan logo palu arit yang diinsinuasikan sebagai logo komunis ataupun bahkan PKI. Ini terjadi di kota Makassar, tepatnya di kampus Universitas Hasanuddin.

Dilansir dari detiknews.com, Ishak Rahman selaku Kepala Humas Universitas Hasanuddin mengatakan bahwa awalnya bendera tersebut didapatkan pihak keamanan saat berpatroli. Ia melanjutkan bahwa saat ini telah ditangani lebih lanjut oleh aparat keamanan, “Iya, itu sudah lama 11 April kemarin, sudah ditangani aparat keamanan,” imbuhnya

Berita viral ini mendapat respons yang beragam dari masyarakat. Di satu sisi ada yang tidak mempermasalahkan fenomena itu, di sisi lain bahkan bisa dikatakan sebagian besar menuntut agar pelaku penulisan logo PKI di bendera Indonesia itu wajib dijebloskan penjara.

Salah satunya datang dari pelapor atas kasus ini, yaitu Zulkifli, selaku ketua Brigade Muslim Indonesia (BMI). Dilansir dari Vivanews.com, ia mengharapkan kepolisian menindaklanjuti laporan tersebut sekaligus mengusut dan menangkap para pelaku.

“Pelaku harus ditangkap dan diproses. Pihak kampus Unhas Makassar pun harus memberikan sanksi dan hukuman apabila memang ada orang dalam terlibat, baik mahasiswa ataupun lainnya,” tegas Zulkifli.

Saya belum bisa mengetahui apakah ketika bendera Indonesia itu dituliskan logo palu arit bisa menjadi tindak pidana, yang ingin saya soroti adalah pernyataan lain dari bung Zulkifli.

Ia mengatakan bahwa munculnya kejadian ini dikarenakan kampus adalah salah satu sasaran empuk perkembangan paham komunis, dan juga tempat bersemainya cinta negara.

“Kita berharap pihak Unhas bisa kooperatif membantu aparat untuk menuntaskan masalah ini, karena ini harus menjadi pelajaran kepada seluruh kampus agar berhati-hati pada kajian mahasiswa yang diduga bisa menyebarkan dan mengembalikan paham komunis, marxis, dan leninisme di Indonesia, terutama di Makassar,” imbuhnya.

Saya bersepakat sekaligus tidak bersepakat atas pernyataannya. Saya sepakat bahwa kampus adalah tempat disebarluaskan berbagai macam pengetahuan termasuk pengetahuan tentang komunis, marxis, dan leninisme.

Tetapi, saya tidak sepakat disclaimer yang dikatakan Zulkifli dengan stigma mengatakan bahwa kampus harus berhati-hati, agar paham komunis, marxis, dan leninisme tidak disebarluaskan dan dikembalikan lagi seperti saat PKI muncul,

Saya sebagai mahasiswa yang pernah berkuliah di sana, Universitas Hasanuddin, merasakan dampak positif diadakannya kajian diskusi dengan mengangkat teori Marx, termasuk paham komunis dan lenin.

Saya mengatakan itu karena teori Marx yang berisikan gagasan besar untuk memihak pada kelas tertindas menjadi sebuah pengetahuan bagi para mahasiswa dalam membuat agenda praktis turun ke jalan memperjuangkan kemenangan rakyat pekerja akan ketertindasannya dari sistem kapitalisme.

Atas dasar itu juga saya memiliki opini perihal fenomena bendera Indonesia dengan logo palu arit, yaitu: Pertama: jika memang dalam hal ini fenomena bendera Indonesia dengan logo palu arit itu pelakunya adalah para mahasiswa.

Saya melihatnya ini adalah sebuah simbol keresahan bahkan kemarahan mahasiswa akan ketertindasan yang dialami rakyat Indonesia akibat sistem ekonomi kapitalisme neoliberal yang berkiblat pada mekanisme pasar. Dan telah menjadi corak sistem ekonomi dominan pemerintahan Indonesia saat ini.

Kedua: bendera Merah Putih yang ditambahkan logo palu arit yang didapatkan di Unhas juga adalah makna simbolik yang ingin disampaikan mahasiswa atau apapun status pelakunya sebagai simbol keinginan yang telah tertahan lama dalam cita-cita mewujudkan keadilan sosial.

Dalam hal ini bermakna komunisme. Perlu menjadi catatan khusus bahwa komunisme bermakna sistem sosial ekonomi politik dengan tujuan mewujudkan dunia tanpa kelas dan tanpa penindasan.

Ketiga: Mencuatnya kasus ini juga membuktikan minimnya literasi masyarakat Indonesia yang memberikan pendapat dengan menyalahkan berkembangnya sebuah aliran pemikiran dalam hal ini komunisme. Hanya karena peristiwa PKI di masa lalu dan stigma-stigma yang membawanya salah satunya yaitu komunis adalah ateis.

Sudah saatnya bagi siapapun berhenti menghakimi pikiran. Apalagi pikiran itu sendiri yang dihakimi tidak dimengerti oleh mereka yang menghakimi pikiran itu.

Sebelum saya tutup tulisan ini, sekadar mengingatkan bahwa apa yang saya sampaikan di sini hanyalah sekedar opini subjektif belaka dan tidak punya motif menggulingkan kekuasaan apalagi mengganti ideologi Pancasila.

Tulisan ini hanya sekadar membuat kita harus mulai mencoba untuk mempelajari sesuatu lebih dulu sebelum menstigmakan pada apa yang belum diketahui, termasuk isu komunis dan segala bentuk simbol yang menyertainya.

Terakhir saya punya pertanyaan untuk yang takut pada isu kebangkitan PKI, karena dalih akan mengganggu ideologi Pancasila. Pertanyaan saya singkat, memangnya di dalam Pancasila apa yang bertentangan dengan paham komunis sehingga akan mengganggu ideologi Pancasila?

Sebelum dijawab, sebaiknya membaca dulu ya, minimal definisi teoritis perihal komunis. Selamat untuk mulai rajin membaca dan salam NKRI harga mati!