Mahasiswa
2 minggu lalu · 77 view · 23 min baca menit baca · Cerpen 97685_36557.jpg
Dok. Pribadi

Lalie Djiwo 1903

Alat navigasi berbasis satelit milik si Lumen baru saja dihidupkan. GPS genggam seri terbaru miliknya sudah tujuh jam lebih tak aktif. Menandakan pemiliknya paham akan jalur pendakian, tak perlu bimbingan sebuah navigator. 

Sekali pencetan lembut, menyala sudah layarnya. Berpendar warna monokrom tajam, menyorot wajahnya yang berpeluh deras. Pantulan sinar liar mengukir mimik wajahnya menjadi bayangan gelap dan terang, terlihat seram.

Gawai nir kabel yang baru saja dibelinya kemarin lusa itu menampilkan informasi posisi ia berdiri sekarang. Tepatnya sebuah titik koordinat lanskap. Mata Lumen tak berkedip menatap, walau silau. Tetiba kernyit dahinya muncul, pertanda ia berfikir keras baca informasi geospasial yang tampil di layar. 

Nampak ruwet, dengan deretan angka-angka yang menunjukkan besaran derajat hasil olahan gadget yang didukungan oleh 27 sinyal satelit itu. Ternyata baru kali ini si Lumen bawa GPS genggam. Biasanya hanya pakai peta kontur dan kompas magnetik.  

“Wah, kok tampilan koordinatnya berjenis derajat-desimal?”

“Terus ubah ke koordinat jenis derajat-menit-detiknya gimana?”

“Pahamku cuma itu.”

“Ah!”

Sementara nun jauh di sana, tampak deretan sorot headlamp yang beriringan. Sembilan anggota timnya tertinggal, terseok-seok telusuri jalur pendakian. Membentuk rangkaian konvoi dengan kerlip cahaya indah dipermainkan pekat kabut. 

Lengkap sudah mereka melukis seram malam, saat bayangan-bayangan hitam itu berjalan pelan, berat terbeban oleh tas-tas punggung maha berat, bak zombie.

Menanti mendekat, Lumen sang ketua tim kembali memperhatikan titik koordinat tadi. Sembari duduk asyik di bongkah andesit. Berharap agar jarak tak makin jauh dari mereka. Tangannya mulai meraba saku jaket. Tanda menyerah, ambil peta kontur dan mencontek! 

Di peta terlihat dengan jelas titik koordinat yang dia pikirkan tadi. Tertulis dengan warna merah mencolok, ‘Pondok Welirang’. Sebuah lembah luas berisi gubuk-gubuk penambang belerang untuk rehat dan menimbun hasil galiannya.

“Semestinya Pondok Welirang berposisi di bilangan 7 derajat, 44 menit, 35,88 detik Lintang Selatan dan 112 derajat, 35 menit, 42,30 detik Bujur Timur. Kok melenceng ya?” Lumen protes keakurasian GPS genggamnya. 

Dasar pendaki milenial, manja dengan segebok peranti nir kabel, over koreksi. Namanya juga geospasial, kadang kacau oleh lebatnya kanopi hutan sub montana. Sinyal satelit bisa saja mabuk dan ambruk. Takluk oleh alam.

“Kita pacu atau nge-flying camp?” tawar Lumen sok kuat. Temannya mulai berdatangan, termasuk Angga, sang wakil.

“Lanjut saja ke titik koordinat berikutnya,” saran Angga yang juga seorang middle.

“Siap!” basa-basi mereka.

“Duh lanjut,” kesah Katerina, anggota tim jago sastra, kadang norak timang rasa.

“Santai Rin,” hibur si Jono, jomlo perlente dengan rambut khas super klimis, lengket sekaleng pomade.

“Sok perhatian,” Katerina sewot.

“Yang kuperhatikan cuma gemintang di atas tuh,” Jono nyengir sambil menunjuk ke langit cerah.

“Sok puitis. Itu belum tentu bintang. Siapa tahu pantulan planet.”

“Masa sih?”

“Iya.”

“Yakin?”

“Iya.”

“Romantis,” ucap Jono lirih sambil menyimpul senyum rahasia. Berhasil curi jawaban indah. Keduanya tampak goyang hati tapi sepatung, gapit rasa.

Sebenarnya jarak trekking dari Pondokan Welirang ke lembah Kijang hanya kurang lebih setengah jam. Namun bagi mereka terasa berat, karena sudah tujuh jam lebih memanggul tas punggung segede kulkas. Isinya? bibit cemara dan pinus! Ditambah lagi alat-alat kultivasi. 

Mereka juga wajib melahap ‘tanjakan asu yang sudah kesohor di kalangan pendaki jalur Tretes. Pendaki yang melintasi tanjakan panjang nan curam itu rata-rata berekspresi sewot serta berakhir dengan umpatan, asu ! Maka disebutlah ia tanjakan asu. 

Kontras sekali keadaan tim yang sudah babak belur malam itu jika dibandingkan dengan pesta meriah di bawah sana. Di sebuah zona nyaman, kota kecil, Tretes namanya. Kota dingin di kaki gunung Arjuno yang terkenal wisata malamnya.  

“Ayo kawan!”

“Moda tempo pacu 50!”

Lumen memberi kode laju jalan. Artinya lima puluh langkah baru boleh berhenti, tarik nafas secukupnya dan lanjut lagi, bayangkan. Namun mereka tak kenal menyerah, keluh kesah boleh, seperti si Katernia tadi. 

