Sebagian orang urung melakukan suatu pekerjaan/kegiatan karena merasa kondisi yang dia hadapi belum mendukung apa yang akan dia lakukan tersebut. Dia berpikir, kondisi yang menurutnya belum ideal akan membuat apa yang dilakukan menjadi sia-sia atau tidak berhasil. 

Menurutnya, agar sesuatu bisa dilakukan dengan baik dan menghasilkan hasil yang diharapkan, maka semua situasi harus dalam kondisi ideal. Pemikiran seperti ini kurang tepat, bahkan banyak hal yang justru tidak jadi dilakukan karena pola pikir seperti itu.

Jangan terlalu banyak berpikir atau menunggu kondisi ideal untuk memulai sesuatu, lakukan saja. Tidak ada waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang Anda pikirkan selain sekarang, besok sudah ‘basi’, begitu kata anak sekarang. 

Kalau sudah dimulai, maka pikiran akan terus mencari jalan agar apa yang dilakukan tersebut berhasil baik, kalaupun kegagalan yang terjadi, tidak ada masalah, bangkit dan mulai lagi. Bagaimana kalau gagal lagi? Ya bangkit lagi, begitu seterusnya.

Ingat, orang berhasil itu bukan orang yang tidak pernah gagal, tapi dia adalah orang yang selalu bangkit setiap mengalami kegagalan. Jika jumlah bangkitnya satu kali lebih banyak dari jumlah gagalnya, maka dia akan menjadi orang berhasil. Orang gagal adalah orang yang berhenti setelah mengalami kegagalan.

Sebut saja seorang yang ingin menikah. Keinginan dan niat sudah ada, tapi pertimbangannya terlalu banyak, sehingga sampai sekarang pernikahannya belum terealisasi. Saya bukan mengatakan tidak perlu pertimbangan untuk menikah, tapi jangan sampai menunda pernikahan hanya karena menunggu kondisi menjadi ideal untuk menikah. 

Jangan terlalu memikirkan hal seperti merasa belum cukup penghasilannya, belum baik pekerjaannya, belum cukup tabungannya dan hal-hal lain yang sebenarnya bisa disesuaikan sambil dijalankan.

Contoh lain misalnya seseorang yang ingin bisa menulis. Hasrat untuk bisa menulis sudah ada di dalam dirinya, dan dia belum memulai karena terlalu banyak pertimbangan. Dia berpikir belum memiliki waktu yang banyak untuk menulis, karena menurutnya waktu luang mutlak ada agar bisa menulis dengan baik. 

Pikiran lain mengatakan untuk bisa mulai menulis, maka dia harus mengikuti kelas menulis terlebih dahulu dan pikiran pikiran lainnya. Percayalah kawan, tidak ada waktu yang tepat untuk memulai sesuatu selain sekarang. Mulai saja dulu, nanti yang lain akan mengalir sendiri.  

Saya teringat sebuah cerita lawas tentang seorang pengusaha sepatu yang meminta dua orang karyawan di perusahaannya untuk pergi ke suatu wilayah, memasarkan sepatu produksi mereka. Sebut saja dua marketing itu sebagai si A dan si B. Pada kesempatan pertama, si pengusaha tersebut meminta si A untuk berangkat ke sebuah kerajaan, sebutlah Kerajaan LIKE namanya. 

Sesampainya si A di kerajaan tersebut, dia mendapati fakta bahwa tidak ada satupun rakyat dari Kerajaan LIKE tersebut yang pakai sepatu. Ke manapun dia melangkah di kerajaan itu, selalu orang tanpa sepatu yang dia temui. Si A mulai ragu, dia berpikir mana mungkin dia bisa memasarkan sepatu, di mana tidak ada seorang pun menggunakan sepatu.

Dia mulai berpikir bahwa bosnya salah mengutus dia memasarkan  sepatu di tempat orang tidak mengenal sepatu, dia yakini kondisi saat itu tidak tepat dan segudang alasan lainnya yag mendukung pendapatnya tersebut. Hal yang ada di kepalanya hanya merujuk pada ketidakmungkinan bisa memasarkan sepatu di kerajaan itu. 

Akhirnya, karena dia terlalu banyak berpikir, maka dia tidak melakukan apapun di kerajaan tersebut. Singkat cerita akhirnya dia pulang dan berkata bahwa dia tidak bisa memasarkan sepatu di kerajaan tersebut, karena tidak ada seorangpun yang mengenal sepatu di sana.

Bulan berikutnya, si pengusaha mengutus si B untuk pergi ke tempat yang sama, yaitu Kerajaan LIKE untuk memasarkan sepatu. Sesampainya di kerajaan tersebut, fakta yang sama ditemui si B, yaitu tidak ada seorang pun yang menggunakan sepatu. 

Cara pandang yang dipakai si B bertolak belakan dengan cara pandang si A, dia berpikir bahwa itu adalah kesempatan emas untuk bisa memperkenalkan sepatu di kerajaan tersebut. Bayangkan betapa besar pasar yang akan dia dapatkan dengan memasarkan sepatu di sana, begitu dia mulai berkhayal.

Ide demi ide mulai mengalir di kepalanya, dia mulai berkenalan dengan warga Kerajaan LIKE itu dan memperkenalkan sepatu sebagai alat yang sangat canggih di masa itu untuk menjaga kaki dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dia mulai bercerita, jika menggunakan sepatu, maka orang bisa berlari lebih cepat dari biasanya, karena kaki terlindung dari pijakan keras jika berlari tanpa sepatu. 

Akhir cerita, si A pulang dengan sukses besar karena bisa memasarkan sepatu dalam jumlah bbesar di kerajaan itu

Bisa melihat perbedaan dari si A dan si B? Benar, si A terlalu banyak berpikir, sehingga tidak melakukan apapun, sedangkan si B tidak banyak pertimbangan. Dia mulai apa yang memang harus dimulai, dan ide-ide mengalir untuk mendukung apa yang sudah dia mulai tersebut.

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita tadi adalah untuk melakukan sesuatu hal, jangan menunggu sampai kondisi ideal dulu, mulai saja. Tidak ada kondisi ideal untuk memulai suatu hal, yang ada adalah sesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Lakukan saja, maka pikiran akan mencari cara agar apa yang sudah dimulai tersebut bisa berjalan dengan baik. Selain itu, tetap mencoba setiap mengalami kegagalan.