Sehabis sembahyang malam itu, aku duduk di atas lantai untuk termenung. Ya, termenung.

Termenung adalah salah satu hal yang kusukai selain buang air dan berjalan-jalan sore. Aku akan termenung lama untuk merenungkan hal-hal abstrak yang terurai dan bertebaran di pikiran gaduhku. 

Aku memang sering bingung dengan hal-hal aneh. Dan memang orang kadang-kadang menyebutku aneh, tapi aku tak peduli.

Tahukah kalian apa makna dari semut dan hidup, terkadang aku bertanya itu. Di lain waktu aku akan menanyakan mengapa manusia bergerak dan mengapa siput berjalan lambat. Di lain waktu lagi aku juga bertanya mengapa seorang utusan dimuliakan. Ya, memang aneh. 

Sekarang, sambil duduk sila menghadap jendela kamar, aku merenungkan hewan-hewan di bumi. Mengapa mereka diciptakan. Mengapa mereka hidup di sebuah dimensi yang berbeda. Mengapa mereka seperti ini, seperti itu. Aku belum menemukan jawabannya, tapi aku sedang mengusahakannya. 

Di tengah perenungan itu, lambat-laun terdengar suara berdengung yang mengganggu. Lama-kelamaan suara itu menjadi sangat mengesalkan, karena dengungan itu berputar-putar di atas kepalaku, telinga, dan tubuhku. 

Dengungan itu semakin menjengkelkan ketika semakin meracau, dan ternyata seperti yang kusadari bahwa itu berasal dari seekor lalat hijau yang beterbangan tanpa bisa kulihat secara jelas wujudnya.

Lalat memang selalu mengesalkan. Mereka pengganggu busuk yang menjijikkan. Mereka terbang dengan sangat cepat, agar proses mengganggu makhluk-makhluk lain semakin menyenangkan, pikirku.

Seketika itu, aku bertanya-tanya lagi mengapa lalat selalu mengganggu. Khususnya mengganggu ras manusia seperti diriku. Padahal aku sudah mandi, kamarku bersih dan wangi, dan tak ada sedikitpun unsur jorok atau kotor di sekitarku.

Tapi kupikir saat itu lalat memang benar-benar makhluk bodoh. Mereka berterbangan secara acak ke sana-kemari untuk hal yang kukira tidak jelas. 

Karena merasa terganggu dalam perenungan ini, dan mengacaukan proses pemikiran ini, aku ambil sapu lidi di samping ranjangku, lalu dengan kesal mengibas-kibaskannya di sekitar kamar agar mati binatang biadab itu. Ia terlalu cepat, sialan. Aku belum bisa menjangkaunya.

Ah! Lalat bangsat! Sudah satu jam aku mengibas-kibaskan sapu lidi itu, tapi lalat brengsek itu masih saja berputar-putar di sekitarku dan berdengung dengan menjengkelkan. Setidaknya ia takut dengan ancaman sapu lidi ini, tapi tidak. Mungkin ia kehabisan bangkai atau sampah, jadi manusia bersihlah seperti diriku yang dijadikan sasaran utamanya sekarang.

Tapi itu tidak rasional, lalat adalah makhluk jorok, mengapa ia mengincarku? Mengapa ia menggangguku? Baiklah, aku akan membersihkan diri lagi sekarang, lalat bangsat. Aku akan mandi sampai sangat bersih.

Selesai mandi, tubuhku sudah sangat bersih dan wangi. Saat keluar kamar mandi, kupikir lalat itu sudah pergi untuk mencari bangkai atau sampah ke luar rumah, tapi ternyata tidak. Ia menungguku di luar kamar mandi dan mulai berdengung seperti setan jahanam lagi. Sialan lalat ini. Aku kibaskan tanganku ke sana-kemari, tapi ia masih saja mengikutiku. 

Aku pergi ke kamar, menutup pintu, jendela dan mematikan lampu agar lalat itu tidak bisa mengikutiku lagi. Aku bersembunyi di balik selimut, dan ternyata berhasil. Beberapa menit dalam selimut, tidak terdengar dengungan menyebalkan itu lagi. Kubuka selimutku, dan ternyata lalat itu masih berseliweran di atas tubuhku.

Bangsat! Kututup selimutku lagi, dan ia masih berdengung dan berterbangan di sekitarku. Karena saking kesal, lelah, dan bertanya-tanya mengapa ia mengikutiku, aku memilih untuk tidur di balik selimut yang membuatku gerah. Ya, sangat gerah karena hawa tidak dingin, bahkan panas. Aku mulai memejamkan mata, tapi dengungan itu masih menghantuiku.