Tak ada demokrasi dalam misi pendakian krusial. Aklamasi jelas tak laku di ganas rimba raya. Jam terbang tinggi adalah raja, lainnya wajib ngekor. Tanya kenapa? Raja lebih hommy. 

Perjalanan berlanjut, namun kali ini penuh dengan bunyi gedebuk. Rupanya ada tiga anggota tim terperosok. Satu di sebuah lubang bekas batuan tercabut, satunya tersandung akar, dan satunya lagi tanpa sebab yang jelas. 

Alhasil terjadi adegan tarik-menarik saling membantu untuk bangkit. Sebaik-baik pelatihan fisik ala serdadu manapun, kalau sudah kantuk ya tetaplah kantuk, lelah tetaplah lelah. Dua hal yang tak bisa diajak kompromi.

Beda dengan si Lumen, melaju sendiri di depan. Seperti yang sudah-sudah, meninggalkan teman-temannya! GPS genggamnya bak sebuah jimat, menjadi sugesti untuk melaju kencang. Sesekali berhenti, matanya ketagihan mengoreksi keakurasian GPS genggam barunya. 

Namun kali ini ia sudah tidak mengeluarkan peta kontur, tidak nyontek lagi. Sepertinya mulai terlatih dan paham pengoperasian navigator besutan negeri Paman Sam tersebut.

“Lembah Kijang, kawan kita sampai!” teriak Lumen pecahkan sunyi dini hari. Padahal temannya masih jauh di belakang, mana dengar. Baginya itu mungkin sebuah selebrasi, atau sekedar memompa semangat mereka yang tertinggal. 

Di depannya kini terhampar luas sebuah sabana. Itulah lembah Kijang, spot yang instagramable banget bagi pecandu swafoto media sosial.

“Ayo cepat !”

“Lupakan perihnya!”

“Berjalanlah segagah Arjuno!”

“Perhatikan langkah, jangan jatuh terus!”

Setengah gila Lumen kembali berteriak agar didengar teman-temannya yang mulai sayup-sayup terdengar derapnya. Lumen kesetanan sendiri, gembira, berjingkrak ala penembang lagu cadas, kelebihan endorfin, surplus adrenalin. 

Bagi mereka gunung Arjuno itu istimewa, sebuah gunung purba yang dormant. Memiliki puncak tenar bernama Watu Ogal-agilDia gunung tertinggi nomer dua di Jawa Timur, setelah Semeru. Keduanya berdiri gagah menyundul langit biru.

Selang sesaat kemudian, mereka lengkap berkumpul bersama sang ketua. Sebuah tim tangguh yang solid. Gigih bangkit dari tersungkur. Terus bertahan, walau sengal napas sudah level bengek. 

Jika boleh diapresiasi, bunyi gedebuk yang mengiringi jatuh bangunnya mereka adalah suara alam yang jantan. Jauh melampaui dari gegap gempitanya alunan musik rancak sebuah diskotik. Tempat para direksi korporat illegal logging melepas lelah, asem !

Para pegiat mountaineering itu mulai pelan-pelan tersihir dan terninabobokkan oleh empuknya rumput lembah Kijang yang lembut saat melintasinya. Rasa kantuk hebat! Kalau bukan karena kedisiplinan, mereka siap dan rela menghunjamkan tubuh-tubuh lelahnya ke rumput bak kasur busa itu.

“Ayo lima menit lagi sampai di pertengahan. Rehat dan sholat subuh,” bujuk Lumen. Jarak mereka mulai saling berhimpitan, mencoba saling dukung, saling galang.Agar  cepat sampai di pertengahan lembah, rebahkan tubuh.

“Cek barisan!” kembali Lumen beraba-aba khas ranger. Sebelum mereka benar-benar boleh merebah tubuh, ini protokoler cek kelengkapan anggota.

Middle lengkap !” teriak Angga.

Sweeper lengkap!” seru Lucid.

Di musim kemarau justru terjadi anomali temperatur di area lembah Kijang. Ketika suhu lebih ekstrim ketimbang musim penghujan. Mereka harus tetap bergerak agar suhu homeostatis tubuh terjaga. Teknik ini sudah masuk dalam standar operasi gunung dengan sebutan ‘kekekalan pergerakan’. 

Sebuah pakem aplikatif untuk cegah serangan hipotermia yang mematikan. Selang sesaat kemudian genaplah sudah dua rekaat subuh berjamaah. Solat diselesaikan dalam kecepatan super, secepat-cepaatnya. Tak akan khusyuk dalam dekap beku lembah Kijang. Tuhan Maha Tahu.

Bumi hijau!” pekik Lumen awali pergerakan lanjutan tim yang akan menuju area perkemahan di ujung lembah.

“Lestari!” respon mereka serempak. Entah akumulasi suara atau gaung tebing di depan, yel-yel terdengar menggelegar. Tim berjalan lagi, menuju campsite. 

Kali ini langkah mereka terlihat lebih cepat dari yang sudah-sudah. Mungkin karena semangat, atau karena tambahan kalori saat jeda solat tadi. Pasti curi-curi waktu untuk ngemil. Sang ketua terkenal disiplin waktu, no tea break! 

“Nis, satu dong,” pinta Lucid berbisik.

