Walaupun manusia hidup di dunia ibarat sekadar mampir ngombe, tetapi tetap saja, seringkas apa pun sebuah perjalanan hidup, pasti akan menemui sebagian dari getirnya kehidupan.

Banyak macam dan jenis kegetiran dalam kehidupan ini. Semisal gaji bulanan yang tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari akibat tunggakan utang, atau jatah bulanan anak kos yang habis karena mentraktir pacar dan teman padahal masih tengah bulan.

Jika saja dengan mengikuti arus, masalah dapat terselesaikan dengan sendirinya, mungkin manusia dapat sedikit lebih relate terhadap petuah hidup hanya sekadar mampir ngombe. Dengan begitu, mereka mampu bersikap santai. 

Namun kenyataan menunjukkan beberapa permasalahan datang dengan membawa pilihan solusi yang dilematis. Pilihan solusi yang dilematis inilah biang dari kegalauan manusia, sehingga seakan-akan mereka sedang tercebur dalam kegetiran dunia.

Terdapat dua kecenderungan umum manusia ketika menemui masalah dengan membawa pilihan dilematisnya: pertama, membusungkan dada dan menghadapinya dengan gagah berani; kedua, melarikan diri dari masalah.

Hampir semua orang menyetujui bagaimana buruknya kecenderungan kedua. Sadar atau tidak, ternyata kecenderungan kedua muncul dari alam bawah sadar yang terbentuk oleh kebiasaan buruk di rumah.

Berikut akan dijabarkan apa saja kebiasaan buruk yang sering dilakukan seseorang ketika berada di rumah sehingga memperkuat kecenderungan untuk melarikan diri dari masalah.

1. Tidak Terbiasa Mencuci Peralatan Makan yang Baru Saja Dipakai

Kamu dan aku tidak akan bisa bertemu tanpa menyimpan cadangan makanan dalam tubuh. Hal tersebut disebabkan lantaran aku dan kamu merupakan salah satu spesies makhluk hidup yang berada di bumi. Semua makhluk hidup di bumi membutuhkan asupan energi agar mampu bergerak, begitu juga manusia.

Sayang, terdapat beberapa orang yang berperilaku kontradiktif dengan tidak mencuci peralatan makan yang baru dipakainya ketika berada di rumah.

Bukankah manusia seharusnya makan dengan tujuan memperoleh energi agar mampu menyelesaikan setiap permasalahan hidupnya? Peralatan makan yang baru dipakai juga merupakan sebuah permasalahan yang harus segera diselesaikan.

2. Tidak Terbiasa Merapikan Tempat Tidur Setelah Digunakan

Satu lagi aspek pemulih energi yang tidak akan mampu manusia tinggalkan, yaitu tidur. Bagi beberapa orang, waktu tidur merupakan harta karun. Hal ini disebabkan oleh seringnya jam lembur yang didapat.

Bahkan pernah diadakan wawancara kepada para militan lembur tersebut oleh salah satu chanel YouTube Indonesia. Mereka menyatakan waktu 24 jam sehari tidaklah cukup bagi mereka. Kalau boleh, mereka ingin waktu per harinya ditambah sedikit lebih lama lagi agar dapat digunakan untuk tidur. 

Beberapa lagi tergolong dalam kaum rebahan. Biasanya mereka adalah mahasiswa kos-kosan. Rebahan sendiri awalnya merupakan sebuah gagasan untuk memelihara diri. Para militan lembur pun juga mendambakannya. 

Tetapi terdapat hal yang terlewat oleh sebagian orang, yaitu kualitas keadaan ruangan istirahat berpengaruh besar bagi proses pemulihan diri. Jadi jangan lupa dirapikan ruangannya ya, agar tidak bertambah masalah hidupnya dan dapat segera menyelesaikan permasalahan hidup lain yang masih mangkrak.

3. Tidak Terbiasa Mencuci Pakaiannya Sendiri

Manusia merupakan makhluk sosial. Jadi mau tidak mau, mereka harus memperhatikan sistem moral yang dianut oleh masyarakat tempatnya tinggal. Dewasa ini, hampir seluruh lapisan masyarakat di dunia menggunakan pakaian sebagai perwujudan sistem moral yang telah dibangun. 

Jadi segera cuci pakaianmu sebelum kehabisan persediaan dan menambah masalah dalam hidupmu. Ingat, jangan pernah memilih untuk berdiam diri dalam rumah dan bertelanjang ketika kehabisan persediaan pakaian tanpa segera mencucinya!

4. Menunda/Berhenti di Tengah Jalan Ketika Menyelesaikan Pekerjaan Rumah

Inilah yang terpenting, inti dari segala keberlangsungan hidup, termasuk hidup di rumah. Segala laku yang telah disebutkan di atas tidak akan berdampak besar tanpa konsistensi.

Tulisan ini tidak memaksa kalian untuk ngoyo, kalau lelah boleh istirahat kok. Terpenting yang harus direnungkan adalah bagaimana memilah mana yang harus dijadikan prioritas terlebih dahulu.

Jangan terlena dengan kesenangan sehingga melupakan kewajiban. Dalam studi psikologi, hal tersebut disebut dengan prokrastinasi. Jalaluddin Rumi pun pernah mewanti-wanti agar kita selalu fokus dengan berkata kurang lebih seperti ini; “Ketika seseorang meniatkan melakukan sesuatu di suatu tempat, tetapi ketika telah berada di tempatnya berpaling fokus melakukan sesuatu yang lain, maka seseorang tersebut sama saja dengan tidak melakukan apa-apa.” 

Untuk lebih memahami wejangan Jalaluddin Rumi, maka artikel ini akan mencantumkan sebuah contoh: ketika sekelompok pelajar berpamitan kepada para orang tuanya untuk mengerjakan tugas kelompok, tetapi sesampainya di tempat yang telah disepakati sebagai basecamp pengerjaan tugas, mereka berpaling dari niat awal dan malah bermain bersama.

Sebentar, sebelum tulisan ini berakhir, terdapat satu topik yang harus dicantumkan, laku itu apa sih? Kalau dilihat dari isi artikelnya, malah menjelaskan tentang kebiasaan buruk di rumah yang secara alam bawah sadar membentuk kecenderungan untuk melarikan diri dari masalah. Apakah laku sama dengan kebiasaan? Ya, benar secara harfiah.

Tetapi dalam kajian sosio-historis masyarakat Jawa, konsep laku tidak sesederhana konsep kebiasaan. Bagi leluhur masyarakat Jawa, selain cara untuk mencapai cita-cita, laku juga merupakan cara meminta restu terhadap Tuhan.

Mereka melakukan satu kegiatan secara konsisten dan terus-menerus sampai apa yang mereka cita-citakan tercapai sembari berharap Tuhan merestui cita-cita mereka. Bentuk laku bermacam-macam, bisa dengan berpuasa atau selalu berkata jujur, atau kegiatan lainnya yang mampu mengantarkan mereka mencapai cita-cita. Ringkasnya, laku adalah perwujudan idealisme para pelakunya.

Jadi apa poin dari artikel ini? Jangan melarikan diri dari masalah. Kalau memang menghadapi pilihan yang berat, tetaplah tegar dan sekali lagi jangan melarikan diri dari masalah dengan mengalihkan perhatianmu terhadap hal lain; fokuslah! 

Untuk mencapai kepribadian seperti itu, maka artikel ini menawarkan sebuah laku, yaitu kerjakan pekerjaan rumahmu secara mandiri.