___

Aku dibangunkan oleh suara lalat itu. Aku tidak terlalu terkejut, tapi semakin lama suara itu semakin membuatku takut. Aku membuka mataku, dan aku merasakan sesuatu hinggap di jidat bagian kananku. Saat itu suara lalat menghilang dan kembali, hilang lagi dan kembali lagi. Lalu aku sentuh jidat kananku dengan jari telunjuk, dan ternyata yang baru hinggap di sana adalah lalat sialan yang mulai berterbangan lagi di atas kepalaku. 

Di bagian yang baru dihinggapinya, kulit telunjukku merangsang bentuk sebuah lubang. Ketika kulihat jari telunjukku, di sana ada darah. Terkaget dengan hal itu, aku bangun dan langsung menghadapkan wajahku ke cermin.

Di sana, di jidat bagian kanan, terdapat lubang kecil yang mulai mengeluarkan darah dan memperlihatkan bagian dalam kepalaku. Aku yakin lalat penganggu itu yang melakukan hal menjijikkan ini. 

Tadinya tidak terasa sakit, tapi setelah melihatnya baik-baik, rasa sakit itu mulai terangsang. Kuambil selembar tisu untuk mengusap darah yang terus mengucur. Kusentuhkan tisu itu, dan berusaha menahan darah yang mengalir.

Tisunya cepat menyerap dan kemudian kuganti dengan lembar tisu yang lain. Yang paling menggangguku kali ini bukan hanya si lalat, tapi sebuah pertanyaan mengapa lalat itu menggangguku dan mulai melubangi kepalaku padahal aku makhluk yang bersih.

Kuperban lubang itu agar yang pertama darah tidak mengucur lagi, yang kedua agara kelak bisa sembuh, dan yang ketiga agar lalat itu tak memakani atau meneruskan lubang ini lagi semakin dalam. Karena sudah cukup lelah, kubiarkan lalat ini megikutiku dan berterbangan di sekitarku, meskipun hal ini sangat-sangat menjengkelkan. Yang paling tak kubiarkan saat ini adalah ia hinggap di kepalaku atau tubuhku, karena ia akan mulai menggerogotinya. 

Pertanyaan-pertanyaan yang lalu masih saja belum terjawab. Lalat ini membuatku tersiksa secara mental dan jasmani. Saat keluar rumah untuk jalan-jalan sore, ia masih berdengung di sekitarku. Aku mengibas-kibaskan tangan agar ia tidak hinggap di kelapaku. Hal ini terus saja terjadi sehingga orang-orang di sekitar mulai melihatku dengan tatapan aneh.

“Hei, apa yang terjadi?” seorang tetangga bertanya.

“Ada seekor lalat yang selalu mengikutiku. Ini sangat menjengkelkan. Bahkan ia pernah sekali menggerogoti jidat bagian kananku. Lihat ini,” kataku sambil memperlihatkan perban di jidadku.

“Sepertinya tidak ada lalat yang terbang di sekitarmu. Apakah kau mabuk?” ia melihatku dengan heran.

“Tidak, aku tidak mabuk. Tidak cukupkah penjelasan ini? Lalat memang sulit dilihat sesekali, tapi perhatikanlah saksama, ia masih mendengung di sekitarku. Ini menjengkelkan.” Tak lama setelah itu, ia pergi menghindar. Mungkin ia tak mau lalat itu berpindah kepadanya, jadi ia buru-buru pergi.  

___

Malam ini aku mengurung diriku lagi dalam selimut. Pengap menyerangku lagi. Keringatku bercucuran karena pengap dan ketakutan. Dan lalat itu masih saja berkeliling di atas selimut. Dengungannya mendayu-dayu seperti lantunan sinden dari radio kakek yang selalu dinyalakan di malam hari.

Dengungannya menjadi sebuah hal mistis dan misteri dalam kepengapan udara yang tidak bisa dibendung. Dengungannya adalah sebuah kutukan yang menjalar ke telingaku, yang masuk ke dalam otakku, dan akan selalu kuingat hari-hari ini dalam memori sejarahku. 

Akan kuceritakan ke anak-anakku kelak untuk membunuh semua lalat di bumi, agar mereka tak lagi mengganggu manusia dan makhluk lain. Bukan hanya dengungannya, lalat itu pun kutukan dari alam. Ia adalah sebauh refleksi gila yang dibuat oleh konstruksi absurd. Lalat itu adalah perwujudan iblis. Ia adalah iblis.