“Nih,” balas Nisa. Tangannya gemetar kedinginan sodorkan sebatang coklat mini dengan gerakan senyap ala operasi klandestin, agar tak kepergok Lumen. Sebagaimana pula mereka berdua senyap memasukkan sampah bekas bungkusnya ke saku celana muktipocket mereka masing-masing. 

Itulah fungsi multisaku, sebagian dicadangkan khusus sebagai tempat sampah yang portabel dan mobile. Pergerakan tim Lumen juga punya kode etik tersendiri saat menembus lembah Kijang yang terkenal sakral itu. 

Mereka berusaha menapak senyap. Sebagai penghormatan terhadap istirahatnya hewan-hewan diurnal. Serta jangan sampai mengganggu aktifitas hewan-hewan nokturnal. Tidak ada riuh sendau gurau, tidak ada berisik suara MP3, apalagi karaokean.

“Hmm harum buah cemara,” gumam Lumen.

Semerbak wanginya menyebarkan bau parfum alami. Wewangian yang biasa dicium orang kota dalam bentuk cairan pembersih lantai. Namapak dahan pohon cemara tak mau kalah menyambut mereka, bergoyang lembut. 

Di ufuk timur sana terlihat semburat fajar bak ekor serigala, sedang menyingsing, sinarnya terobos lebat pepohonan. Memberi efek spot candramawa yang indah dan damai, sungguh!

“Maaf mas, sampahnya tolong dikantongin ya,” si Lucid meminta sopan. Ternyata ada rombongan pendaki lain berlawanan arah. Buang sampah sembarangn tepat di dekat Lucid berjalan.

“Terserah saya mbak !!” reaksi ketus dari si mas tadi. Sebuah sarkas, mungkin lelah dia. Cukup nekat apa yang dilakukan si Lucid, menegur tanpa basa-basi. Tanpa didahului retorika khotbah pelestarian alam. Ceplas-ceplos! Selang sesaat kemudian tampak ia sendiri membungkuk pungut sampah itu.

"Kok terserah sih!!" amuk si Lucid, mulai terpancing tanpa kendali. Namun tanpa emosi ia memasukkan sampah plastik tadi ke kantong celana multipocket-nya.

"Ehh, memang anda petugas Jaga Wana!” respon panas sang pemuda norak sambil kacak pinggang.

"Hei mas! Mau ada petugas ataupun tidak, kantongin!”

“Bukan hanya tanggung jawab BKSDA saja untuk jaga kebersihan jalur pendakian. Dimanapun kantongin sampahmu!” labrak si Lucid.

Cuk! Ya gini kalau naik gunung cuma buru momen sunrise!” Lucid mengumpat khas Jawatimuran sambil membuang tasnya, maju ingin baku hantam! Wah!

Namun sungguh banci si pemuda, nampak mempercepat langkah, kabur, hilang di tikungan perdu.

“Sudah jangan marah,” lirih si Nisa yang berdiri mematung si sampingnya. Sedang yang lainnya, sama, kompromis mematung juga.

“Ia masih belia Cid,” tambah si Nisa, berlagak tritagonis.

“Dasar pendaki cabe-cabean!”  

“Bagaimana bisa lestari, kalau hal sekecil itu kita tidak bisa menjaganya!”

“Sabar.”

Setelah insiden kecil itu, Lucid kembali terkenang cerita bapaknya. Tentang indahnya lembah Kijang beberapa tahun silam. Bapaknya juga seorang pendaki gunung seperti dirinya. Namun ketika di era bapaknya, pendaki masih bisa menikmati suara auman anak-anak Panthera pardus melas yang kegirangan menyambut pagi. 

Dialah anak-anak si macan Kumbang Jawa, ikon alas Lali Jiwo. Kini suara itu hilang. Bersamaan dengan menurunnya habitat rusa di lembah Kijang. 

Lucid dan teman-temannya hanya bisa menikmati sisa-sisa kejayaan dan keindahan ekosistem lembah Kijang. Berupa suara ayam hutan. Itupun kalau beruntung. Kalau tidak, ya hanya suara burung-burung atau suara umpatan tadi.

Akhirnya tiba juga mereka di ujung lembah. Tempat yang bisa disebut sebagai surga bumi. Di situ ada mata air jernih dan tempat berkemah yang asri dan rindang.

Lumen berhenti mendadak, keseimbangannya hampir goyah, untung sigap.

“Awas lubang!” serunya.

“Ada apa Nis?” tanya Lucid di bagian paling belakang barisan yang nyaris tak mendengar suara peringatan sang ketua.

“Lubang.”

“Oh ini penampungan air minum rusa sisa jaman Belanda yang diceritakan bapakku tempo hari?”

“Ya,” jawab Nisa singkat.

Saat Belanda masih bercokol. Lembah Kijang dipakai tempat penangkaran rusa pun tempat para bangsawan Belanda melepas penat kota. Keindahan lembah Kidang sempat kesohor hingga Eropa. Kini reruntuhanan pondokan Belanda tersebut ada di depan mereka. Berupa puing-puing pondasi setinggi 50 sentimeter. 

Pondok kala itu bernama ‘Lalie Djiwo’, sesuai dengan sebutan hutan mistisnya. Di kalangan para pendaki, hutan Lali Jiwo disebut-sebut sebagai hutan sakral penuh pantangan, termasuk pakaian warna dominan merah.

Tanpa dikomando, mereka langsung menyerbu semburan air jernih yang memancar dari perpanjangan sebuah pipa besi. Gemerciknya memanjakan telinga. Berbarengan suara angin menderu-deru. Menghantam keras tebing yang berada di atas mereka. 

Khas bak seruling raksasa, seru mendayu. Lembah Kijang di era Belanda benar-benar layak disebut sebagai resor terindah di Asia Tenggara. Lembah Kijang bergelar Verrukkelijke. 

“Tiga tenda disini, dan dua lainnya di sana,” perintah Lumen sambil matanya terus mengawasi sekitar. Berusaha membagun imaji reruntuhan pondok untuk utuh menjadi ‘Lalie Djiwo 1903’.

“Baiklah silahkan kerjakan tugas masing-masing,” perintah si Lumen.

“Aman dari petir di sini Men?” tanya si Leo.

“Aman, masih banyak pohon tinggi di sekitar kita,” terang Lumen.

Mereka bergerak dengan tugas masing-masing. Lazimnya sebuah perkemahan, terlihat kesibukan memasak, mengambil gambar, mempelajari lanskap. Namun untuk kali ini mereka punya misi mulia. Kegiatan reboisasi dan pembersihan sampah. Spanduk pun sudah mereka pasang untuk melecut semangat. 

Gagah bertulis ‘Sedekah Pohon Lalie Djiwo 1903’. Lima tenda dome sudah sempurna berdiri. Adapun reboisasinya berfokus penanaman kembali pohon-pohon endemik yang mendukung ekosistim sabana lembah Kijang. 

Tak dapat disangkal penyebab jatuh bangunnya mereka saat berjalan tadi malam, ya karena bawaan mereka sangat berat! Disamping harus membawa perlengkapan EDC masing-masing pribadi, plus ketambahan beban bibit-bibit pohon.

Dalam kisaran radius setengah karvakmereka akan bekerja keras menanam bibit pohon. Sambil diselingi pengumpulan sampah di sekitar area perkemahan lembah Kijang. 

Peralatan taktikal kultivasi yang minimalis sudah mereka siapkan, ada sekop lipat, cangkul mini, pun ada golok Tramontina. Mereka mencoba untuk tetap bercakap-cakap sambil terus beraktivitas, agar tetap sadar dan untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.

“Ini kawasan cagar alam,” kata si Angga mengawali penghangatan suasana.

“Juga kawasan Tahura,” sambung si Nisa ceria.

“Apa Tahura?” tanya si Leo. Anggota baru yang sedikit kurang paham jenis-jenis dan nama area sadar kawasan.

“Taman Hutan Rakyat,” Lucid menjawab.

“Jangan lupa, ini juga kawasan hutan wisata yang mempunya banyak air terjun,” tambah si Lumen.

“Lengkap!” teriak si Ardi. Ia terlihat jongkok jauh disana. Semangat menggali lubang untuk bibit.

“Juga pusat situs-situs prasejarah,” si Jono menimpali.

“Nah ini yang unik!!” seru si Lolita.

“Kisah Arjuno sang pertapa,” celetuk si Andi dari kejahuan, radiusnya agak jauh dari kawan-kawannya. Andi bertugas menimbah air di bekas lubang penampungan air minum rusa.

Katerina adalah gadis peranakan Indo-Belanda, cantik bak noni-noni Walandi. Buyutnya saksi hidup keindahan lembah Kijang di masa kompeni. Katerina seorang mahasiswi jurusan sastra Jawa. Ia ingin membaktikan diri untuk sastra Jawa. Tak ayal, pagi itu ia ingin memuaskan dahaga sastranya.

Akhirnya sambil bersimpuh di rerumputan ia mulai menyanyikan tembang Jawa sebagai hadiah mistis bagi si molek lembah Kijang. Katerina mengambil tembang dari sebuah Suluk milik Sunan Kalijogo,

Dennya amrih wekasing urip

Dadya napsu ingobat kabanjur kalantur 

Eca dhahar lawan nendra  

Saking tyas awon poerang lan napsu neki    

Seketika semua terdiam. Hembusan angin lembah, nakalnya sang kabut, sedari tadi menebal dan menipis, menambah sketsa vintage suluknyaMembentuk mimik kebangkitan lembah Kijang di tahun 1903. 

Katerina terus menembang Jawa, sesekali suara soprano-nya tercekik oleh emosi jiwa, sambil mengibas-kibaskan rambut panjangnya. Nampak histeris, sesunggukan saat melewati bait ini,

Wonten setengah wanadri 
Gennya ingkang gurdagurda
Pan sawarsa ing lamin
Anulya kinene ngaluwat
pinendhen madyeng wana 
Setahun nulya dinudhuk 
dateng jeng suhunan benang

Jiwanya terhempas remuk redam di kilas balik ‘Lalie Djiwo 1903’. Saat lembah Kijang bersolek bak seorang putri Jawa di titik kemolekannya, tetiba saja dirampas oleh para meneer. 

Jemari lentik Katerina mengelus lembut timbunan tanah di sekitar bibit pohon. Mengguratkan alur-alur indah sebagai munajatMeminta dan meratap kepada Tuhannya agar sang bibit pohon tumbuh subur dan kokoh. Tiba saatnya penghujung suluk, sebagai penutup pintu munajat,

 Pan angidang lampah neki
Awor lan kidang manjangan
Atenapi yen asare pan aturu tumut
Lir kadya sutaning kidang

Beberapa temannya ada yang kurang paham bahasa Jawa kromo inggil. Menarik kesimpulan sendiri-sendiri terhadap arti suluknya. Termasuk memberi manifes-manifes mistis, menerawang jauh hingga jatuh pada kisah-kisah supranatural yang berlaku dan pakem di belantara Arjuno. 