Kubuka selimut itu untuk menghirup udara, tapi yang kuhirup adalah bau bangkai yang ditolak oleh hidungku. Yang kulihat di sekitarku adalah sebuah absurditas. Ternyata wujud lalat itu sudah berubah dan jumlahnya bukan hanya seekor. Mereka berkerumun dengan berbagai macam bentuk. Maksudku, mereka masih dalam ukuran lalat biasa, tapi… 

Seekor lalat memiliki tubuh macan kumbang, yang lainnya berkepala harimau dengan tubuh lalat, yang lainnya berwujud manusia dengan sayap dan dengungan lalat, yang lainnya berkepala diriku dan berbadan lalat, yang lainnya mempunyai kepala Enstein, yang lainnya berkepala televisi, yang lainnya bertubuh sebuah mobil, yang lainnya bertubuh lobster berkepala semut, yang lainnya bertubuh lemari berkepala katak, dan bentuk-bentuk lain yang belum bisa kuterjemahkan dalam pikiran. 

Mereka semua berterbangan acak. Mereka mengerumuniku seakan aku bangkai. Satu-persatu mulai menghinggap di kepalaku, dan tidak ada yang menghinggapi tubuhku. Seakan hanya kepalaku yang bangkai.

Wajahku dikoyak-koyak. Darah bercucuran membasahi kepala dan wajahku hingga menetes-netes ke piyamaku. Aku mencoba mengusir makhluk-makhluk jahanam ini. Aku kibaskan tanganku secara acak, tapi tidak berhasil.

Dengan pandangan yang mulai tak jelas, kuambil sapu lidi di samping ranjang, dan mulai untuk memukuli mereka. Tidak satu pun yang mati, tidak satu pun yang kena gibasan kencang sapu lidi. Padahal aku juga sudah memukuli wajahku agar mereka tidak menghinggap di sana. Sialan! Makhluk bajingan! Lalat-lalat itu mulai menggerogoti kulit, rambut, dan dagingku. 

Sebenarnya tidak ada rasa sakit, tapi mereka menjengkelkan. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku mengaduh dan menggampar-gampari wajah dan kepalaku. Tapi mereka belum juga pergi. Dengungan mereka bertambah kencang, seperti teriakan pesta di malam hari raya.

Aku berlari ke luar rumah agar mereka tidak mengerumuniku lagi, tapi mereka masih saja mengejarku. Aku masih terus berlari sampai ujung komplek dan menemukan sungai. Kuceburkan diriku di sungai tersebut, dan sudah pasti lalat-lalat aneh itu tidak akan bisa ikut berenang.

Tapi sayang, lalat-lalat itu memang terlahir aneh dan satu persatu mengikutiku ke dalam sungai. Mereka mengerumuniku lagi seakan aku santapan bagi ikan-ikan piranha. Mereka mencabik kulit kepala dan wajahku, menggigiti dagingku, dan menelannya dengan lahap. Darah bersatu dengan air sungai. Mereka mencoba membunuhku.

___

Aku masih bisa mendengar mereka. Aku masih bisa mendengar orang-orang itu membicarakanku.

“Ia memang gila…”

“Ia menceburkan diri malam itu sambil berteriak-teriak,”

“Kemarin ia bercerita kepadaku bahwa ada lalat yang berterbangan di sekitarnya,”

“Katanya karena ia sering merenung,”

“Tapi intinya ia bunuh diri atau apa?”

Mereka tidak benar-benar tahu apa yang terjadi. Mereka tidak benar-benar mengerti tentang diriku. Mereka memang tidak bisa menyadari kehadiran lalat-lalat brengsek itu. 

Saat ini tubuhku tergeletak di pinggir sungai, dan sudah tidak bernafas. Aku juga tidak tahu bagaimana aku masih bisa mendengar.

Tapi yang terpenting saat ini adalah aku jadi mengerti bahwa tidak ada yang benar-benar paham akan hidup dan diriku. Padahal sering kali juga aku membagikan kepada yang lain tentang apa yang kurenungkan, tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan. 

Kulihat lalat-lalat lain mulai mengangkat otakku ketika selesai menggerogoti kepalaku dan membelahnya. Mereka membawanya bersama. Dan dengan seketika, aku ikut membawa otak itu dan ikut terbang mersama mereka.