Tentang area Pasar Setan, pusat bisnis makhluk ghaib atau tentang Watu Gede, tempat kuntilanak berkembang biak serta tempat-tempat wingit lainnya.

Satu lagi yang sudah viral. Acara ghaib makhlus halus yang disebut ngunduh mantu. Biasanya dibarengi dengan hilangnya seorang pendaki. Mungkin pendaki yang tidak jaga kode etik pecinta alam. Atau mereka yang kurang menghormati kearifan lokal. Atau bisa juga mereka yang memetik bunga Eidelweish. Pun bisa saja karena takdir-Nya. 

“Apa parafrase sulukmu tadi Rin?” tanya Jono membuyarkan rangkaian slide horor teman-temannya yang terlihat ekstasi sesaat.

“Bagian laku kijang menarik buatku,” lanjutnya sok romatis.

“Ah kamu, mentang-mentang berada di lembah Kijang,” ketus si Katerina.

“Hahahah si sinden sewot,” canda Jono.

“Kalau boleh kuparafrase,” sela Rudi yang tiba-tiba datang dari kejauhan sambil menenteng golok tramontina.

“Laku kijang adalah sejenis adaptasi norma antar dua kingdom, plantae dan animaliaAntara manusia dan Kijang. Ketika prilaku kita harus diinterferensikan dengan prilaku kijang. Hal ini tentunya mengarah ke hal alamiah. Seperti tidak merusak alam sekitar. Menjaga kelestarian sumber daya alamnya” jelasnya bersemangat.

Sepertinya Lucid juga tak mau kalah dengan suluk Katerina. Ia ingin menghibur lembah Kidang yang sudah tak perawan lagi, dengan kasidah Arab,

Al hawaau aliilAs samaa’u shoofiaha Ar riyahu saakinahAl Jibaalu ‘aaliyah 

Woooo…Woooo…Woooo

Matahari mulai terlihat menggeliat tinggi. Menyapu dataran hijau savana. Piring-piring mereka sudah menggunung, pertanda breaktime. Makan siang! Hurray! Menu bergizi, nasi, dendeng sapi dan kuah sop. Makanlah yang kenyang wahai para pencinta alam! Agar tubuhmu perkasa kawal ibu bumi!

 “Siapa lagi kalau bukan kalian yang jaga sabana ini,” Lumen mulai berkhotbah di sela-sela waktu istirahat. Nampak seekor burung elang melayang di atas, seakan ikut beraklamasi.

“Kalianlah para pendaki yang mampu terobos ketinggian yang beku ini.” lanjut Lumen heroik. Sesekali terlihat menggigil. Suhunya memang ekstrim. Walau siang hari, kadang jaket berbahan goretex pun berasa tembus dengan sapuan kabut. Kalau diakumulasi rata-rata, nampak sampah plastik yang terbanyak. 

Salah satunya sampah botol-botol plastik air mineral kemasan. Sungguh ironis, ketika para korporat pemilik industri minuman mineral menyematkan gambar gunung dan hutan di label-label kemasan, sementara itu pula botol-botol plastiknya menjadi sampah di gunung ini!

"Inilah sumber air utama yang disedot oleh industri air mineral di bawah sana," si Lucid menyambung pidato si Lumen sambil membuat gerakan teatrikal, meliuk-liukkan tubuhnya bak elang tanda protes terhadap penyedotan liar air tanah.

“Adakah salah satu dari wakil direksi korporat minuman kemasan botol tersebut sekedar menengok ke sini?”

“Adakah salah satu pemegang saham sekedar singgah di sini, memastikan lestarinya sumber-sumber dollar mereka?”

“Adakah salah seorang wakil sari agen-agen minuman isi ulang peduli di sini?”

Lucid terlihat mengoceh penuh tempramental sambil terus berteatrikal mengelilingi satu persatu teman-temannya dengan gerakan seorang gila.

"Pada ibu bumi kita berbakti...."

"Pada hijau daun kita harap embun..."

Lucid dan Lumen bersautan bersautan. 

"Untuk akar tunggang kita melanglang...."

"Untuk buana kita mengembara...."

Rina dan Rudi ikut berbalasan.

 “Tiada sampah tanpa tuannya..”

“Tiada tuan tanpa uangnya..”

Angga dan Katerina pun menyusul bertimpalan. Sungguh syahdu lembah Kijang siang itu. Mereka seolah ingin membangun lagi peradaban Lalie Djiwo 1903. 

Ujung sore berganti malam. Anggota tim memasuki tenda-tenda sambil membawa perasaan melankolisnya masing-masing. Tak lupa berdoa atas segala karunia-Nya. Tepat pukul 10 malam, mereka membuat api unggun dari ranting dan dahan-dahan yang telah kering berguguran di tanah. 

Tak satupun menebang ranting hidup. Apalagi batang pohonnya. Seperti yang telah dilakukan oknum-oknum ilegal logging. 

 “Sebaiknya papan informasi tentang dekomposisi sampah yang akan dipasang besok kita gunakan bahan alami saja,” ucap si Ardi membuka pembicaraan di tengah kobaran api unggun. Api mulai menyala besar, hangatkan mereka.

“Untuk pewarnaan papan dengan cat kimia, kita ganti saja dengan daun teh yang direndam. Sedang huruf-hurufnya kita gunakan rendaman kawat dan cuka yang sudah ku persiapkan dua minggu yang lalu,” si Leo menyambung.

“Jadi batal kita gunakan cat kimia untuk tulisan hurufnya?” tanya si Lucid.

“Lama dong prosesnya, sedang waktu kita terbatas,” lanjutnya.

“Kita kan keroyokan Cid,” sela si Leo.

“Paling lama setengah hari, jika cuaca mendukung,” tambahnya.

Tibalah hari kedua. Untuk kesekian kalinya mentari pagi menunaikan tugas solaris-nya. Membuat guratan ekor serigala sebagai penanda fajar khizb. Tegak meninggi ronanya. Seolah menggelitik petala langit. Lumen malas-malasan menjejak sleeping bag nya. Di kejauhan terdengar doppleris nada-nada penanda waktu subuh. 

Lumen sadar, ini bukan gunung soliter.. Ia dikelilingi perkampungan. Corong-corong dari menara terdengar sayup. Berlomba dengan kerapan udara. Kadang mayor, kadang minor. Indah seolah digoyang ombak. Lumen menoleh seperempat radial. 

Matanya menyapu ruang sempit tenda. Berusaha membuka pupil lebar-lebar untuk mendapatkan diagfragma agar cukup sinar. Remang-remang ia melihat si Angga yang membujur. Angga sempat terserang hipotermia di tengah malam tadi. Kini tubuhnya bergelung selimut termal aluninium foil. 

“Sudah enakan?” tanya Lumen.

“Ya,” ringkas si Angga.

Dua insan ini seolah ingin merencanakan strategi perburuan iblis-iblis polutan lembah Kijang. Nampak keduanya menatap peta kontur, seolah dua operator pasukan khusus. Sesekali tangan si Lumen yang memegang pensil memberi tanda titik di peta kontur tersebut, bak target serangan fajar.

 “Di titik ini besok kita pasang papan-papan penanda tentang informasi dekomposisi”

“Jadi semuanya empat titik?” tegas si Angga.

“Iya benar dan dua kubangan khusus untuk buang air besar.” 

“Kita kok ngurusin WC segala Men?”

“Ini penting, bukannya pendaki tidak mau menggembol kotorannya untuk dibawa turun ke bawah?”

“Hahahaha…..,” Angga terbahak.

“Hahahahaha……,” Lumen pun ikut gelak.

Diskusi pun berlanjut, bersamaan dengan berdatangan teman-temannya dari tenda-tenda sekitar. Angga kembali membuka buku catatannya. Sedang lainnya menyiapkan santap pagi. Angga mulai merunut daftar dekomposisi masing-masing sampah. 

Disitu tercatat jelas, sampah kain katun, termasuk celana dalam dan kaos kaki serta sarung tangan yang sering dibuang sembarangan oleh pendaki akan terurai selama enam bulan. Kotak sereal, kantong kertas bekas kudapan menu-menu Eropa yang biasa disantap pendaki membutuhkan 6 bulan untuk dekomposisi.

 “Ini yang paling parah Men,” ucap si Angga yang masih terlihat menggigil.

“Apa?”

“Sampah puntung rokok!”

Bukan rahasia lagi. Rata-rata pendaki adalah perokok berat. Puntungnya yang berfilter, 2 tahun baru teruarai.

“Ya, puntung bentuknya paling kecil. Namun intensitas buangnya tinggi. Rata-rata pendaki membawa dua bungkus rokok untuk pendakian satu hari. Bahkan mereka cenderung melebihkan stok, agar tak kekurangan.”

“Untuk lebih efektifnya, himbauan untuk menyediakan asbak portabel dan mobile dari botol bekas minuman energi yang digantung di pinggang harus makin digalakkan.”

“Ide yang bagus.” 

Diluar terdengar suara sandal gunung menapak, setengah berlari. Ah si Katerina rupanya. Telat bangun!

“Jangan lupa untuk menghubungi BKSDA bulan depan. Minta daftar vegetasi endemik yang bisa direboisasi,” Saran Katerina memotong pembicaraan. Wajahnya kusut pucat masam. Pasti habis begadang. Menulis novel berbasis pengalaman pendakiannya.  Pikirnya, siapa tahu ada lomba, dan menang. Lumayan hadiahnya buat modal reboisasi. 

Apa yang disarankan Katerina tadi adalah hal penting dalam sebuah program reboisasi independen. Daftar vegetasi endemik sangat diperlukan. Agar tidak salah membawa vegetasi intruduksi. Bisa-bisa malah menjadi gulma bagi vegetasi endemik. 

BKSDA bertanggung jawab mengawasi dan memantau peredaran tumbuhan dan satwa yang dilindungi di wilayahnya. Termasuk juga pantau upaya penangkaran dan pemeliharaan tumbuhan serta satwa dilindungi oleh perorangan, perusahaan dan lembaga-lembaga konservasi terkait. 

“Kantong plastik membutuhkan waktu 10 sampai 12 tahun untuk terurai. Botol plastik lebih lama lagi,” si Ardi menambahkan materi dekomposisi sampah plastik.

“Karena polimer-nya lebih komplek dan tebal, botol plastik memiliki waktu 20 tahun untuk hancur,” tambahnya.

“Bagaimana dengan sampah organik?” tanya si Lolita. Anggota tim yang paling baru bergabung dengan Wilderness Lali Jiwo. Nampak paling awam, sangat serius menyimak.

“Sampah organik ehmmmm..,” si Ardi berdehem.

“Coba Lucid jelaskan!” usil si Lumen. 

Dia paham Lucid malas kelas teori. Sering luput dan lupa. Namun temperamen untuk urusan melabrak, ia nomer satu. Bagi dia, pokoknya jangan buang sampah sembarangan, apapun jenisnya!

“Loe ngetes gue Men,” protes si Lucid dengan khas logat betawinya.

“Asal tahu ye, sampah yang berasal dari bahan alami seperti sayur, kulit buah, dan lain-lain akan hancur dalam hitungan hari atau minggu. Atau paling tidak kurang dari satu bulan. Sementara sampah kertas akan terurai dalam waktu dua sampai enam bulan” jawab si Lucid arogan.

“Mantap!” Lumen mulai menjilat. Sejurus kemudian nampak dengan manjanya Lucid meleparinya dengan boneka ilalang yang tadi siang dibuatnya dari bahan rumput lembah Kijang. Romantis sekali, entah bulliying atau blushing, yang pasti memperkokoh ungkapan Jawa yang sedikit dipelintir. Witing tresno jalaran soko nggelibet.

Mentari muncul sempurna dari ufuk timur, pagi pun bersuah. Mereka kembali bekerja di hari kedua untuk memasang papan informasi dekomposisi. Setelah beberapa titik di sekitaran lembah kijang kelar, mereka berjalan menjauh untuk capai titik Watu Gede.  

Mereka sampai di watu Watu Gede pukul tiga sore. Jalan makin menanjak. Sempat juga diiringi dan dihibur oleh uniknya gerakan anti gravitasi kabut. Membentuk koloni-koloni egois bersatu bentuk gugusan awan. Bagi kami, berjalan menembus kabut sama halnya dengan aksi menembus awan di langit, asyik kan?

Langit mulai gelap. Ini khas gunung Arjuno. Ketika sore menjelang, kemungkinan cuaca buruk adalah besar.

Hlapp...hlapp...Krakkkk....Bledarrr.......

Suara petir dan gemuruh bersamaan, pertanda sambarannya dekat sekali, hampir tiada jeda rambat gelombang cahaya dan suara.

Hlappp...hlapp...krakkk...bledarr....

Sekali lagi menyambar, jeda 10 detik. Wahai kawan bersabarlah. Berdirilah tegar, petir berpihak kepadamu, dia juga penjaga kesuburan bumi!

"Tim Wilderness kontak, lapor memasuki kawasan Watu Gede, ganti", interupsi Leo di depan mikrofon pesawat komunikasi Handy Talkie. Leo melaporkan posisi tim ke basecamp Tretes.

“Di-copy, siap pantau pergerakan,” respon terdengar dari speaker Handy Talkie Leo.

Itulah prosedur operasi pendakian standar. Setiap pergerakan yang signifikan, terutama cuaca mulai buruk harus selalu lapor posisi dan koordinat. Agar terpantau jika terjadi lost contact ataupun berstatus sebagai survivor yang hilang. 

Tiba-tiba terdengar Lucid berdendang mistis di belakang Leo. Biasa, efek dari habisannya kudapan kesukaannya.  Kripik kentang! Mulutnya pun lacur tanpa ampun,

Korporat keparat

Perampas hutan penuh siasat

Ibu bumi sekarat

Hatimu berkarat.

Entah karena apa tetiba Lucid emosional di Watu Gede. Yang pasti berusaha untuk tetap tegar melangkah.

Fasih berkhotbah pelestarian baginya tak dibutuhkan, mending puisi-puisi hijau yang gahar sambil diiringan praktek nyata di lapangan. Tak peduli khutbah itu disisipi kata-kata yang dibawa dari alam Malakut ataupun alam Nasut. 

 "Lumeennn..…," teriaknya.
"Ya..…”

“Cepatlah”

“Ok”

Lumen jauh di belakang, sedang Lucid melaju di depan untuk kali ini. Lumen mengernyitkan matanya. Melawan nakalnya kabut liar yang menggurat-gurat bayangan Lucid. 

Lebih jauh di belakang sana, nampak temannya santai-santai saja menggotong papan informasi dan sebagian lainnya berbagi bawa peralatan. Titik terakhir operasi mereka adalah Watu Gede.

"Wuhhh.. gak jelas tubuhmu Lucid," Lumen mulai kacau juga, asem, kadang erotisme muncul tanpa permisi. Kemudian terjadi percakapan interpersonal antara Lucid dan Lumen, entah apa yang dibicarakan, kadang terdengar sayup, Lucid terisak. Ada apa gerangan?

Sementara Jono, anggota paling malas mencoba membaktikan diri dengan membuat galian untuk papan terakhir. Jono tak sudi memasang papan itu langsung di batang pohon. Memakunya adalah melukainya. Melukainya berarti meninggalkan bekas codet kambium. Bopeng bak lubang-lubang kawah rembulan, seperti hatimu yang terluka oleh cinta, dalam banget.

Dua puluh menit kelar sudah pekerjaan tersebut. Hujan ringan mulai turun. Mereka bersiap dengan jas hujan. Bergegas turun kembali ke perkemahan lembah Kijang. Watu Gede adalah area petir, sudah banyak korban. Awan-awan rendah seperti awan stratokumulus. banyak berkumpul di atasnya.

“Leo, handphone-mu masih penuh dayanya?” tanya si Lucid setelah menjauh dari area petir. 

“Wah habis Cid, tadi saat perjalanan ku pakai online, upload kegiatan kita. “

“Ah dasar narsis!”

“Heeee…Cid, itu bukan narsis tapi taktikal!”

“Taktikal apaan!”

“Heee…Cid, dengan upload maka kita sudah meninggalkan jejak digital. Apabila kita ada kendala semisal tersesat atau sejenisnya, kerabat dan teman kita punya record posisi kita di media sosial,” bela si Leo.

“Ini pakai punyaku,” tawar Lumen. Ia pun mengulurkan handphone nya ke Lucid.

“Makasih.”

“Ku ingin kabar dari rumah, bapakku sakit, sudah tiga hari di rumah sakit,” terangnya.

Kemudian si Ardi dengan sigap mengajak Lucid posisi dimana sinyal maksimal terkumpul kuat. Adalah hal langkah sinyal kuat di area sub montana. Si Ardi jago cari area sinyal. Bahkan sangat hafal, sudah berkali-kali parkir di tempat sinyal tersebut. Bukan karena apa, sebab ia kena wajib lapor ke pacarnya!

“Beberapa jaringan seluler mampu gentayangan titik ini,” jelas Ardi ke Lucid. Ardi juga sering lalu-lalang di sini, sebagai porter pendakian.  

“Tapi dengan syarat bebas kabut Cid,” katanya lagi.

“Signal bar-nya kok ngos-ngosan, Ar? Kisaran 100 dBm, cukupkah? Lucid terheran.

“Bisa, bercakapanlah singkat padat” jawab si Ardi.

“Kalau untuk bercakap merayu Lumen, ya putus-putus dong hahahah,” Goda Ardi.

Posisi yang ditandai Ardi ini sungguh strategis bagi pendaki yang tak membawa handy talkie. Jika sewaktu-waktu memerlukan bantuan status darurat, bisa via telpon genggam. Setelah kelar menelpon, mereka lanjut menuruni trek. Dengan selamat akhirnya tiba di perkemahan lembah Kijang. 

"Lumen, banguunn !!!" teriak Lucid dari luar tenda. Hmm sekarang perhatian banget ya. Ini adalah hari terakhir aksi reboisasi dan pengumpulan sampah di lembah Kijang. Sejenak Lucid berdiri mematung. Merogoh kantong jaket palka goretex nya. Mengambil secarik kertas yang terbungkus plastik kusam. 

Tampak ia sedikit mengatur fotoreseptor retina matanya. Mengumpulkan sinar untuk membaca sebuah tulisan di remang jelang subuh ke tiga. Lucid terisak dan gemetar membaca kertas tersebut.

Sejurus kemudian Lucid dikagetkan langkah Lumen. Oh sudah bangun rupanya. Sorot headlamp-nya jatuh tepat di lembaran kertas si Lucid. Lumen tersentak membaca titik koordinat yang tertulis di kertas Lucid. Dua bulan yang lalu ada seorang pendaki hilang di titik koordinat yang tertulis di kertas kusam Lucid itu.

“Kau simpan koordinat itu Cid?” Lumen berkaca-kaca. Ia pernah bergabung dalam operasi SAR pencarian si korban, nihil. Sudah dikerahkan 300 personil SAR dan potensinya. Alam mengambilnya. Semoga damai, rest in peace. Titik koordinat itu adalah Watu Gede kemarin!

Tiba-tiba dalam hitungan detik, semua sudah berkumpul atas perintah Lumen sang ketua. Mereka membentuk barisan solat subuh. Setelah salam, Lumen, Lucid, Angga, Ardi, Katerina, Nisa, Leo, Andra, Jono dan Lolita berdiri membentuk lingkaran saling berangkulan. Memang benar hari ini program reboisasi dan pembersihan sampah berakhir. Tapi takdir menentukan lain.

“Kawanku, kawan hijauku, kau yang merah, biru, kuning, hitam dan wajah pelangi lainnya, hari ini kita rasakan ledakan elegi si Lucid yang terkenang adiknya, survivor yang hilang kontak….” mata Lumen membanjir, tak kuasa meneruskan kata-kata. 

Pun begitu yang lain terisak tanpa perintah. Mereka paham beban berat Lucid akan adiknya yang hilang di Watu Gede dua bulan yang lalu. Mungkin itu yang menjadi percakapan interpersonal antara Lumen dan Lucid saat pasang papan informasi dekomposisi kemarin sore di Watu Gede. Yang juga membuat Lucid emosional berdendang mistis.

"Kawanku, kita harus sepakat untuk menambah satu hari lagi. Besok kita naik ke Watu Gede. Di sana tepat disamping papan kemarin, kita akan buat sebuah prasasti inmemoriam sederhana untuk mengenang adik Lucid” Lumen terisak lagi, lebih hebat, beriringan dengan meronanya langit timur serta bersatunya hati-hati mereka yang mulia.

*Karya Unggulan Terpilih Lomba Cipta Cerpen Bumi Raya Kultura-ICLaw Green Pen Award 2019

Artikel Terkait